Investor Raksasa Berbondong Tanam Modal pada Start-Ups Indonesia

Global Firms Join Rush to Bet on Indonesia as Next Start-up Frontier

Editor : Ismail Gani
Translator : Novita Cahyadi


Investor Raksasa Berbondong Tanam Modal pada Start-Ups IndonesiaFoto2: AFP/MailOnline

INVESTOR raksasa seperti Expedia dan Alibaba berinvestasi miliaran dolar ke perusahaan startup teknologi Indonesia dalam upaya untuk memanfaatkan ekonomi digital yang berkembang di Indonesia, dan potensinya sebagai pasar online terbesar di Asia Tenggara.

Indonesia telah mengalami lonjakan arus kas ke sektor teknologi selama dua tahun terakhir, membantu mendukung puluhan start-ups mulai dari aplikasi ojek online hingga toko online (e-commerce).

Dan dengan populasi lebih dari 250 juta, kelas menengah membengkak dan meningkatnya ketersediaan perangkat seluler murah, investor raksasa dari mancanegara berbondong-bondong datang ke sini.

"Kami percaya bahwa Indonesia siap menghadapi lompatan besar untuk ekonomi digitalnya, mengikuti pertumbuhan China dan menjadi tujuan teknologi terkemuka di kawasan Asia Tenggara," kata Adrian Li dari  mitra di Convergence Ventures yang berbasis di Jakarta, kepada AFP.

Tahun lalu US$631 juta modal ventura digelontorkan ke Indonesia, menurut perusahaan riset CB Insights, naik dari US$31 juta pada 2015.

Namun angka itu melambung tinggi pada 2017, dengan kesepakatan kontrak senilai US$3 miliar pada September 2017, kata Meghna Rao, seorang analis industri teknologi di firma tersebut.

Tokopedia - toko online yang memungkinkan pengguna untuk membuat toko online dan menangani transaksi - mendapat suntikan modal US$1,1 miliar dari perusahaan China, Alibaba pada Agustus.

Layanan transportasi online sepeda motor Go-Jek meraih US$1,2 miliar dari raksasa teknologi China JD.com dan Tencent Holdings pada Mei, menurut data dari Crunchbase.

Bukti lain dari meningkatnya kepercayaan investor, Koison menjadi layanan e-commerce pertama di Indonesia yang go public pada Oktober.

"Meskipun terlalu dini untuk mengatakan bahwa investasi ini menunjukkan pola start-ups Indonesia yang lebih besar yang menarik banyak investor raksasa, ini adalah bagian dari dampak bisnis digital global," kata Rao.

Peluang Emas
Penggunaan internet berkembang lebih cepat di Asia Tenggara daripada wilayah lain di dunia, dengan 124.000 pengguna online setiap hari selama lima tahun ke depan, menurut laporan 2016 dari Google dan Temasek Holdings di Singapura.

Pada tahun 2020 diperkirakan 480 juta orang akan terhubung ke internet, naik dari 260 juta di wilayah tersebut tahun lalu.

Pasar seluler di Indonesia akan mencakup lebih dari setengah pasar e-commerce Asia Tenggara pada 2025, dengan perkiraan nilai US$46 miliar, seperti dilaporkan Google.

"Bila Anda melakukan bisnis startup di Malaysia, Singapura, Thailand dan Indonesia, biaya, tenaga dan waktu yang Anda keluarkan hampir sama. Namun ketika Anda pergi ke Indonesia (pertumbuhan) tidak terbatas - pasarnya begitu besar," kata Willson. Cuaca, sebagai perusahaan modal ventura East Ventures mengkhususkan diri pada investasi tahap awal.

Akibatnya, nama besar modal ventura AS seperti Sequoia Capital, Rakuten Ventures dari Jepang dan perusahaan travel Expedia Expedia - serta raksasa teknologi China - semuanya telah melakukan investasi di Indonesia.

Menakar Tantangan
Presiden RI Joko Widodo menjadi tokoh pendukung inovasi digital, terutama dalam rencananya untuk menciptakan 1.000 startup teknologi lokal senilai US$10 miliar pada 2020. Namun sektor ini masih menghadapi sejumlah tantangan.

Sejumlah insinyur muda berbakat ikut terjun di bisnis ini, dengan tingkat penetrasi internet yang rendah di luar Jawa yang padat penduduknya, kerumitan birokrasi, dan infrastruktur berkualitas rendah merupakan hambatan bagi pertumbuhan.

Bagi perusahaan e-commerce, sejumlah besar "orang-orang yang tidak berpendidikan" membatasi lingkup transaksi online, dan masalah logistik membuat sulit untuk mendukung pengangkutan barang modal.

