Predator Alami, Inovasi CSA Gunakan Burung Hantu Berantas Hama Tikus
Indonesia Irrigation Development the Target of Government`s Loan Program
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
BEBERAPA waktu lalu sempat viral video tentang tanaman jagung yang tongkolnya habis bersih dalam waktu singkat. Jagung tersebut siap panen tapi kadung rusak parah. Kelobot tongkol terbuka. Biji jagung habis tanpa sisa. Harapan petani pun sirna lantaran ulah hewan pengerat.
Banyak kasus serangan tikus pada tanaman pangan namun tidak terekam kamera. Sesungguhnya, hama tikus dapat ditangkal dengan sejumlah cara seperti ditangkap ramai-ramai [gropyokan], pengumpanan beracun, pengasapan, pemasangan trap barrier system (TBS) dan pemanfaatan burung hantu [tyto alba] sebagai predator alami tikus.
Inovasi Pertanian Cerdas Iklim/Climate Smart Agriculture [CSA] memilih burung hantu sebagai predator alami tikus demi menjaga produktivitas tanaman pangan milik petani.
Upaya CSA yang diusung Kementerian Pertanian RI bersama Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP] sejak 2021 hingga 2023 pada 24 kabupaten di 10 provinsi membuktikan pemanfaatan Rumah Burung Hantu [Rubuhan] efektif menangkal tikus.
Kabar baik datang dari Rubuhan pada lahan Demplot CSA di wilayah binaan Balai Penyuluhan Pertanian [BPP] Sawitto di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Dua unit Rubuhan di lahan seluas 50 hektar mampu mengendalikan hama tikus.
BPP Karang Agung Ilir di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan menerapkan kiat serupa bagi petani dari kelompok tani [Poktan] Sri Mulyo. Hasilnya? Tikus pun lari terbirit-birit.
Poktan Krida Mas Tani di Desa Tukinggedong, Kecamatan Puring di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah pun berbuat hal serupa. Penyuluh BPP Puring hadir mendampingi petani membangun sejumlah Rubuhan pada 2.339 ha lahan sawah.
Upaya SIMURP sejalan arahan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman untuk meningkatkan produktivitas pertanian, dengan mengendalikan OPT melalui Pengendalian Hama Terpadu [PHT] salah satunya dengan Rubuha.
"Tujuan pembangunan pertanian adalah peningkatan produksi, peningkatan kualitas, meningkatkan intensitas pertanaman, serta budidaya yang ramah lingkungan melalui pengelolaan hama terpadu," katanya.
Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi bahwa petani Indonesia tidak boleh tertinggal, karena banyak inovasi teknologi dan mekanisasi dibuat untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
"Hama dan penyakit memicu kerusakan tanaman. Akibatnya, produktivitas menurun hingga gagal panen, maka dari itu, hama dan penyakit perlu dikendalikan apabila populasinya melampaui ambang ekonomi," katanya.
Salah satu upaya Kementan, kata Dedi Nursyamsi, dalam mendesiminasikan pertanian ramah lingkungan melalui Program SIMURP, yang diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku petani, sehingga dapat mewujudkan pertanian yang maju, mandiri dan modern.
Direktur National Project Implementation Unit [NPIU] SIMURP, Bustanul Arifin Caya mengatakan Program SIMURP di Kementan merekomendasikan burung hantu sebagai penangkal hama tikus.
Hal itu mengacu pada penelitian bahwa burung hantu memiliki kemampuan memakan tikus per malam minimal tiga ekor dan tetap memburunya jika dilihat meski tidak dimakan.
Kemampuan utamanya, pengelihatan tajam pada intensitas cahaya minim dan pendengaran peka mampu mendengar tikus cicit sekitar 500 meter. Ketepatan menyambar sangat tinggi tanpa didengar mangsanya, dengan kepakan sayap tanpa suara karena bulunya halus.
Giat Pelestarian Burung Hantu memberi banyak manfaat bagi petani penggiatnya yakni menekan pengeluaran biaya per hektar senilai Rp1 juta; mengurangi pemasangan kawat setrum yang bisa mengakibatkan bahaya bagi pemasangnya atau petani lain; mengurangi risiko gagal panen [puso] mampu meningkatkan Indeks Pertanaman [IP] 100 menjadi IP 200.
Project Manager SIMURP, Sri Mulyani mengatakan Program SIMURP merupakan modernisasi irigasi strategis dan program rehabilitasi lintas kementerian dan lembaga yang melibatkan Kementan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional [Bappenas], Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat [PUPR] dan Kementerian Dalam Negeri [Kemendagri] dengan target lokasi Daerah Aliran Sungai [DAS].
"Lokasi kegiatan Program SIMURP tersebar pada 24 kabupaten di 10 provinsi yang merupakan daerah irigasi maupun daerah rawa," katanya. [timsimurpkementan]
THE OBJECTIVE of the Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP] with Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
SIMURP locations in 13 irrigation areas and two swamp areas namely Banyuasin and Katingan Regencies and 24 districts in 10 provinces.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
