Regenerasi Pertanian, Kementan Ajak Mahasiswa President University Geluti Agribisnis

West Java`s Lembang Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Regenerasi Pertanian, Kementan Ajak Mahasiswa President University Geluti Agribisnis
BBPP LEMBANG: Kepala BBPP Lembang, Ahmad Dedy Syathori menerima kunjungan 50 mahasiswa/i Prodi Agribisnis dari President University beserta dosen pembimbing, didampingi Katimker Program dan Kerjasama BBPP Lembang, Yanissa Nuraeni Kuswandi [kiri].

 

Bandung Barat, Jabar (B2B) - Sebanyak 50 mahasiswa Program Studi (Prodi) Agribisnis dari President University, Rabu (7/10) mengunjungi Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, untuk mengetahui potensi dan peluang agribisnis pada sektor pertanian.

Kunjungan 50 mahasiswa President University sebiduk sehaluan upaya Kementerian Pertanian RI (Kementan) mendorong dan mendukung regenerasi pertanian melalui sejumlah program yang dikembangkan oleh BBPP seperti halnya BBPP Lembang, salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelatihan dari ssjumlah UPT di ssluruh Indonesia.

Kepala BBPP Lembang, Ahmad Dedy Syathori mengatakan, selain fokus pada petani muda seperti Brigade Pangan, Kementan melakukan pendekatan pada pengenalan potensi industri pertanian pada sejumlah BBPP, dengan mengenalkan Studi Wisata bagi kampus-kampus di Indonesia.

Upaya tersebut sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa pertanian adalah sektor yang menjanjikan bagi anak muda. Selain roda penggerak ekonomi, pertanian adalah harapan bagi Indonesia di masa depan.

“Yang bisa mengubah republik ini adalah sektor pertanian. Ada keunggulan komparatif di sana dan Indonesia memiliki itu,” katanya.

Mentan menambahkan, pertanian mengharapkan generasi milenial dan generasi selanjutnya untuk memberikan dampak bagi masyarakat.

Pertanian harus didukung kalangan milenial. Pemerintah berupaya melakukan regenerasi petani yang berdampak bagi sosial ekonomi masyarakat.

Harapan tersebut ditekankan juga oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan, inovasi teknologi adalah kunci bagi petani muda untuk turut serta.

“Anak-anak muda memiliki kreativitas dan kemampuan menguasai teknologi. Ini modal besar untuk transformasi sektor pertanian agar lebih modern, produktif dan kompetitif," katanya.

BBPP Lembang

Kepala BBPP Lembang, Ahmad Dedy Syathori mengatakan, guna memenuhi visi tersebut, BBPP Lembang membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak termasuk lembaga pendidikan seperti sekolah dan kampus. 

"Bukan hanya sebagai sarana praktik kerja lapangan, BBPP Lembang juga menerima kunjungan yang bertujuan memperluas wawasan peserta didik mengenai pertanian," katanya.

Komitmen tersebut bersambut dengan kunjungan mahasiswa/i dari President University, Rabu (7/10), 50 mahasiswa dari Prodi Agribisnis mengunjungi BBPP Lembang untuk melihat potensi yang dapat dijelajahi pada industri pertanian.

"Selain melihat potensi industri pertanian, agenda kunjungan memberikan mereka kesempatan praktik membuat pupuk kompos," katanya.

Ahmad Dedy Syathori menambahkan, BBPP Lembang didukung Widyaiswara dengan paten Kompos Mix (Kom-Mix) Hayati, sehingga hal tersebut dapat dipelajari dan dilihat oleh para siswa.

Pupuk Hayati

Pupuk Kom-Mix Hayati adalah pupuk kompos dengan tambahan agensi hayati yang dapat meningkatkan efektivitas pupuk kompos tersebut.

BBPP Lembang memiliki lab agensi hayati dan kandang sapi sehingga Kom-Mix dapat diproduksi sendiri dengan memanfaatkan kotoran sapi.

Fiadini Putri selaku Widyaiswara pemandu, mengatakan bahwa kompos memiliki potensi dalam agribisnis. 

“Kompos dapat dibuat sendiri dan menggunakan pengemasan lebih estetik dan bagus dapat menarik peminat,” kata Fiadini Putri.

Inkubator Agribisnis

Selain melihat produksi pupuk kompos, para mahasiswa juga memgunjungi area Inkubator Agribisnis. 

Saat kunjungan berlangsung, hasil budidaya jagung di BBPP Lembang mulai menjulang sehingga menarik perhatian mereka. 

Selain itu, terdapat satu plot lahan yang digunakan untuk mencoba komoditas padi apung.

Komoditas padi apung sedang dipelajari di BBPP Lembang. Padi apung memiliki potensi untuk mengembangkan budidaya padi tanpa memerlukan lahan luas, dapat dilakukan selama ada perairan.

Screen House

Kunjungan terakhir, para mahasiswa mengunjungi screen house tanaman hias. Bagi para mahasiswa, hal itu pun menjadi menarik bagi mereka.

Di screen house BBPP Lembang, para mahasiswa dan dosen yang mendampingi dapat melihat beberapa jenis tanaman seperti anggrek, kaktus, dan tanaman lainnya. 

Neneng Ida Farida selaku Widyaiswara penanggung jawab screen house tanaman hias menerangkan tentang potensi agribisnisnya. 

“Bagi adik-adik yang tinggal di kota besar, mencari penyalur dan menjual tanaman hias di tempat yang budidayanya sulit juga dapat menjadi potensi,” katanya.

Rachmi Satwhikawara, Dosen Prodi Agribisnis President University memberi jempol untuk BBPP Lembang. 

“Hari ini kami melihat banyak budidaya tanaman termasuk tanaman hias yang indah, terima kasih BBPP Lembang!” katanya. [afriski/chetty/dary/timhumas bbpplembang]

 

 

 

 

 

 

West Bandung of West Java [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.