Sistem Lakususi, Padukan Pelatihan Penyuluh plus Pendampingan pada Petani
Indonesian Govt Recognizes Support of Extensionists for Agricultural Development
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Bogor, Jabar [B2B] - Kementerian Pertanian RI mengajak dan mendorong penyuluh untuk mendampingi petani dan kelompok tani [Poktan] serta Gapoktan secara terjadwal, untuk meningkatkan kemampuan petani memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi [TIK] melalui sistem Latihan, Kunjungan dan Supervisi [Lakususi].
Seruan tersebut dikemukakan Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi di Ciawi, Bogor pada 'Webinar Penyuluhan Peran TIK Mendukung Penyelenggaraan Penyuluhan' yang digelar secara hibrid, Kamis [16/12]. Hadir Dosen Polbangtan Bogor, Momon Rusmono; Penyuluh dan Blogger Evrina Budi Astuti sebagai narasumber dan Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian [Pusluhtan] selaku moderator.
"Dalam penyuluhan pertanian dikenal sistem pendekatan Lakususi adalah pendekatan yang memadukan antara pelatihan bagi penyuluh yang ditindaklanjuti dengan kunjungan berupa pendampingan kepada petani/poktan secara terjadwal," kata Dedi Nursyamsi.
Dedi Nursyamsi selaku Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian - Kementerian Pertanian RI [BPPSDMP] mengingatkan fungsi latihan adalah kegiatan alih pengetahuan dan keterampilan, baik berupa teori maupun praktek dari fasilitator kepada penyuluh pertanian melalui metode partisipatif untuk meningkatkan kemampuan mendampingi dan membimbing Poktan.
"Sementara kunjungan merupakan kegiatan pendampingan dan bimbingan penyuluh pertanian kepada petanian secara personal dan dalam kelembagaan petani yakni Poktan dan Gapoktan," katanya.
Menurutnya, supervisi lebih pada kegiatan pembinaan dan pengawasan pelaksanaan kegiatan penyuluh dalam pengawalan dan pendampingan kelembagaan petani agar sesuai rencana, sekaligus membantu memecahkan permasalahan yang tidak bisa dipecahkan di lapangan.
Saat ini, Lakususi harus ditambah, dilengkapi bahkan direvisi, disesuaikan teknologi TIK. Contohnya, penyuluh milenial Bogor, Evrina Budiastuti, yang melengkapi dirinya dengan aplikasi Android, sehingga saat kunjungan ke petani dan melihat kondisi pertanaman, Evrina bisa langsung memberi solusi pada petani lebih cepat.
"Singkatnya, peranan TIK bisa mendukung peningkatan produksi yang dikendalikan oleh penyuluh. Jika TIK bisa dikuasai penyuluh, proses peningkatan produktivitas dapat diakselerasi lebih cepat dan lebih tinggi," kata Dedi.
Ketenagaan Penyuluhan
Sementara Momon Rusmono menyoroti Ketenagaan Penyuluhan, terutama penempatan penyuluh pemerintah pada tingkat desa saat ini mencapai 79.620 orang, alih tugas penyuluh diganti dengan penyuluh baru.
"Pengangkatan THL penyuluh pusat maupun daerah yang memenuhi persyaratan menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja [PPPK]," kata Momon Rusmono, mantan Sekjen Kementan dan Kepala BPPSDMP.
Menurutnya, usulan tambahan formasi dan rekrutmen penyuluh ASN, terutama dari lulusan Diploma IV Penyuluhan juga penyelenggaraan program Rekognisi Pembelajaran Lampau bagi PPPK dan THLTBPP serta mobilisasi penyuluh swadaya dan swasta, kunci keberlanjutan penyuluhan pertanian ke depan.
Momon Rusmono juga mengulas tentang Kompetensi Penyuluh khususnya penyuluh profesional memiliki kompetensi berupa metodologi, agribisnis dan TIK dalam melaksanakan tugasnya.
"Peningkatan program standarisasi, akreditasi dan sertifikasi profesi, peningkatan pelatihan berorientasi nilai tambah, daya saing dan TIK, pendidikan magister terapan bidang penyuluhan bagi penyuluh, fasilitasi Diklat dan sertifikasi profesi bagi penyuluh swadaya dan swasta," kata Momon, yang juga mantan Kepala Pusluhtan.
Tampak hadir dalam webinar secara tatap muka dan online para penyuluh pusat dan daerah, kepala dinas pertanian. Hadir di PPMKP Ciawi sejumlah pejabat BPPSDMP Kementan di antaranya Koordinator Kelompok Perencanaan, Dewi Darmayanti; Koordinator Kelompok Evaluasi dan Perencanaan [Evalap] Septalina Pradini; Koordinator Kelompok Kelembagaan dan Ketenagaan Penyuluhan - Pusluhtan, I Wayan Ediana; dan Koordinator Kelompok Program dan Kerjasama, Zuroqi Mubarok.
Bogor of West Java [B2B] - Indonesian government in the next five years prioritizes the development of human resources that are ready to face globalization in the era of industrialization 4.0, carry out its role to develop millennial farmers who understand information and communication technology, according to the senior official of the agriculture ministry.
