Penyuluh Pertanian Go Online, Modernisasi Simluhtan Masa Depan?


Penyuluh Pertanian Go Online, Modernisasi Simluhtan Masa Depan?

 

Dr Ir Zahron Helmy MP, Pusat Penyuluhan Pertanian - BPPSDMP Kementerian Pertanian RI


KE DEPAN, bukan mustahil sistem penyuluhan pertanian di Indonesia kita akan lebih menggunakan atau bahkan mungkin membangun jasa pelayanan online berbasis aplikasi jaringan, berbayar kepada petani, seperti model GoCar ataupun GoJek. Hal ini akibat jumlah SDM penyuluh pertanian yang kian terbatas, begitu pula dengan anggaran pemerintah.

Sistem penyuluhan online dapat terwujud tentu dengan beberapa catatan. Sistem penyuluhan latihan dan kunjungan disingkat Laku atau Lakusisi singkatan dari latihan kunjungan, supervisi, dan evaluasi diperkirakan lambat laun akan terlupakan lantaran tergerus oleh kemajuan teknologi informasi (IT).

Dengan kemajuan IT maka informasi teknologi usaha tani, informasi harga, informasi pasar, maupun informasi ketersediaan sarana produksi, dan lainnya, dapat dengan mudah diperoleh oleh petani dan kelompok tani cukup mengandalkan smartphone berbasis Android maupun sistem operasi (OS) lainnya.

Semua informasi yang dibutuhkan petani dapat dengan mudah di-download untuk dipelajari, dicoba dan diterapkan.

Kendati begitu, belum semua sistem informasi tersebut dimengerti, dipahami dan dikuasai oleh penyuluh pertanian dan petani. Sementara di ruang publik, pemanfaatan jasa pelayanan online seperti GoCar dan GoJek dan lainnya sudah menjadi kebutuhan sehari-hari.

Jasa pelayanan berbayar berbasis aplikasi online melalui perangkat digital dan jaringan internet sangat memudahkan masyarakat untuk memenuhi segala kebutuhannya.

Sebagaimana diketahui, pelayanan jasa online sangat membantu konsumen. Bukan hanya untuk jasa transportasi, juga pesan makanan dan mengantar dokumen maupun barang, yang berlangsung atas dasar kepercayaan konsumen dan penyedia jasa dengan menggunakan uang pribadi pengemudi ojek online sebelum dibayar oleh pemesan barang atau makanan.

Bagi warga perkotaan yang sangat sibuk dengan pekerjaan di tengah kemacetan lalu lintas di kota-kota besar seperti Jakarta layanan online ini sangat membantu.

Penyedia jasa dibekali aplikasi smartphone didukung perangkat global positioning system (GPS) sebagai pemandu digital untuk menembus kelurahan, kecamatan, kabupaten hingga kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Denpasar, Makassar dan kota-kota besar lainnya di seluruh Indonesia.

Bagaimana dengan penyuluh pertanian? Mereka juga memberikan pelayanan kepada petani, kelompok tani maupun gabungan kelompok tani.

Bukankah penyuluh pertanian wajib memberikan bimbingan materi penyuluhan agribisnis dan akses kemudahan informasi berupa akses ketersediaan sarana produksi, akses permodalan, akses pemasaran, dan lainnya, kepada petani?

Kalau kita cermati model jasa layanan online tersebut,  terfokus kepada satu sistem jaringan aplikasi. Bukan hal yang mustahil, kiat ini dapat diujicobakan dalam cakupan wilayah kabupaten, yang membawahi seluruh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) kecamatan.

Atau sistem aplikasi tersebut dicoba dulu di cakupan yang lebih kecil untuk kecamatan yang membawahi desa dan sejumlah kelompok tani, gabungan kelompok tani sehingga penyuluh pertanian dapat terpusat di kecamatan saja.

Apabila ada petani atau kelompok tani yang membutuhkan layanan jasa penyuluhan pertanian, cukup dengan melakukan panggilan ke nomor telepon BPP, yang telah sudah dicanangkan sebagai; (1) pusat data dan informasi, (2) pusat pelatihan, (3) pusat integrasi program dan kegiatan, (4) pusat konsultasi agribisnis dan (5) pusat kaji terap/demplot.

