Johannes Marliem Mengaku Terancam pada LPSK tapi Urungkan Program Perlindungan

Indonesia Graft Witness Worried about Safety before His Death

Editor : Ismail Gani
Translator : Novita Cahyadi


Johannes Marliem Mengaku Terancam pada LPSK tapi Urungkan Program PerlindunganFoto: istimewa

SEORANG saksi dalam penyelidikan korupsi senilai Rp2,3 triliun dalam kasus penyelewengan anggaran negara pada proyek KTP elektronik nasional mengatakan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengaku khawatir pada keamanan dan keselamatannya beberapa pekan sebelum dia diduga melakukan bunuh diri.

Johannes Marliem, yang perusahaannya berbasis di AS mendapat kontrak untuk merekam data KTP elektronik, dilaporkan meninggal dunia pada Kamis pekan lalu, akibat luka tembak setelah terlibat perselisihan dengan polisi terkait sandera dan petugas SWAT Los Angeles.

Bulan lalu, Johannes Marliem telah melakukan kontak dengan LPSK dalam beberapa kesempatan dan juga mengatakan kepada media bahwa dia memiliki bukti dalam bentuk rekaman digital yang melibatkan politisi korup terkait skandal korupsi tersebut.

"Dia mengaku agak takut karena dia memiliki bukti 500 gigabyte," kata wakil ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo kepada Reuters.

Marliem ditawari perlindungan oleh pihak berwenang, LPSK, pada akhir Juli namun belum mengajukannya secara formal, kata Suroyo.

"Dia meminta penjelasan tentang bagaimana cara mendaftar," katanya. "Namun kemudian dia tiba-tiba meninggal."

Perusahaan Marliem, PT Biomorf Lone Indonesia, memenangkan tender untuk memasok teknologi identifikasi sidik jari otomatis dalam kasus yang dimulai pada 2009, dan berpusat pada dugaan korupsi tuduhan yang jumlahnya berkisar antara $ 5.000 sampai $ 5.5 juta - uang yang dihasilkan dengan menandai biaya kartu identitas Program - yang kemudian dibagikan dalam sebuah ruangan di gedung DPR.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Ketua DPR, Setya Novanto, sebagai tersangka dalam penyelidikan skandal KTP elektronik dan menargetkan setidaknya 37 orang termasuk politisi dan pejabat.

Setya Novanto membantah terlibat dugaan korupsi senilai Rp2,3 triliun rupiah yang diduga telah dikorupsi.

Wakil Ketua LPSK, Lili Pantauli Siregar, mengatakan bahwa LPSK telah menerima permohonan tersebut, pihaknya dapat segera melakukan tindakan perlindungan untuk membantu Johannes Marliem.

Sebagai gantinya, katanya, Johannes Marliem telah mengiriminya link ke halaman penggalangan dana, meminta bantuan dana $5 juta.

"Saya mengerti dengan ini dia mencari dukungan dana untuk membiayai kebutuhan hidupnya," tambahnya.

Reuters tidak dapat memverifikasi keaslian halaman yang menyertakan bagian yang menyatakan bahwa untuk mengungkapkan lebih banyak informasi, "whistleblower membutuhkan perlindungan, dan sumber daya lainnya untuk tetap hidup".

Menurut sebuah surat dakwaan KPK, Marliem menghasilkan sejumlah $ 14,88 juta dan Rp25,24 miliar dari proyek tersebut.

Menurut laporan media, Johannes Marliem telah diwawancarai oleh penyidik ??KPK di luar negeri. Lili Pintauli Siregar tidak menentukan kewarganegaraan yang dia pegang namun mengatakan bahwa dia akan diberi perlindungan apakah dia warga negara Indonesia atau tidak.

KPK mengatakan pada Sabtu bahwa kematian Johannes Marliem tidak akan menggagalkan penyelidikannya dan polisi Indonesia mengatakan bahwa mereka bekerja dengan Biro Investigasi Federal AS (FBI) untuk menyelidiki kematiannya seperti dilansir MailOnline.

A WITNESS in a $170 million Indonesian graft investigation linked to a national electronic identity card system told a witness protection agency he was worried about his safety just weeks before his suspected suicide, officials said.

Johannes Marliem, whose U.S.-based company had a contract to supply the ID cards, was reported to have died on Thursday of self-inflicted gunshot wounds to the head after a standoff with police that involved hostages and Los Angeles SWAT officers.

Last month, Marliem had been in contact with Indonesia's Witness Protection Agency (LPSK) on several occasions and also told media he had evidence in the form of digital recordings that implicated politicians over the scandal.

"He said he was rather scared because he had 500 gigabytes of evidence," LPSK deputy chairman Hasto Atmojo Suroyo told Reuters.

Marliem was offered protection by authorities in late July but had not formally applied for it, Suroyo added.

"He asked for clarification on how to apply," he said. "But then he suddenly died."

Marliem's company, PT Biomorf Lone Indonesia, won the tender to supply automated fingerprint identification technology in a case that dates back to 2009, and centres on allegations that sums ranging from $5,000 to $5.5 million - money generated by marking up the costs of the ID card programme - were divided up in a room in parliament.

The Corruption Eradication Commission (KPK) has already named the parliamentary speaker, Setya Novanto, as a suspect in the investigation into the ID card scandal and is targeting at least 37 people including politicians and officials.

Novanto has denied any wrongdoing over the scandal in which 2.31 trillion rupiah ($173.07 million) is alleged to have been stolen.

Another LPSK official, deputy chairwoman Lili Pantauli Siregar, said if the agency had received the application it could have taken immediate action to assist him.

Instead, she said, Marliem had sent her a link to a fundraising page, requesting $5 million in donations.

"I understood with this he was looking for donations to live," she added.

Reuters could not verify the authenticity of the page that included a section stating that to reveal more information "the whistleblower needs protection, and other resources to stay alive".

According to a KPK indictment, Marliem made sums of $14.88 million and 25.24 billion rupiah from the project.

According to media reports, Marliem had been interviewed by KPK investigators overseas. Siregar did not specify what nationality he held but said he would have been given protection whether he was an Indonesian citizen or not.

The KPK said on Saturday Marliem's death would not derail its investigation and Indonesian police have said they are working with the U.S. Federal Bureau of Investigation to investigate his death. ($1 = 13,347 rupiah)