Pirus, Sinergi Penyuluh dan Petani Sukabumi Kembangkan `Urban Farming`


Pirus, Sinergi Penyuluh dan Petani Sukabumi Kembangkan `Urban Farming`

 

Dr Septalina Pradini SPi,MSi


LEBARAN sebentar lagi. Problem pun berulang bagi ibu-ibu rumah tangga. Apalagi kalau bukan tentang harga bahan-bahan pokok yang mendadak melambung. Harga cabai, bawang merah, tomat dan sayur-sayuran ikut naik. Kondisi tersebut sebagai bukti kebenaran hukum ekonomi, "permintaan meningkat, harga naik."

Warga Desa Bojonggaling di Kecamatan Bojonggenteng di Kabupaten Sukabumi boleh disebut lebih beruntung. Mereka, khususnya kaum ibu sadar pada potensi halaman rumah untuk ditanami sayuran seperti tomat, selada, cabai, pakcoi, dan kangkung.

Kesadaran mereka tumbuh berkat dorongan dari seorang petani muda, Cecep namanya, warga setempat yang memanfaatkan halaman rumah, jalan desa, hingga pematang sawah menjadi kawasan rumah pangan lestari (KRPL). Istilah kerennya, urban farming, karena posisi desa memang tak jauh dari kota kecamatan. Namun Cecep memilih nama Pirus, singkatan dari istilah Sunda ´pipir imah diurus´ yang artinya ´mengurus dan memanfaatkan halaman rumah.´ setelah dikembangkan sejak awal 2018.

Cecep tidak bekerja sendiri. Dia didukung oleh para penyuluh pertanian dari Badan Penyuluh Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP3K). Dukungan khusus datang dari Hendra Papilaya, yang memang bertugas sebagai penyuluh pertanian lapangan (PPL) untuk Desa Bojonggenteng.

"Awalnya, tergolong sulit menyadarkan warga akan potensi dari halaman rumah warga dikembangkan menjadi Pirus. Syukurlah ada Cecep, petani muda yang gigih mendukung BP3K membangun kesadaran warga akan potensi Pirus," kata Hendra Papilaya, sang PPL.

Syukurlah, Cecep bersedia memberi ´modal awal´ secara gratis kepada warga desa yang berminat dan bersedia mendukung program Pirus-nya. Bantuan tersebut berupa polybag, benih, pupuk hingga pemetikan, transportasi, dan menjualnya.

"Hampir seluruh warga desa tertarik pada ide Cecep. Tanpa modal dan tidak merepotkan. Mereka cuma diminta menyediakan tanah, setelah ditanam lalu kaum ibu dibantu anak-anak mereka hanya ditugasi menyiram secara rutin pagi dan sore," kata Hendra, yang kerap disangka keturunan Ambon, Maluku, padahal asli Sunda meski nama belakangnya adalah Papilaya.

Lantas apa manfaat yang diperoleh warga? Cecep sang inisiator KRPL khas Bojonggenteng mengungkap kiatnya membangun kesadaran warga mengembangkan potensi pertanian secara bersama-sama yang disebutnya sebagai ´kesadaran kolektif´ dari warga.

"Saya awali dengan memberikan warga karung bekas Raskin dari Bulog untuk ditanami satu tanaman tomat. Tanaman tomat saya berikan sesuai kesanggupan masing-masing rumah. Ada yang mendapat 20 bibit. Ada juga yg sampai 50 bibit, tergantung kesanggupan mereka," kata Cecep.

Buku Catatan
Bagi warga yang tidak memiliki halaman rumah, depan maupun belakang, dia membagikan bekas botol plastik air mineral, yang dibagi dua dan bagian bawah untuk ditanami tanaman pekarangan. "Jadi semua warga kebagian, meski tak punya halaman. Tanaman di botol lalu disangkutkan ke pagar atau dinding rumah."

Setelah sekian bulan ditanam, Cecep mengumpulkan hasil panen warga. Misalnya satu pohon tomat rata-rata hasilkan 2,5 ons, dari 20 pohon hasilnya sekitar lima kg untuk satu kali panen dari setiap rumah. Kalau dari 100 rumah maka Cecep mampu mengumpulkan rata-rata lima kwintal untuk satu kali panen.

"Bayangkan, saya hanya petani biasa di Bojonggenteng, tidak punya lahan luas untuk dapat hasil lima kwintal tomat sekali panen. Kesadaran warga Desa Bojonggaling, yang membuat saya bisa panen sebanyak itu," kata Cecep, yang ternyata juga memiliki lapak sayuran dan bahan pokok di pasar tradisional di kota kecamatan.

