UPT Pelatihan Kementan Latih Pekebun Sawit Morowali Gunakan Pupuk Organik
Sulawesi`s Batangkaluku Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Jum'at, 31 Juli 2026
BBPP BATANGKALUKU: Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani membuka Pelatihan ´Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik´ selama lima hari, 26 - 31 Juli 2026 di Aston Palu, yang diikuti 68 peserta, Angkatan I dan II, yang seluruhnya berasal dari Kabupaten Morowali, Sulteng.

 

Palu, Sulteng (B2B) - Sebanyak 68 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Morowali di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) mendapat pembekalan keterampilan membuat dan mengaplikasikan pupuk organik. Tak sekadar paham teori, para peserta juga raktik pembuatan pupuk organik padat dan cair sebagai upaya mendorong perkebunan sawit yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan kegiatan Pelatihan ´Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik´ tersebut merupakan hasil kerja sama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dengan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku. 

Kegiatan pelatihan menjadi bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMPKS) untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, profesionalisme, kemandirian dan daya saing pekebun.

Pelatihan berlangsung selama lima hari, 26 - 31 Juli 2026, di Aston Palu, yang diikuti peserta Angkatan I dan II yang seluruhnya berasal dari Kabupaten Morowali, Sulteng.

Kegiatan pelatihan yang digelar oleh BBPP Batangkaluku sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa kelapa sawit merupakan salah satu komoditas strategis nasional yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. 

"Penguatan sektor sawit harus dibarengi peningkatan kualitas SDM, produktivitas dan penerapan teknologi. Kelapa sawit adalah komoditas strategis," katanya.

Mentan Amran mengingatkan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani melalui peningkatan kualitas SDM, penggunaan teknologi dan pengelolaan perkebunan yang semakin baik,” ujar Menteri Pertanian.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas petani dan pekebun menjadi bagian penting mendukung pembangunan pertanian dan perkebunan.

"Pelatihan harus memberikan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan di lapangan. Dengan demikian, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, juga mampu menerapkannya untuk mengembangkan usaha perkebunan secara mandiri," katanya.

BBPP Batangkaluku
Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afghani saat membuka Pelatihan ´Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik´ melalui kerjasama dengan BPDP, mengatakan pembelajaran berbasis praktik penting agar kompetensi yang diperoleh peserta dapat langsung diterapkan di lapangan.

“Pelatihan ini tidak berhenti pada teori di kelas. Peserta kami dorong untuk belajar langsung melalui praktik di tempat pembuatan Pupuk Organik Cipta Lestari," katanya.

Tujuannya, agar mereka memiliki pengalaman nyata dan dapat membawa pengetahuan serta keterampilan tersebut untuk dikembangkan dan ditindaklanjuti di lokasi masing-masing,” katanya.

Hadir saat pembukaan kegiatan, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah Muhammad Neng; Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Morowali Abdul Muttaqin Sonaru; perwakilan Kementan, narasumber, widyaiswara BBPP Batangkaluku dan para peserta Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik Angkatan I dan II.

Jamaluddin Al Afghani menambahkan, peningkatan kompetensi SDM menjadi kunci mendukung program pengembangan perkebunan kelapa sawit, melalui pelatihan berbasis praktik dan kebutuhan lapangan.

"Petani diharapkan semakin mandiri, mampu memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di sekitarnya, serta menerapkan teknologi yang tepat untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha,” ungkapnya.

Pupuk Organik
Jamaluddin Al Afghani mengatakan para peserta dibekali pengetahuan mengenai konsep dasar pupuk organik, pengomposan, regulasi dan standar mutu, pemanfaatan bahan baku lokal, hingga teknik pembuatan dan aplikasi pupuk organik yang tepat untuk mendukung usaha perkebunan kelapa sawit.

Materi pelatihan diperdalam melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Pupuk Organik Cipta (POC) Lestari. Di lokasi tersebut, peserta tidak hanya melihat proses produksi, tetapi juga mempraktikkan langsung pengolahan bahan baku menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair.

"Kegiatan praktik mencakup penggunaan dekomposer, proses dekomposisi, pengelolaan bahan baku, pengendalian mutu dan pengujian kualitas pupuk organik secara sederhana," katanya.

Selain keterampilan produksi, peserta juga mempelajari teknik aplikasi pupuk organik sesuai prinsip pemupukan yang baik. Kompetensi tersebut diharapkan membantu pekebun memanfaatkan potensi bahan baku lokal sekaligus mengolah limbah pertanian dan perkebunan menjadi input produksi yang bernilai guna.

Pemanfaatan pupuk organik dinilai penting mendukung pengelolaan kesuburan tanah secara berkelanjutan. Bahan organik dapat membantu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, sekaligus menjadi alternatif mengurangi ketergantungan terhadap input eksternal.

Melalui pelatihan tersebut, BPDP bersama BBPP Batangkaluku berharap 68 pekebun asal Morowali dapat menjadi penggerak pemanfaatan pupuk organik di lingkungan perkebunan masing-masing.

Ke depan, peningkatan kompetensi SDM, pemanfaatan sumber daya lokal, penerapan teknologi tepat guna, serta praktik budidaya yang ramah lingkungan diharapkan mampu mendorong perkebunan kelapa sawit yang semakin produktif, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekebun. [ilham/timhumas bbppbatangkaluku]

 

 

 

 


 

Palu of Central Sulawesi [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.

Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.

TERKAIT - RELATED