PAGI di Cianjur selalu dimulai dengan cara yang sama. Kabut tipis turun perlahan di antara sawah dan kandang ternak, sementara suara ayam dan mesin penggilingan padi bersahut-sahutan.
Di balik rutinitas yang tampak biasa itu, sedang tumbuh perubahan besar. Generasi muda yang memilih bertahan di desa dan menjadikan pertanian sebagai jalan hidup, bukan karena terpaksa, melainkan karena melihat peluang.
Perubahan ini tidak hadir begitu saja. Ia lahir dari kegelisahan panjang tentang masa depan pertanian Indonesia. Data menunjukkan hampir 80 persen petani Indonesia berusia lanjut. Jika tidak ada regenerasi, sawah dan ladang berpotensi kehilangan pengelolanya.
Di sinilah Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) mengambil peran penting.
Tantangan Regenerasi
Diluncurkan pada 2019, Program YESS merupakan inisiatif strategis Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), bekerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD).
Program ini dirancang khusus untuk pemuda usia 17 hingga 39 tahun di wilayah perdesaan. Kelompok usia yang selama ini kerap dianggap enggan terjun ke sektor pertanian.
Alih-alih memaksa pemuda kembali ke sawah dengan cara lama, YESS menawarkan pendekatan berbeda. Pertanian tidak lagi diposisikan sekadar sebagai aktivitas produksi, melainkan sebagai usaha yang bernilai ekonomi, terhubung dengan teknologi, pemasaran digital, dan manajemen modern.
Hasilnya kini mulai terlihat, salah satunya di Kecamatan Cianjur, Jawa Barat.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam mendorong kemajuan sektor pertanian.
Melalui Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) yang diinisiasi oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian RI, Indonesia membuktikan bahwa dunia pertanian kini telah bertransformasi.
Pertanian tidak lagi lekat dengan citra pekerjaan tradisional, melainkan berkembang menjadi sektor yang sarat inovasi, pemanfaatan teknologi, serta membuka peluang ekonomi yang menjanjikan.
Kepala BPPSDMP Kementan, Idha Widi Arsanti, menyatakan keyakinannya atas potensi pemuda Indonesia terutama di sektor pertanian.
“Setelah Program YESS berakhir, menjadi tugas kita bersama untuk mendorong perluasan jangkauan pelayanan bagi anak-anak muda perdesaan lainnya di seluruh wilayah," katanya.
Mereka perlu terus difasilitasi untuk terus berkembang menjadi lokomotif transformasi perekonomian perdesaan melalui modernisasi pertanian dari hulu hingga hilir.
Tumbuh dari Lapangan
Jejak keberhasilan para petani muda YESS di Cianjur terdokumentasi dalam buku “Kisah Sukses Petani Muda YESS di Cianjur” yang diterbitkan Pertanian Press pada 2024.
Buku ini merangkum perjalanan 30 pemuda dengan latar belakang berbeda, namun memiliki satu kesamaan, keberanian mengubah nasib melalui pertanian.
Agus Feri adalah salah satunya. Ia memulai peternakan domba dari skala kecil, sekadar beberapa ekor. Modalnya bukan uang besar, melainkan ketekunan dan kemauan belajar.
Perlahan, dengan pendampingan dan akses pengetahuan dari Program YESS, usahanya berkembang. Kini puluhan ekor domba memenuhi kandangnya, dan peternakan itu menjadi sumber penghidupan utama bagi keluarganya.
Di sisi lain, Ahmad Yopi menjalani jalur berbeda. Usaha penggilingan padi yang awalnya berjalan secara konvensional ia rombak dengan sentuhan digital.
Media sosial menjadi etalase baru. Pelanggan tidak lagi terbatas pada lingkungan sekitar. Keuntungan meningkat, jaringan meluas, dan usaha kecilnya naik kelas. Namun pertanian juga menyimpan cerita tentang daya tahan hidup.
PHK ke Tanaman Hias
Bagi Teh Ai, pertanian bukan pilihan pertama. Ia pernah bekerja di sebuah pabrik hingga gelombang PHK mengubah segalanya. Kehilangan pekerjaan sempat membuatnya terpuruk.
Namun dari situ pula ia menemukan arah baru. Berbekal ketertarikan pada tanaman hias, Teh Ai mulai menanam, merawat, dan menjual hasil budidayanya.
Program YESS memberinya akses pelatihan dan pendampingan. Usaha yang awalnya dilakukan di pekarangan rumah kini berkembang menjadi sumber pendapatan yang stabil.
Dari pot-pot tanaman hias itu, Teh Ai membuktikan bahwa krisis bisa menjadi titik balik, jika disikapi dengan keberanian dan kerja keras.
Rajut Masa Depan
Kisah-kisah dalam buku ini bukan sekadar cerita sukses individu. Ia mencerminkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap pertanian. Sawah, kandang, dan kebun tak lagi dipandang sebagai simbol keterbatasan, melainkan sebagai ruang tumbuh inovasi.
Program YESS menunjukkan bahwa ketika ketekunan pemuda dipertemukan dengan dukungan pemerintah yang terencana, hasilnya bukan hanya peningkatan pendapatan, juga tumbuhnya kepercayaan diri dan kemandirian ekonomi di desa.
Cianjur hanyalah satu titik di peta besar Indonesia. Namun dari sini, terlihat jelas bahwa regenerasi petani bukan sekadar wacana. Ia sedang berjalan pelan, namun pasti.
Di tangan para petani muda YESS, pertanian tidak lagi sekadar warisan masa lalu. Ia menjadi jembatan menuju masa depan. [Sumber Website BB Pustaka/Shinta/Tim Humas]