Pertanian Modern, Drone Turun ke Sawah Konawe Sultra Dukung Swasembada
Sulawesi`s Batangkaluku Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Selasa, 15 September 2026
BBPP BATANGKALUKU: Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani selaku PJ Swasembada Pangan Sultra [ke-3 kanan] bersama Wagub Sultra, Hugua [ke-2 kiri] dan Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko seusai Gertam Bersama pada lahan CSR di Kabupaten Konawe.

 

Konawe, Sultra (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) terus mempercepat swasembada pangan melalui Optimalisasi Lahan (Oplah), peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan penerapan teknologi serta mekanisasi pertanian. 

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani selaku PJ Swasembada Pangan Sultra mengatakan langkah tersebut diwujudkan melalui Gerakan Tanam (Gertam) Bersama pada lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Desa Meraka, Kecamatan Lambuya, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Senin (14/9).

Kegiatan Gertam Bersama dilaksanakan pada hamparan lahan CSR seluas 112 hektare. Pada kesempatan tersebut, dilakukan penanaman untuk peningkatan IP 100 dengan realisasi tanam seluas 10 hektar.

Gertam Bersama tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan luas tanam, memperkenalkan penerapan teknologi pertanian modern, dengan memperagakan sejumlah metode tanam seperti penggunaan drone, metode manual, hingga penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS).

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, pencapaian swasembada pangan membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, TNI-Polri, penyuluh, petani, Brigade Pangan hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya.

“Swasembada pangan bukan hanya tentang menambah luas lahan, tetapi bagaimana setiap hektare mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi melalui Oplah, peningkatan IP, benih unggul, mekanisasi dan teknologi harus dilakukan bersama-sama,” kata Mentan Amran.

Peran Penyuluh

Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya penguatan SDM pertanian seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi.

"Penyuluh memiliki peran strategis, memastikan teknologi dan inovasi pertanian dapat diterapkan secara tepat oleh petani di lapangan," katanya.

Peningkatan produktivitas merupakan salah satu kunci mewujudkan swasembada pangan. Penyuluh harus terus hadir mendampingi petani, memastikan penerapan teknologi berjalan dengan baik, serta mendorong petani dan Brigade Pangan adaptif terhadap mekanisasi dan inovasi pertanian.

Kabadan SDM menambahkan, modernisasi pertanian tidak cukup hanya dengan menghadirkan alat dan teknologi, harus diikuti peningkatan kapasitas petani dan pendampingan yang berkelanjutan. 

"Dengan demikian, teknologi yang digunakan dapat memberikan manfaat nyata terhadap efisiensi dan produktivitas usaha tani," kata Santi.

BBPP Batangkaluku

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani selaku PJ Swasembada Pangan Sultra mengatakan, pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting transformasi pertanian nasional. 

"Teknologi seperti drone dapat membantu mempercepat proses budidaya, mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja, menekan biaya produksi, sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani.

Penerapan drone dan PM-AAS, ungkap Jamaluddin Al Afgani pada kegiatan tanam tersebut, merupakan bagian dari upaya memperkenalkan berbagai pendekatan budidaya modern dan efisien.

“Pemanfaatan teknologi seperti drone dan metode PM-AAS menjadi bagian dari inovasi yang terus kita dorong mendukung peningkatan produktivitas," katanya lagi.

Hal terpenting, teknologi dapat memberikan manfaat nyata bagi petani, mempercepat proses tanam, meningkatkan efisiensi dan pada akhirnya mendukung peningkatan produksi.

"Penggunaan teknologi pertanian harus dibarengi pendampingan penyuluh. Pendampingan diperlukan agar petani dan Brigade Pangan mampu operasikan teknologi, juga memahami penerapannya sesuai kondisi lahan dan kebutuhan budidaya," ungkap Jamaluddin Al Afgani.

Apresiasi Pempro Sultra

Wakil Gubernur Sultra, Hugua apresiasi dukungan pemerintah pusat melalui kegiatan gerakan tanam di Kabupaten Konawe. Keterlibatan Kementan bersama pemerintah daerah, TNI-Polri dan para pemangku kepentingan, menunjukkan kuatnya sinergi memperkuat pembangunan pertanian di daerah.

“Atas nama Pemprov Sultra, kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas kunjungan dan pelaksanaan kegiatan gerakan tanam. Gertam merupakan wujud nyata dukungan pemerintah pusat kepada daerah, khususnya memperkuat sektor pertanian,” katanya.

Hugua menegaskan, ketahanan pangan merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. Karena itu, pembangunan sektor pertanian perlu berjalan beriringan dengan penguatan ketahanan energi dan air sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Peningkatan produktivitas harus menjadi perhatian utama agar lahan pertanian yang tersedia mampu memberikan hasil optimal dan mendukung peningkatan produksi pangan secara berkelanjutan," ungkap Wagub Hugua.

Dukungan Kodam Hasanuddin

Panglima Kodam (Pangdam) XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko menyampaikan bahwa Program CSR diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus kesejahteraan masyarakat.

"TNI - Polri akan terus bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat mendukung berbagai program pertanian serta membantu mengatasi tantangan pembangunan pertanian di lapangan," katanya.

Pangdam Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko menambahkan, Gertam di Desa Meraka sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi mengawal peningkatan produksi pangan. 

"Pemerintah pusat dan daerah, TNI-Polri, penyuluh, Brigade Pangan, kelompok tani dan masyarakat bersinergi untuk memastikan lahan pertanian yang telah tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal dan produktif," ungkapnya lagi.

Lahan CSR Sultra

Dengan hamparan lahan CSR seluas 112 hektare dan realisasi tanam IP 100 seluas 10 hektare pada kegiatan tersebut, optimalisasi lahan di Desa Meraka diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi pangan di Kabupaten Konawe dan Sultra.

Kementan akan terus mendorong optimalisasi lahan, peningkatan indeks pertanaman, penerapan teknologi modern, penguatan Brigade Pangan serta pendampingan penyuluh sebagai bagian dari strategi mempercepat terwujudnya swasembada pangan nasional.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Danrem 143/Halu Oleo, Kapolda Sulawesi Tenggara, Kejaksaan Tinggi Provinsi Sulawesi Tenggara, Kepala BBPP Batangkaluku Jamaluddin Al Afgani selaku Pj. Swasembada Pangan Provinsi Sulawesi Tenggara, Kepala BPLIP Kelas I Makassar, Anggota DPD RI, Kepala BRMP Sulawesi Tenggara, Bupati Konawe, Dinas Pertanian Kabupaten Konawe, Forkopimda Kabupaten Konawe, penyuluh pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Konawe, serta Brigade Pangan, kelompok tani dan masyarakat sekitar yang berjumlah kurang lebih 200 orang. [ilham/timhumas bbppbatangkaluku]

 

 

 

 

 


 

Konawe of Southeast Sulawesi [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.

TERKAIT - RELATED