Tingkatkan Produktivitas, Kementan Maksimalkan Peran BPP KostraTani
Indonesia Agricultural Extension Connected through the KostraTani
Editor : Kemal A Praghotsa
Translator : Dhelia Gani
Kendari, Sultra [B2B] - Kementerian Pertanian RI [Kementan] terus melakukan peningkatan produktivitas sektor pertanian dengan berbagai cara. Salah satunya dengan menggerakkan Balai Penyuluhan Pertanian [BPP] sebagai pusat gerakan pembangunan pertanian di tingkat kecamatan.
Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mengatakan, peningkatan kapasitas SDM untuk mendukung pembangunan pertanian maju, mandiri dan modern, bisa dilakukan melalui Komando Strategi Pembangunan Pertanian [KostraTani]. Peran KostraTani sangat dibutuhkan dalam membantu petani meningkatkan produktivitas.
"Produktivitas itu bisa dicapai jika ada yang menggerakkan. Dan yang menggerakan itu tentunya penyuluh mumpuni dengan didukung KostraTani," ujar Mentan Syahrul.
Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi saat melakukan pertemuan dengan Wakil Gubernur Sultra, Lukman Abunawas di sela kunjungan kerja ke Sultra. Dalam pertemuan tersebut, keduanya banyak memperbincangkan kemajuan pertanian Indonesia, utamanya dalam hal pembangunan SDM pertanian.
Dia melihat potensi pertanian yang begitu besar di Sultra. Kementan pun memberi perhatian lebih kepada sektor pertanian di Provinsi Sultra. "Sekitar 27 persen PDB di Sultra ini disumbangkan dari sektor pertanian. Artinya, pertanian ini sangat dominan. Sentra ekspor kakao, cokelat itu dari Sultra. Belum lagi komoditas lainnya. Ada tebu di Bombana. Saya optimis ke depan Sultra akan menjadi sentra gula."
Menurut Dedi Nursyamsi, untuk mengembangkan pertanian Sultra ada beberapa hal yang akan dilakukan, utamanya dalam hal pengembangan SDM melalui KostraTani yang dipusatkan di kecamatan atau BPP.
"Pembangunan sarana prasarana, inovasi teknologi akan percuma kalau SDM-nya tidak bagus. Kita komitmen membangun SDM di Sultra ini, utamanya penyuluh dari BPP kita tingkatkan SDM-nya," kata Dedi.
Untuk mewujudkan hal itu, Dedi berkomitmen akan memutakhirkan peran dan fungsi KostraTani. Fungsi pertama yaitu sebagai pusat data dan informasi. "Artinya, data dan informasi ini dikirim ke Jakarta dan kami menetapkan program berdasarkan data yang dikirim dari BPP," katanya.
Nantinya, BPP juga akan dibangun sebagai pusat gerakan pembangunan pertanian dan pusat pembelajaran bagi para petani, penyuluh dan eksekutor pertanian.
"Peran itu ada di BPP nantinya. Seluruh program pembangunan pertanian sentranya ada di kecamatan dan pelaku utamanya adalah penyuluh dan petani," kata Dedi.
Kemudian, KostraTani juga akan dibangun sebagai pusat konsultasi agribisnis, "Artinya apa, pertanian itu harus cari duit. Dengan cara itu pertanian akan semakin besar. Terakhir, KostraTani juga akan dibangun sebagai pusat tempat kerja sama. Petani dan penyuluh harus membangun kerja sama dengan seluruh stakeholder seluas-luasnya," kata Dedi.
Kerja sama itu dicontohkan Dedi dengan membangun kolaborasi dengan perbankan, pabrik prasarana dan sarana yang menyediakan pupuk, produk penyedia alat mesin, asuransi, pengolah produk pertanian dan lainnya.
Ditemui usai pertemuan, Lukman Abunawas tak menampik jika wilayah yang dipimpinnya merupakan basis pertanian. "Daerah kami ini basisnya pertanian. Kontribusi ekonomi dari pertanian cukup baik, utamanya dari tanaman pangan, perkebunan dan peternakan," kata Lukman, Rabu [26/5].
Lukman mengatakan, Sultra akan secara besar-besaran membangun irigasi yang melintasi dua hingga tiga kabupaten.
Dia berharap komunikasi antara pemerintah daerah dengan Kementan semakin terus terjalin untuk memajukan pertanian di wilayahnya. Terlebih Ia sampaikan bahwa pembangunan pertanian tanpa dukungan SDM yang memadai tidak akan berjalan baik. Untuk itu pihaknya meminta kepada Kementan agar peningkatan kapasitas SDM pertanian seperti pelatihan dan bimbingan teknis [Bimtek] khususnya bagi penyuluh dan petani terus dilakukan. [Cha]
Kendari of Southeast Sulawesi [B2B] - Indonesian government in the next five years prioritizes the development of human resources that are ready to face globalization in the era of industrialization 4.0, carry out its role to develop millennial farmers who understand information and communication technology, according to the senior official of the agriculture ministry.
