Polri Ungkap Rencana Peledakan Bom Istana Presiden dari Terduga Teroris Bandung

Indonesia Police Uncover Alleged Plot to Bomb Presidential Palace

Editor : Ismail Gani
Translator : Novita Cahyadi


Polri Ungkap Rencana Peledakan Bom Istana Presiden dari Terduga Teroris BandungFoto: istimewa

POLRI pada Selasa menahan lima orang terduga teroris dan menyita bahan baku kimia untuk membuat bom di rumah kontrakan di Kota Bandung, dan mereka berencana melakukan aksi peledakan bom di istana kepresidenan pada akhir Agustus.

Dari lima tersangka, dua di antaranya adalah pasangan suami istri, pernah dideportasi dari Hong Kong karena diduga menyebarkan ajaran radikalisme dan mereka telah mempelajari teknik pembuatan bom melalui sebuah situs web yang dikelola warga Indonesia yang diyakini bergabung dengan ISIS di Suriah, kata polisi.

Indonesia, negara berpenduduk mayoritas Muslim terbanyak di dunia, menjadi target serangkaian serangan skala kecil yang terinspirasi oleh ISIS, namun sebagian besar telah direncanakan dan dieksekusi secara amatir, dengan menggunakan senjata rakitan yang telah menelan sejumlah korban tewas termasuk personel polisi.

Penggeledahan dilakukan Unit Jibom Polda Jawa Barat bersama tim Inafis Polrestabes Bandung serta Densus 88 Antiteror, Selasa. Beberapa objek vital nasional yang menjadi sasaran lima terduga teroris ini salah satunya adalah Istana Presiden RI.

"Ini mungkin pertama kalinya metode semacam itu digunakan di Jawa Barat, yang melibatkan bahan kimia yang sangat berbahaya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Yusri Yunus, menambahkan bahwa beberapa toko telah menolak untuk menjual bahan kimia tersebut kepada para tersangka.

Yunus tidak menjelaskan bahan kimia atau rencana untuk menyerang istana kepresidenan.

Tim Densus 88 yang menemukan bahan kimia dalam aksi penggerebekan di sebuah rumah di Jl Jajaway, Kelurahan Antapani Kidul, Kecamatan Antapani, Kota Bandung mengatakan mereka mengalami sensasi terbakar dan kemerahan pada kulit mereka saat mereka memasuki rumah seperti dikutip Reuters yang dilansir MailOnline.

INDONESIAN police on Tuesday arrested five suspected Islamist militants and seized chemicals near the capital, Jakarta, that they said were being used to make bombs for attacks on the presidential palace at the end of August.

Two of the five, a husband and wife, had been deported from Hong Kong for allegedly spreading radical ideology and the group had studied bomb-making techniques through a website run by an Indonesian believed to be fighting with Islamic State in Syria, police said.

Indonesia, the world's most populous Muslim-majority nation, has seen a series of small-scale attacks inspired by Islamic State, but most have been amateurishly planned and executed, using basic homemade weapons that have caused few deaths and minimal damage.

Police have been concerned about suspected militants getting more sophisticated after twin pressure cooker bombs killed three police at a Jakarta bus station in May.

"This is perhaps the first time such a method has been used in West Java, involving very dangerous chemicals," said provincial police spokesman Yusri Yunus, adding that several stores had declined to sell the chemicals to the suspects.

Yunus did not elaborate on the chemicals or the plan to attack the presidential palace. West Java is just to the east of Jakarta.

Counter-terrorism police who found the chemicals in a raid on a house in Bandung, 120 km (70 miles) southeast of Jakarta, said they experienced a burning sensation and redness on their skin when they entered the house.