PJ Upsus Kalbar Koordinasi Pemprov Atasi Suplai Benih 132 Ribu Hektar

Indonesian Govt Monitor the Rice Plant Extensification in West Borneo

Reporter : Gusmiati Waris
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


PJ Upsus Kalbar Koordinasi Pemprov Atasi Suplai Benih 132 Ribu Hektar
KOMUNIKASI 4.0: PJ Upsus Kalbar, Prof [R] Dedi Nursyamsi [tengah] didampingi Kepala Puslatan Bustanul AC melakukan koordinasi dengan Kadistan Heronimus Hero [kanan] Foto: Humas BPPSDMP/Prabu

Pontianak, Kalbar [B2B] - Kepala BPPSDMP Kementan, Prof [R] Dedi Nursyamsi mengunjungi Pontianak, untuk mengidentifikasi tantangan dan kendala percepatan luas tambah tanam [LTT] di Provinsi Kalimantan Barat. Dari pantauan penyuluh pertanian setempat diketahui potensi luas tanam Agustus - September [Asep] sekitar 326.000 hektar, dari luasan tersebut, 132.000 hektar di antaranya terkendala penyaluran benih.

Potensi LTT Kalbar mengemuka dari pertemuan Dedi Nursyamsi selaku PJ Upsus Kalbar dengan Kepala Dinas Pertanian Pemprov Kalbar, Heronimus Hero di Kota Pontianak, Kamis [8/8].

"Saat ini semua kendala lapangan di era industrialisasi 4.0 dapat diatasi melalui koordinasi dan komunikasi melalui aplikasi WA Group. Langsung koordinasikan ke saya untuk diselesaikan pusat di Jakarta. Era 4.0 semua harus cepat diselesaikan. Tinggal foto lalu kirim ke saya," kata Dedi Nursyamsi yang didampingi Kepala Pusat Pelatihan Pertanian [Puslatan BPPSDMP] Bustanul Arifin Caya.

Sebagaimana diketahui, Program LTT adalah strategi jitu Kementerian Pertanian RI di era Andi Amran Sulaiman untuk mengantisipasi penurunan produksi gabah/beras pada Agustus dan September karena kemarau, hal itu membuat petani enggan menanam lantaran kesulitan air dan menurunnya produksi benih.

Heronimus Hero melaporkan bahwa penyuluh pertanian setempat sangat mendukung program LTT Kalbar, "penyuluh kita sudah luar biasa untuk memastikan di situ ada vegetasi. Ada tanaman, dan kita sudah petakan sekitar 326 ribu hektar. Kemudian telah diverifikasi oleh kementerian agraria menjadi 302 ribu hektar."

Tampak hadir Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian TPH Pemprov Kalbar, Sofian Suri; Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan [BBPKH] Cinagara, Wisnu Wasesa Putra dan Kabid Standarisasi dan Sertifikasi Profesi Pertanian - Puslatan, Zuroqi Mubarok.

Era 4.0 Cepat dan Akurat
Heronimus juga mengungkap problem luas lahan persawahan yang telah diverifikasi Kementerian ATR/Badan Pertanahan Negara [BPN] tapi belum di-approval oleh Badan Pusat Statistik [BPS].

"Jadi banyak hamparan yang meskipun sudah menjadi sawah namun tidak masuk kategori oleh BPS, sehingga tidak terhitung," kata Kadistan Kalbar yang didampingi beberapa pejabat bidang pertanian Pemprov Kalbar.

Kendala lain, kata Heronimus, adalah masalah benih yang belum tersalurkan untuk 136 ribu hektar, "hal ini biasanya masalah klise dimana calon penerima calon lokasi atau CPCL belum terdaftar, sehingga belum bisa disalurkan."

Menanggapi hal itu, Dedi Nursyamsi langsung melakukan verifikasi CPCL di Kalbar, yang telah dikirimkan ke Kementan untuk segera diproses agar penyaluran benih padi tersebut bisa langsung disebarkan kepada petani di seluruh Kalbar.

PJ Upsus Kalbar juga menemukan bahwa jenis benih yang diminta petani harus diganti, agar cepat dicarikan solusi untuk mempercepat penyaluran benih ke petani.

"Semua hal saat ini bisa dilakukan dan ditangani melalui pesan singkat WA. Infokan segera ke kabupaten untuk mengubah varietas benih agar bisa diserahkan kepada petani. Itulah pentingnya koordinasi saat terjadi penyumbatan komunikasi. Cek langsung CPCL.

Dedi Nursyamsi menyatakan akan segera menemui pihak BPS Kalbar untuk mengatasi kendala statistik luas sawah. "Harus ada solusi untuk permasalahan sawah yang sudah terverifikasi untuk terdata sebagai sawah."

Pontianak of West Borneo [B2B] - Senior Indonesian official of the Agriculture Ministry as the Director General of Agricultural Extension and HR  Development, Prof [R] Dedi Nursyamsi working visit in Pontianak, provincial capital of West Borneo to identify challenges and constraints to rice field extensification [LTT]. The results of monitoring by local agricultural extensionists are known to have a potential planting area in August - September around 326,000 hectares, 132,000 hectares are constrained by seed distribution.