Gowa, Sulsel (B2B) - Dalam upaya mendukung program strategis Kementerian Pertanian RI (Kementan) khususnya hilirisasi perkebunan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pertanian menjadi langkah kunci.
Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani memgatakan, Widyaiswara sebagai tenaga pelatih di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pelatihan Pertanian memiliki peran strategis meningkatkan kompetensi para pekebun, sehingga perlu terlebih dahulu dibekali dengan kompetensi teknis yang mumpuni di bidang perkebunan.
Upaya tersebut sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa peningkatan kapasitas SDM pertanian, termasuk Widyaiswara merupakan fondasi utama dalam mewujudkan hilirisasi dan nilai tambah produk perkebunan.
“Hilirisasi pertanian tidak akan berjalan optimal tanpa SDM yang unggul. Widyaiswara harus terus ditingkatkan kompetensinya agar mampu mentransfer pengetahuan dan teknologi kepada petani secara tepat, aplikatif, dan berorientasi pasar,” katanya.
Senada dengan hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa Widyaiswara harus selalu adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia usaha pertanian.
“Widyaiswara adalah agen perubahan. Melalui kegiatan magang seperti ini, mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga menguasai praktik lapangan dari hulu hingga hilir. Ini penting agar pelatihan yang diberikan kepada petani benar-benar menjawab kebutuhan nyata di lapangan,” ujar Santi.
BBPP Batangkaluku
Sebagai bentuk komitmen tersebut, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku yang dipimpin oleh Jamaluddin Al Afgani, memfasilitasi 15 orang widyaiswara dan 1 orang petugas teknis untuk mengikuti kegiatan magang budidaya, penanganan pascapanen, serta pengolahan kopi di Kampong Kopi Bawakaraeng, Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Gowa, Sulsel.
"Kegiatan magang, dilaksanakan selama tiga hari, mulai 27 hingga 29 Januari 2026, dan akan dilanjutkan dengan praktik pengolahan hasil kopi pada bulan Mei 2026, bertepatan dengan musim panen raya kopi," katanya.
Kampong Kopi Bawakaraeng berada di bawah naungan Yayasan Pendapat Global Agromandiri. Lembaga ini aktif melakukan pembinaan petani kopi secara menyeluruh, mulai dari teknis budidaya, penanganan pascapanen, pendampingan pemasaran, hingga pengolahan hasil kopi, sehingga menjadi lokasi pembelajaran yang representatif bagi pengembangan kompetensi widyaiswara.
Melalui kegiatan magang ini, diharapkan widyaiswara BBPP Batangkaluku mampu meningkatkan kompetensi teknis, memperkuat pemahaman hilirisasi perkebunan kopi, serta menghasilkan materi pelatihan yang lebih kontekstual dan berdampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan pekebun. [ilham/timhumasbbppbatangkaluku]
Gowa of South Sulawesi [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.