Teknologi Garis Gawang akan Diuji di Piala Dunia Klub
Goal-line Technology Test at Club World Cup
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
BENARKAH bola telah melewati garis gawang? Ini adalah pertanyaan yang telah ditanyakan para penggemar sepak bola setidaknya sejak final Piala Dunia 1966, ketika penyerang Inggris Geoff Hurst mencetak gol di babak perpanjangan waktu saat melawan Jerman, yang membuat wasit asal Swiss perlu mendapat masukan dari hakim garisnya yang berasal dari Soviet.
Badan sepak bola dunia FIFA telah mencoba dua teknologi, dan akan menguji keduanya pada Piala Dunia Klub mendatang yang dimulai pada 6 Desember di Jepang, di mana versi yang lebih akurat akan digunakan di Piala Dunia 2014 di Brazil,
16 pertandingan terakhir di fase final dua tahun silam di Afrika Selatan meyakinkan FIFA bahwa teknologi itu diperlukan, setelah gol Frank Lampard yang terlihat merupakan gol sempurna ke gawang Jerman, dianulir oleh wasit.
Disahkannya gol tersebut berdampak besar pada kekalahan 1-4 yang diderita Inggris, sehingga memicu otoritas olahraga ini untuk menggunakan lompatan teknologi agar hal-hal yang dapat menodai keadilan olahraga dapat diminimalisir.
Dua sistem - satu berasal dari Jerman, satu lagi dari Inggris - telah disahkan oleh FIFA dan sekarang sedang bertarung untuk mendapatkan hak untuk dipakai di Brazil dalam kurun waktu dua tahun.
Sistem pertama adalah GoalRef, yang menggunakan magnet-magnet di lapangan dan bola khusus yang akan diuji di Stadion Yokohama sepanjang Piala Dunia Klub. Sedangkan sistem kedua, Hawk-Eye, menggunakan kamera-kamera seperti cara yang digunakan di tenis dan kriket.
Hawk-Eye akan digunakan di Stadion Toyota.
GoalRef digagas oleh para peneliti di Fraunhofer Institute for Integrated Circuit di Jerman, dan Hawk-Eye diciptakan oleh Hawk-Eye Innovations di Inggris.
"Pada akhir Januari kami akan mendiskusikan beberapa hal dengan dua provider terhadap teknologi mereka, dan jika ada sistem ketiga kami akan memutuskan pada Februari atau Maret, yang mana yang akan dipakai di Piala Konfederasi yang dimulai pada Juni," kata Cristoph Schmidt dari FIFA, yang baru mengunjungi pameran Soccerex di Rio Dde Janeiro.
FIFA memberi indikasi bahwa sistem yang akan digunakan di Piala Konfederasi tidak dijamin akan dipakai di stadion-stadion Piala Dunia setahun kemudian.
Selama pameran Soccerex, Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke memberi jalan untuk teknolgi itu dan menjelaskan bahwa sistem itu akan mengirim sinyal ke jam yang digunakan wasit - dengan penundaan selama satu detik.
Namun Valcke mengatakan wasit akan menjadi satu-satunya pihak yang mengetahui informasi tersebut dan keputusan mutlak berada di tangan dia, sistem yang lebih baik, menurut dia, ketimbang menghentikan pertandingan selama beberapa detik atau bahkan lebih lama "untuk menyaksikan rekaman video atau untuk mengatakan gol itu tercipta melalui handball."
Pada saatnya, FIFA berharap sistem ini akan berkembang dan semakin akurat - dan terjangkau - untuk digunakan di liga-liga domestik.
DID the ball cross the line? It's a question which football fans have been asking at least since the 1966 World Cup final, when England striker Geoff Hurst's extra time goal against Germany was given by a Swiss referee on the advice of his Soviet linesman.
World governing body FIFA has been trying out two technologies and will put them to the tournament test at the upcoming Club World Cup starting December 6 in Japan with a view to using the most accurate version at the 2014 World Cup in Brazil.
A last-16 match at the last finals two years ago in South Africa went a long way to convincing FIFA that the technology had to come to the rescue after England's Frank Lampard had what appeared to be a perfectly good goal ruled out against Germany.
The non-award of his effort ultimately went some way to presaging a 4-1 loss for Lampard's side, prompting the game's authorities to accept that there had to be a technological leap of faith to prevent such miscarriages of sporting justice.
Two systems -- one German, one English -- have been certified by FIFA and are now fighting one another for the right to be used in Brazil in two years' time.
First there is GoalRef, which uses magnetic fields and a special ball which will be tested at the stadium at Yokohama during the Club World Cup. The other, Hawk-Eye, is based on deploying cameras in similar fashion to that already prevalent in tennis and cricket.
The latter will be used at the Toyota stadium.
GoalRef is the brainchild of researchers Fraunhofer Institute for Integrated Circuit in Germany and the second has been created by Hawk-Eye Innovations in Britain.
"At the end of January we will discuss things with the two providers of their technology, and if there is a third system we will decide in February or March which will be used at the Confederations Cup" starting in June," said Christoph Schmidt of FIFA, who has just visited the Soccerex exhibition in Rio de Janeiro.
FIFA indicates the system which gets used for the Confederations Cup will not necessarily be guaranteed to be retained for the World Cup's 12 venues a year later.
During Soccerex, FIFA Secretary General Jerome Valcke defended the recourse to technology and explained that the system will sent a signal to referee's stopwatches -- with a one-second delay.
But Valcke says the referee will be the only one to see the information and the ultimate decision will fall to him, a better system, he suggests, than stopping the action for several seconds or longer "to watch a video or to say if a goal has been scored through handball".
In due course, FIFA hopes the system will evolve and be sufficiently accurate -- and affordable -- to be used in domestic leagues.