Petani merangkap pedagang ini lantas menerapkan kiat unik untuk ´membayar jerih payah´ warga desanya, dengan membuat catatan hasil panen yang dipegang setiap partisipan KRPL untuk memastikan transparansi dan membantu ibu rumah tangga membuat ´buku transaksi´ yang mudah difahami, karena Cecep tidak membayar dengan uang melainkan berupa pulsa listrik setiap bulan.

Caranya? "Saya tidak kasih uang, hanya catatan saja. Misalnya, catatan hari ini, 15 Mei. Jenis tanaman tomat, berat lima kg, harga pasaran Rp5.000 per kg, berarti seorang warga berhak mendapat Rp25 ribu," katanya.

Menurutnya, harga tomat tergolong fluktuatif alias berubah setiap waktu, naik dan turun. Kalau sepekan kemudian warga tadi panen tomat lagi total enam kg dan harga pasaran Rp3.000 atau Rp18.000 berarti saldo di buku catatan menjadi Rp43.000. Dalam satu bulan, setiap rumah tangga rata-rata minimal meraih Rp150.000 dari penjualan tomat, atau rata-rata panen tomat dalam sebulan hampir enam kali.

"Kalau bagian depan dan belakang rumah tidak bisa ditanami tomat, karena tidak ada halaman, maka ditanami koneng dan sereh," kata Cecep.

Keuntungan warga? Laba dari hasil panen Pirus, ditukarnya dengan pulsa listrik. Kebutuhan rata-rata per bulan Rp50 ribu per rumah tangga. Rata-rata saldo mencapai Rp100.000 begitu seterusnya setiap bulan, yang diperkirakan dalam 10 bulan mencapai Rp1 juta.

"Menjelang Lebaran, warga tidak perlu bayar zakat fitrah dengan uang tunai dari mereka, yang saya bayarkan dari saldo Pirus sesuai ketentuan zakat fitrah Ramadan tahun ini. Misalnya Rp30 ribu per orang yang dibayar Pirus maksimal lima orang per KK, lebih dari lima maka warga membayarnya dengan uang pribadi."

Dua hari sebelum Lebaran, Cecep membagikan daging dua kg kepada tiap partisipan Pirus, harganya Rp250 ribu per dua kg. "Saya juga pelihara sapi, jadi tidak perlu membeli lagi daging sapi di pasar yang harganya kadang melambung tak terkendali."

Dia memperkirakan saldo di buku catatan partisipan Pirus rata-rata Rp500 hingga Rp600 ribu setelah dipotong pulsa listrik, membayar zakat fitrah, dan membeli daging sapi dua kg.

"Setelah Lebaran, partisipan Pirus saya akan ajak ke Ancol, dipotong lagi Rp300 ribu, berarti saldo rata-rata Rp300 ribu per keluarga. Nah saldo saya bagikan kepada warga sebagai uang saku untuk jalan-jalan ke Ancol. Kemudian di Ancol, kita membuka buku catatan dalam pertemuan terbuka, ya mirip rapat anggota tahunan di koperasi."

Dari rapat partisipan Pirus di Ancol akan diketahui siapa pemilik saldo terbanyak dan tanaman Pirus terbaik, penataan paling rapi untuk mendapat hadiah uang sebesar Rp500 ribu, Rp300 ribu, dan Rp200 ribu untuk juara satu hingga tiga.

"Pasti Bu Septalina bertanya-tanya saya mendapat apa dari Pirus. Saya yang sediakan polybag, benih, pupuk kandang, hingga mengepul dan dibawa ke pasar untuk dijual. Kebetulan saya punya lapak di pasar kecamatan dan juga menjadi pengepul untuk dipasarkan ke Bogor, Sukabumi, Cianjur, bahkan Jakarta," kata Cecep.

Cecep pun ´buka kartu´ bahwa dirinya sebagai petani dan pedagang memanfaatkan penjualan hasil panen Pirus sebagai modal usaha, yang kemudian diputarnya untuk melancarkan kegiatan perdagangan pangan pokok dan sayuran.

"Manfaat buat saya, tanpa harus punya tanah luas berhektar-hektar, saya bisa dagang melalui kerjasama dengan warga desa saya untuk mengembangkan Pirus," katanya.

 

Keterangan Foto: Petani cerdik dan ulet, Cecep (kanan) didampingi penyuluh pertanian, Herman Papilaya (tengah) menjelaskan kiatnya mengembangkan Pirus kepada penulis, 15/5/2018 (Foto: Mac)

 

 

Disclaimer : B2B adalah bilingual News, dan opini tanpa terjemahan inggris karena bukan tergolong berita melainkan pendapat mewakili individu dan/atau institusi. Setiap opini menjadi tanggung jawab Penulis