Apabila hal ini dapat diterapkan maka BPP dapat memberikan jasa pelayanan pertanian melalui penyuluh pertanian yang sesuai kebutuhan untuk diterjunkan ke petani, kelompok tani, desa atau bahkan kecamatan lain dalam satu kabupaten.

Nah permasalahannya apakah penyuluh kita siap dengan spesialisasinya? Setidaknya, mereka menguasai ilmu teknis budidaya dan ilmu manajemen usaha agirbisnis. Kalau hal ini teratasi, maka teori ´satu desa satu penyuluh´ akan terpatahkan. Namun penyuluh pertanian sebagai tenaga profesionalisme yang bersertifikat standarisasi kompetensi profesi benar-benar dapat terwujud. Penyuluh pertanian dapat go international dan mengglobal.

Langkah-langkah konkrit untuk mewujudkan target tersebut adalah dengan melakukan pemetaan jumlah penyuluh yang mengacu pada latar belakang pendidikan minimal pertanian, peternakan, perkebunan.

Diikuti langkah identifikasi terhadap jumlah penyuluh pertanian swadaya yang memiliki kemampuan teknis usaha agribisnis, atau berhasil di usahatani agribisnis baik tanaman pangan, hortikultura, peternakan atau perkebunan.

Langkah berikut adalah melakukan pemetaan standarisasi jumlah penyuluh pertanian, minimal yang harus ada di setiap BPP dengan latar belakang keahlian tertentu. Kemudian, melakukan pemetaan dan updating data Sistem Imformasi Manajemen Penyuluhan Pertanian atau Simluhtan terhadap jumlah petani dan jumlah kelompok tani dengan nomor telpon dan alamat yang jelas.

Kelima, melengkapi BPP dengan fasiltas program aplikasi online yang mampu merespon panggilan kebutuhan petani/kelompok tani dengan cepat didukung jaringan telepon, internet, dan fasilitas lain yang mendukung kelancaraan tugas.

Keenam, menyediakan fasilitas pendukung untuk penyuluh pertanian seperti perangkat yang dimiliki oleh jasa transportasi online.

Kesimpulannya, seberapa besar peran aktif pemerintah daerah bersedia mendukung program ini, mengingat penyuluh pertanian adalah perangkat daerah dan petani/kelompok tani pun berada di wilayah kekuasaan pemerintahan daerah di bawah kendali gubernur, bupati, maupun camat.

Apabila hal ini dapat dipenuhi, maka kita tidak lagi terobsesi untuk memenuhi target ´satu desa satu penyuluh´ sementara dari aspek anggaran akan menjadi efektif karena biaya operasional penyuluh - BOP dapat  menjadi solusi bagi penyuluh yang proaktif terhadap kompetensinya dalam penyelesaian dan solusi masalah petani/kelompok tani.

Tidak lagi kita bicara ´bagi rata´, terkait stigma tentang penyuluh pertanian "kerja tidak kerja, sama dapatnya". Penyuluhan pertanian menjadi efektif dan efisien sehingga mendorong kian banyak bermunculan penyuluh swadaya, mengingat merekalah petani berhasil yang menguasai teknologi dan rantai pasok pemasaran produk pertanian.

Ke depan, tentunya petani/kelompok tani yang  membutuhkan jasa konsultasi agribisnis dari penyuluh pertanian baik pemerintah maupun swadaya akan berani membayar atas jasa yang diberikan. Pada akhirmya penyuluh pertanian akan menjadi konsultan agribisnis bagi petani/kelompoktani.



Keterangan Foto: Dr Ir Zahron Helny MP (kanan) dengan penyuluh swadaya yang juga ketua kelompok tani berprestasi

 

 

Disclaimer : B2B adalah bilingual News, dan opini tanpa terjemahan inggris karena bukan tergolong berita melainkan pendapat mewakili individu dan/atau institusi. Setiap opini menjadi tanggung jawab Penulis