Pertemuan Denpasar, Kementan Dorong Petani Milenial Bangkitkan Pertanian RI

Millennial Farmers are the Target of Developing Indonesian Agricultural HR

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


Pertemuan Denpasar, Kementan Dorong Petani Milenial Bangkitkan Pertanian RI
DUKUNG DPM/DPA: Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi [tengah] di Denpasar didampingi Sesba Siti Munifah; Kapusdik Idha Widi Arsanti [ke-2 kanan] dan Kapuslat Leli Nuryati [kanan] Foto: BPPSDMP

Denpasar, Bali [B2B] - Regenerasi petani menjadi agenda utama Kementerian Pertanian RI melalui pemberdayaan generasi milenial untuk back to agriculture, mengingat sampai saat ini 70% sektor pertanian masih dilakukan generasi kolotnial [usia tua] yang sulit adaptasi teknologi untuk menjawab tantangan global di era Industri 4.0.

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mengakui generasi milenial belum banyak tertarik pada pertanian lantaran stigma negatif, padahal pertanian nasional saat ini bangkit dengan pemanfaatan teknologi informasi dan mekanisasi menuju pertanian maju, mandiri dan modern.

"Dalam 5 tahun, Kementan target mencetak 2,5 juta petani milenial. Anak-anak muda inilah yang diharapkan mampu melaksanakan pertanian modern, kunci peningkatan produktifitas," kata Mentan Syahrul.

Hal senada ditegaskan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi bahwa kaum milenial dikenal bersemangat, inovatif dan adaptif terhadap teknologi digital, sehingga cepat melakukan identifikasi dan verifikasi teknologi. 

"Pertanian modern sangat perlu aksi-aksi dari petani milenial. Saya yakin mereka mampu membangkitkan kejayaan pertanian Indonesia," kata Dedi Nursyamsi di Denpasar, Kamis [16/9] pada ´Pertemuan Pengembangan dan Penguatan Jejaring Kerjasama Antar Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan [DPM/DPA] Kementan´.

Di hadapan para petani milenial Kepala BPPSDMP mengingatkan bahwa pertanian modern merupakan kunci menggenjot produktifitas. Mengingat saat ini daya saing produk pertanian kita masih rendah karena produktifitas rendah. Solusinya adalah pertanian modern didukung generasi milenial yang adaptif pada teknologi.

"Saat ini lebih 2.000 petani milenial sudah memiliki wadah, DPM/DPA, sebagai jawaban regenerasi petani maka harus terus ditambah dan diperkuat, kemudian didorong secara masif sehingga bisa memacu sektor pertanian semakin naik," kata Dedi Nursyamsi.

Dia memastikan bahwa Kementan akan mendukung penuh petani milenial, dengan meningkatkan kapasitas SDM-nya, baik melalui pelatihan maupun pendidikan vokasi. "Saya yakin peran petani milenial sangat penting dan akan mampu mensejahterakan kehidupan bangsa."

Dalam pertemuan tersebut, Dedi Nursyamsi mengurai tentang pertanian modern, yang dicirikan  pemanfaatan produk unggul yang produktifitasnya tinggi plus alat dan mesin pertanian [Alsintan] modern. 

"Kedua, Alsintan dapat medongkrak produktivitas karena kurangi biaya dan percepat proses produksi," katanya.

Ciri ketiga, pemanfaatan internet of things [IoT], big data, artificial intelligence, sensor dan hal-hal terkait inovasi teknologi 4.0 maka petani milenial harus menorehkan tinta emas pada sejarah peningkatan produktivitas pertanian sekaligus menjadi contoh bagi generasi milenial agar kembali ke pertanian. [Cha]

Denpasar of Bali [B2B] - Indonesian government in the next five years prioritizes the development of human resources that are ready to face globalization in the era of industrialization 4.0, carry out its role to develop millennial farmers who understand information and communication technology, according to Indonesian senior official of Agriculture Ministry.