Restoran untuk Mereka yang Bernyali, Sajian Utamanya Aneka Serangga

The Bangkok Restaurant that Serves Insects to Fearless Diners

Editor : Ismail Gani
Translator : Novita Cahyadi


Restoran untuk Mereka yang Bernyali, Sajian Utamanya Aneka SeranggaRavioli dengan kepiting dan rusa air raksasa, salad dengan jangkrik dan kerang goreng dengan ulat bambu yang renyah - menawarkan alternatif hidangan daging tradisional (Foto2: MailOnline)

MEREKA dikenal sebagai hama tanaman, hewan pengganggu yang menjijikkan - atau tampil dalam kisah nyata di televisi.

Namun, menurut salah satu restoran di Thailand, daging hewan ini menjadi menu pilihan baru bagi para 'petualang kuliner' di ibukota negara tersebut.

Restoran unik tersebut, yang dinamai Insects in the Backyard, mengklaim sebagai restoran fine dining pertama di Bangkok - dan populer di kalangan penduduk dan wisatawan.

Berlokasi di Chang Chui - sebuah distrik di Bangkok barat yang dilengkapi dengan toko kaset dan perancang busana lokal - yang dipesan secara teratur dan mendapat tanggapan positif dari kritikus restoran.

Sebagian karena keragaman hidangan - termasuk ravioli dengan kepiting dan rusa air raksasa, salad dengan jangkrik dan kerang goreng dengan ulat bambu yang renyah - menawarkan alternatif hidangan daging tradisional.

Pendiri restoran Regan Suzuki Pairojmahakij mengatakan serangga jadi hidangan utama lebih dari sekadar tren gastronomi: sebagai obat mujarab potensial untuk dunia yang semakin ramai dan diversifikasi daging.

Pria asal Kanada yang dulu bekerja sebagai aktivis di sebuah LSM dan hidup dengan masyarakat pedesaan terpencil, dan sebagian warga desa kerap memasukkan serangga ke dalam masakan mereka.

"Saya dahulu bekerja di bidang perubahan iklim, pengelolaan sumber daya alam selama beberapa tahun, dan sebagian besar telah mencari bentuk protein, makanan dan pangan berkelanjutan," katanya kepada AFP.

Serangga, katanya, mudah didapat tanpa harus beli di pasar dan bergizi yang berguna sebagai energi untuk bertani ketimbang makanan pokok seperti ayam, dan daging sapi.

Itu bukan hal baru bagi sebagian warga pedesaan di Thailand. Konsumsi serangga sangat populer di daerah pedesaan utara, terutama karena iklim rawan kekeringan, yang memaksa warga desa harus kreatif menyantap hidangan yang mereka jumpai di lingkungan tempat tinggal mereka.

Bagi orang-orang di bagian tengah negara yang subur sepanjang tahun, serangga dimakan lebih banyak sebagai camilan, sering digoreng dan disajikan dengan bumbu atau saus pedas.

Namun tidak begitu dengan kelas menengah kaya di Bangkok, sebuah kota dengan kesenjangan ekonomi yang menyolok dibandingkan negara lainnya, masih merupakan tantangan tersendiri.

Namun, untuk yang lain, ini adalah petualangan baru.

Ania Bialek, seorang guru Inggris yang tinggal di Thailand, mengaku bahwa dia telah mencoba serangga goreng yang dijual oleh pedagang kaki lima tapi ingin tahu seperti apa menu di restoran tersebut seperti dilansir MailOnline.

"Saya akan dengan senang hati memakannya lagi," katanya setelah bersantap. "Tapi saya butuh orang lain untuk menyiapkannya untukku. Saya tidak mampu memasaknya sendiri."

THEY ARE usually the stuff of travel nightmares - or reality TV shows.

But, according to one Thai restaurant, eating creepy-crawlies is the new food of choice for hipsters in the country's capital city.

The adventurous eatery in question, called Insects in the Backyard, claims to be Bangkok's first fine-dining menu of its kind - and is popular with both locals and tourists alike.

Located in Chang Chui - an arty district in western Bangkok filled with vinyl record stores and local fashion designers - its regularly fully-booked and has scored positive reviews from restaurant critics.

In part because the offerings - which include crab and giant water beetle ravioli, wild greens salad with pan-fried crickets and scallops with crisp bamboo caterpillars - offer an alternative to traditional meat dishes.

Co-founder Regan Suzuki Pairojmahakij says insects are more than just a gastronomic trend: they are a potential panacea for an increasingly crowded and meat-hungry world.

The Canadian national used to work in the NGO sector with remote rural communities, many of whom incorporated insects into their cuisine.

'I've been working in the climate change, natural resource management fields for a number of years, and a big part of it has been the search for the sustainable forms of protein, food and supply chain,' she told AFP.

Insects, she said, require a fraction of the costs and energy needed to farm compared to staples like chicken, pork, and beef.

That is nothing new to many of Thailand's rural classes. Insect consumption is particularly popular in the rural northern regions, mainly due to its drought-prone climate, which has created a more varied and less fussy local palate.

For people in the central part of the country that is fertile all year long, insects are eaten more as a snack, often deep fried and served with seasoning or spicy sauce.

But persuading the wealthy middle classes of Bangkok, a city of huge disproportionate wealth compared to the rest of the country, is still a challenge.

But, for others, it's a new adventure.

Ania Bialek, a British teacher living in Thailand, said she had tried fried insects sold by street vendors but wanted to know what a higher end menu would taste like.

'I will happily eat them again,' she said at the end of the meal. 'But I would need someone else to prepare it for me. I will not be keen on cooking it myself.'