Sementara pengusaha muda dan pengusaha kecil berduyun-duyun ke tempat kerja bersama yang bermunculan di pusat-pusat utama, ini adalah pemandangan yang jelas berbeda di sebagian besar negara.

Farid Naufal Aslam, chief executive Aruna, perusahaan e-commerce yang menghubungkan nelayan dengan pembeli, mengatakan bahwa menavigasi masyarakat Indonesia yang berbeda merupakan tantangan juga.

"Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah pendekatan sosial," Aslam, 23, mengatakan. "Indonesia adalah negara yang unik dengan beragam masyarakat dan adat istiadat yang berbeda di masing-masing daerah."

Namun banyak pemodal dan pengusaha ventura tetap optimis seperti dikutip AFP yang dilansir MailOnline.

"Jendela kesempatan ada di sana," kata Weather. "Selama Anda bisa berinovasi dan memecahkan masalah dengan menggunakan teknologi, Anda bisa sukses."

BIG-NAME investors including Expedia and Alibaba are pumping billions of dollars into Indonesian tech start-ups in a bid to capitalise on the country´s burgeoning digital economy and potential as Southeast Asia´s largest online market.

Indonesia has seen a surge of cash into its technology sector over the past two years, helping support dozens of homegrown start-ups ranging from ride hailing apps to e-commerce firms.

And with a population of more than 250 million, a swelling middle class and growing availability of cheap mobile devices, firms from across the world are piling in.

"We believe that Indonesia is poised for a huge leap forward for its digital economy, following China's growth and becoming the leading tech destination in the Southeast Asia region," Adrian Li, a partner in Jakarta-based Convergence Ventures, told AFP.

Last year $631 million in disclosed venture capital was ploughed into the country, according to research firm CB Insights, up from $31 million in 2015.

But that figure has already been shattered in 2017, with $3 billion worth of deals clinched as of September 2017, said Meghna Rao, a tech industry analyst at the firm.

Tokopedia -- a marketplace that allows users to set up online shops and handles transactions -- won $1.1 billion in capital from China´s Alibaba in August.

Motorbike on-demand service Go-Jek secured $1.2 billion from Chinese tech giants JD.com and Tencent Holdings in May, according to data from Crunchbase.

In another sign of confidence, Koison became Indonesia's first e-commerce service to go public in October.

"While it's too soon to say that this investment is indicative of a larger pattern of Indonesian startups pulling in many big ticket investors, it is part of a growing clutch of mega-rounds," Rao said.

- A Golden Opportunity -
Internet use is growing faster in Southeast Asia than any other region in the world, with 124,000 users coming online every day over the next five years, according to a 2016 report from Google and Singapore´s Temasek Holdings.

By 2020 an estimated 480 million people are expected to be connected to the internet, up from 260 million in the region last year.

Indonesia's mobile-first market will comprise more than half of Southeast Asia´s e-commerce market by 2025, with an estimated value of $46 billion, the Google report said.

"When you do startup business in Malaysia, Singapore, Thailand and Indonesia, the cost, effort and time that you spend is almost even. But when you go to Indonesia (growth) is unlimited -- the market is so big," said Willson Cuaca, whose venture capital firm East Ventures specialises in early-stage investments.

As a result, big names like US venture capitalist Sequoia Capital, Japan's Rakuten Ventures and travel company Expedia -- as well as Chinese tech giants -- have all made investments in the country.

- Navigating challenges -
Indonesian president Joko Widodo has been a vocal supporter of digital innovation, most notably in his plan to create 1,000 local tech start-ups worth $10 billion by 2020. But the sector still faces a number of challenges.

A limited pool of engineering talent to draw from, low rates of internet penetration outside densely populated Java, bureaucratic delays, and poor quality infrastructure are all obstacles to growth.

For e-commerce companies, the large number of "unbanked" Indonesians limits the scope of online transactions, and logistics problems make it hard to move goods.

While young entrepreneurs and small businesses are flocking to co-working spaces springing up in major centres, it is a decidedly different scene in most parts of the country.

Farid Naufal Aslam, the chief executive of Aruna, an e-commerce company that links fishermen to buyers, said navigating Indonesia's disparate communities is a challenge too.

"One of the biggest challenges faced is on social approach," Aslam, 23, said. "Indonesia is a unique country with diverse communities and different customs in each region."

Yet many venture capitalists and entrepreneurs remain optimistic.

"The window of opportunity is there," Cuaca said. "As long as you can innovate and solve real problems using technology, you can be successful."