Penetapan HET Beras oleh Kemendag Disorot Media Asing

Indonesia Caps Rice Prices in Bid to Keep Food Costs Stable

Editor : Ismail Gani
Translator : Novita Cahyadi


Penetapan HET Beras oleh Kemendag Disorot Media AsingMenteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita sidak di pasar beras (Foto: istimewa)

KEMENTERIAN Perdagangan RI menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk sebagian besar jenis beras, tujuannya "menjaga stabilitas" harga komoditas pangan di Indonesia.

Meskipun harga gabah kering giling (GKG) dinilai stabil tahun ini, langkah tersebut dilakukan oleh pihak terkait mengintensifkan langkah-langkah untuk memastikan harga pangan tetap terkendali karena sensitif secara politis dan berdampak luas terhadap masyarakat miskin.

Harga beras juga berdampak luas terhadap indeks harga konsumen di Indonesia.

Keputusan tersebut, yang berlaku pekan lalu lalu langsung berdampak pada penetapan harga beras Rp9.450 sampai Rp10.000 untuk beras pecah 25%, atau yang disebut pemerintah sebagai 'beras medium', tergantung dari mana gabah tersebut diperdagangkan di seluruh Indonesia.

Penetapan HET beras tersebut di bawah rata-rata harga beras medium secara nasional pada 2017, yang sejauh ini berfluktuasi antara Rp10.540 hingga Rp10.756 per kg, menurut data kementerian perdagangan.

Pemerintah juga menetapkan HET beras pecah 15% atau "beras premium" di kisaran Rp12.800 hingga Rp13.600 per kg.

Jenis beras lainnya yang menurut pemerintah secara "khusus" dikecualikan dari peraturan baru.

Pergerakan tersebut terjadi setelah tindakan terhadap beberapa perusahaan beras Indonesia. Bulan lalu, polisi menahan kepala eksekutif perusahaan beras PT Indo Beras Unggul, sebuah unit perusahaan makanan PT Tiga Pilar Sejahtera Food, atas tuduhan pelabelan produk palsu.

Tingkat inflasi tahunan Indonesia sejauh ini terkendali selama 2017, kata bank sentral sebelumnya. Pada Agustus, tingkat suku bunga adalah 3,82%, berada di kisaran 3% sampai 5%, yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin seperti dikutip Reuters yang dilansir MailOnline.

INDONESIA'S trade ministry has capped retail prices for most types of rice, looking to "maintain stability" in the cost of the commodity which lies at the heart of cuisine in the Southeast Asian nation.

Although prices for the grain have been relatively steady this year, the step comes as authorities intensify measures to ensure food prices remain in check as they are politically-sensitive due to their impact on the poor.

Rice prices also carry a heavy weighting in calculating the country's consumer price index.

The decree, issued last week with immediate effect, puts ceiling prices at between 9,450 rupiah to 10,250 rupiah ($0.71-$0.77) per kilogram (kg) for 25-percent broken rice, or what authorities call "medium rice", depending on where the grain is sold in the archipelago.

Those ceiling prices were below national average of medium rice prices in 2017, which have so far fluctuated between 10,540 rupiah to 10,756 rupiah a kg, according to trade ministry data.

The government also set the maximum prices for 15-percent broken rice, or "premium rice" at 12,800 rupiah to 13,600 rupiah per kg.

Other types of rice the government considers "special" are exempt from the new rules.

The move comes in the wake of a crackdown on some Indonesian rice companies. Last month, police detained the chief executive of rice company PT Indo Beras Unggul, a unit of food company PT Tiga Pilar Sejahtera Food, over allegations of false product labelling.

Indonesia's annual inflation rate has been manageable so far in 2017, the central bank has previously said. In August, the rate was 3.82 percent, comfortably inside Bank Indonesia's 3-5 percent target range for 2017, the statistics bureau reported on Monday.

($1 = 13,339.0000 rupiah)