Shintawati Octaviani
PERPUSTAKAAN kerap dipahami sebagai ruang sunyi dengan rak-rak buku yang statis. Kendati demikian, di tengah tantangan pangan global dan percepatan teknologi informasi, stigma tersebut mulai bergeser.
Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) dari Kementerian Pertanian RI memilih untuk keluar dari batas konvensional.
Tujuannya, menjadikan literasi sebagai bagian dari strategi besar mendukung swasembada pangan nasional. Upaya tersebut sejalan arahan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menjadikan literasi pertanian sebagai bridging bagi ketahanan pangan nasional.
Langkah itu mengemuka dari perpustakaan pertanian terbesar di Indonesia, BB Pusataka, perpustakaan khusus bidang pertanian yang memiliki puluhan ribu koleksi.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) tentang eksistensi BB Pustaka yang berdiri pada abad 19 di era kolonial Hindia Belanda, tepatnya pada Mei 1842.
BB Pustaka Kementan berada di pusat Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat yakni Jl Ir H Juanda No. 20.
Di bawah kepemimpinan, Eko Nugroho Dharmo Putro, BB Pustaka senantiasa berupaya melahirkan inovasi yang berawal dari sebuah refleksi sebagai penanda arah baru lembaga ini.
"Mengapa inovasi di BB Pustaka penting?” Pertanyaan itu mencerminkan kesadaran bahwa perpustakaan pertanian tidak bisa lagi berjalan sendiri, terpisah dari dinamika literasi dan kebutuhan lapangan.
Strategi Pembangunan
Kepala BB Pustaka Kementan, Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan literasi pertanian bukan sekadar aktivitas membaca atau mengakses informasi.
"Literasi diposisikan sebagai instrumen pembangunan, sarana memperpendek jarak antara ilmu pengetahuan, kebijakan dan praktik pertanian di lapangan," katanya.
Transformasi yang dilakukan bertujuan memperluas akses informasi, meningkatkan kapasitas petani dan penyuluh serta menyesuaikan layanan dengan perkembangan teknologi digital.
Dalam konteks swasembada pangan, literasi menjadi fondasi pengambilan keputusan yang lebih tepat dan berkelanjutan.
Ruang Diskusi hingga Siaran Lapangan
Inovasi BB Pustaka diwujudkan melalui berbagai pendekatan. BCL (Bincang Cerdas Literasi), misalnya, menjadi ruang dialog terbuka antara peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan.
Diskusi dikemas ringan, tetapi membahas isu-isu strategis seperti teknologi pertanian, kebijakan pangan, hingga hasil riset mutakhir. Model ini membuka ruang pertukaran gagasan yang lebih egaliter.
Sementara itu, Live of Agriculture Virtual Literacy disingkat LOVE berupaya menghadirkan literasi dalam format siaran langsung dari lapangan.
Pelatihan praktis, berbagi pengalaman petani, hingga tutorial interaktif disiarkan secara daring, memungkinkan penyuluh dan petani di berbagai wilayah mengakses pengetahuan secara real time.
Pendekatan BB Pustaka Kementan tersebut menegaskan bahwa literasi dapat menembus batas geografis.
Dekati Masyarakat
Perubahan paling nyata terlihat melalui Pustaka Bergerak disingkat Puber. Bertitik tolak dari konsep Taman Baca Dramaga, Puber bertransformasi menjadi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial yang hadir langsung di tengah masyarakat.
Layanan ini tidak hanya membawa bahan bacaan, juga pengetahuan aplikatif melalui pelatihan, tutorial dan pendampingan kegiatan ekonomi produktif.
Bagi masyarakat desa, layanan Puber menjadi ruang belajar yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari. Di sinilah perpustakaan berfungsi sebagai fasilitator transfer pengetahuan yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan.
Ilmu dan Solusi
Di sisi lain, BB Pustaka juga memperkuat fungsi rujukan ilmiah melalui Repository dan Layanan Ilmiah (Relasi). Layanan Relasi mengintegrasikan database, katalog induk, serta konsultasi referensi untuk mendukung penyusunan kajian dan karya ilmiah di bidang pertanian.
Akses yang disediakan secara offline dan online membuka peluang pemanfaatan pengetahuan yang lebih luas.
Pengelolaan pengetahuan tersebut dilengkapi oleh layanan Single Account, Penerbitan, dan Penyebarluasan Terbitan dan Akses disingkat Sapu Teras.
Sistem Sapu Teras memastikan proses penerbitan ilmiah berjalan terpadu, mulai dari pengelolaan akun hingga penyebarluasan terbitan agar benar-benar menjangkau pembaca yang membutuhkan.
Simpul Kolaborasi
Transformasi BB Pustaka menunjukkan perubahan peran perpustakaan pertanian dalam ekosistem pembangunan. Ttdak lagi sekadar penyimpan informasi, melainkan simpul kolaborasi yang menghubungkan petani, penyuluh, peneliti dan pembuat kebijakan.
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho DP memastikan bahwa transformasi BB Pustaka adalah bukti bahwa perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi pusat perubahan.
"Dengan wajah baru ini, BB Pustaka memposisikan diri sebagai penggerak literasi dan mitra strategis dalam mewujudkan swasembada pangan nasional," katanya.
Di tengah tantangan pangan yang kian kompleks, langkah BB Pustaka memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium atau lahan pertanian semata.
BB Pustaka juga tumbuh dari cara baru mengelola pengetahuan, menjadikan literasi sebagai benih yang disemai untuk ketahanan pangan masa depan.