Shintawati Octaviani
Pranata Humas Ahli Muda
TAHUN 2025 layak dicatat sebagai bab penting dalam sejarah pangan Indonesia. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, negeri ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan beras domestik, juga mencatat surplus signifikan tanpa bergantung pada impor beras konsumsi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras nasional mencapai sekitar 34,7 juta ton, surplus Semester I 2025 mencapai 3,33 juta ton, dan proyeksi tahunan melampaui 4,71 juta ton. Lebih dari itu, stok beras nasional menembus rekor tertinggi dalam 57 tahun terakhir, mencapai 3,39 juta ton pada Desember 2025.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik pertanian, Ia adalah penanda arah. Presiden RI Prabowo Subianto secara tegas menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada pangan, sebuah pernyataan politik sekaligus simbolik yang menandai berkurangnya ketergantungan bangsa terhadap impor pangan.
Dalam konteks global yang sarat ketidakpastian iklim, konflik geopolitik, dan fluktuasi pasar, memberi pesan kuat, Indonesia mulai berdiri di atas kaki sendiri dalam urusan pangan.
Kendati demikian, swasembada pangan sejatinya bukan hanya tentang berapa ton beras diproduksi atau berapa juta ton stok disimpan. Swasembada pangan adalah soal kedaulatan dan kemampuan negara mengelola sistem pangannya secara mandiri, berkelanjutan, dan berpihak pada rakyatnya, terutama petani.
Produksi yang tinggi, dengan konsumsi nasional yang relatif stabil di kisaran 30 juta ton per tahun, memberi ruang strategis bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga, memperkuat cadangan, dan melindungi petani dari gejolak pasar.
Di titik inilah kebijakan pertanian menemukan relevansinya. Optimalisasi lahan, dukungan sarana produksi, penguatan kelembagaan petani, dan keberpihakan anggaran menjadi fondasi yang tak tergantikan.
Literasi Pertanian
Meskipun demikian, keberhasilan ini tidak lahir dari sawah semata. Di balik hamparan padi yang menguning, terdapat proses panjang yang sering luput dari sorotan.
Transfer pengetahuan, adopsi teknologi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pertanian menjadi hal penting yang tidak dapat dilupakan. Ada literasi informasi yang bekerja senyap namun menentukan.
Pernyataan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman yang mengungkap swasembada pangan merupakan hasil kerja kolektif seluruh kementerian/lembaga di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto patut dicatat.
Swasembada bukan prestasi sektoral, melainkan hasil kolaborasi lintas bidang seperti kebijakan, produksi, distribusi, hingga pengetahuan.
Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) selaku salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah naungan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian - Kementerian Pertanian (BPPSDM) yang memiliki fungsi strategis, sebagai pusat ilmu pengetahuan, BB Pustaka memberikan pemahaman terkait pertanian melalui literasi.
Kepala BPPSDMP Kementan, Idha Widhi Arsanti mengungkapkan bahwa BB Pustaka telah berperan penting sebagai pusat informasi dan pengetahuan pertanian. Tidak hanya melalui koleksi bukunya, juga berbagai publikasi yang terus diperbarui.
Dia mendorong agar BB Pustaka ke depan, dapat menghasilkan lebih banyak e-book yang mudah diakses petani dan penyuluh untuk mendukung kegiatan di lapangan.
Literasi pertanian kerap dipahami secara sempit sebagai kemampuan membaca atau mengakses informasi. Padahal, literasi sejati adalah kemampuan memahami, menerapkan, dan mengambil keputusan berbasis pengetahuan.
Petani yang literat mampu memilih varietas unggul sesuai agroekosistemnya, menerapkan teknik budidaya yang efisien, memanfaatkan teknologi, serta mengelola risiko iklim dan pasar. Literasi mengubah informasi menjadi daya produksi.
Dalam ekosistem tersebut, BB Pustaka memegang peran strategis. Bukan sekadar ruang penyimpanan buku atau dokumen, melainkan simpul pengetahuan yang menjembatani ilmu, kebijakan dan praktik pertanian di lapangan.
Era Digital
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan koleksi cetak dan digital yang dikelola BB Pustaka, mulai dari teknologi budidaya padi, pemupukan, pengendalian hama terpadu hingga inovasi pertanian berkelanjutan menjadi rujukan penting bagi penyuluh, peneliti, mahasiswa, dan pelaku utama pertanian.
"Di era digital, peran ini semakin relevan. Literasi pertanian tidak lagi bergantung pada teks akademik semata," katanya.
Eko Nugroho menambahkan video edukasi, infografis, konten media sosial, dan platform daring menjadi medium baru yang lebih dekat dengan petani dan generasi muda.
BB Pustaka mengambil posisi strategis sebagai kurator pengetahuan yang menyaring, menyederhanakan dan menyebarluaskan informasi pertanian terpercaya di tengah banjir informasi yang kerap menyesatkan.
Sinergi antara literasi dan penyuluhan modern mempercepat adopsi inovasi. Informasi yang tepat waktu dan mudah dipahami terkait bagaimana meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, dan kualitas hasil panen merupakan informasi yang dibutuhkan petani, penyuluh dan pelaku utama pertanian.
Tantangan ke depan semakin sulit, perubahan iklim, alih fungsi lahan, serta dinamika pasar global menuntut sistem pangan yang adaptif dan berkelanjutan.
Surplus hari ini bisa menjadi defisit esok hari jika tidak dikelola dengan visi jangka panjang. Di sinilah literasi kembali menjadi kunci untuk membekali mereka yang begelut dengan dunia pertanian.
Capaian surplus beras 2025 menegaskan satu hal penting terkait kedaulatan pangan tidak hanya dibangun di sawah, tetapi juga di ruang-ruang pengetahuan. Perpustakaan sebagai institusi yang bertugas meliterasi para penyuluh, petani.
BB Pustaka hadir sebagai penjaga sekaligus penggerak pengetahuan pertanian Indonesia. Melalui literasi yang inklusif dan berkelanjutan, ia berkontribusi nyata memastikan bahwa swasembada pangan tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi sistem yang kokoh, adaptif, dan berpihak pada masa depan.
Tahun 2025 bukanlah garis akhir. Ia adalah titik awal di mana surplus pangan, kesejahteraan petani, dan literasi pertanian berjalan beriringan menuju Indonesia yang benar-benar berdaulat dan berkelanjutan.