Hilirisasi Pangan, Kementan Rangkul Lansia Bandung Olah Hasil Pertanian
West Java`s Lembang Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Bandung Barat, Jabar (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) mendorong agar seluruh elemen masyarakat turut serta dalam hilirisasi komoditas pertanian. Kerja sama Unit Pelaksana Teknis (UPT) seperti Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang dan Sekolah Lansia Lentera Arcamanik di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat (Jabar) memberi peluang kalangan lanjut usia (Lansia) dapat turut serta.
Kepala BBPP Lembang, Ahmad Dedy Syathori mengatakan BBPP Lembang menyambut semua elemen masyarakat yang hendak turut serta dalam hilirisasi pangan.
Upaya dan komitmen BBPP Lembang sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan hilirasi penting, untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian dan memperkuat kemandirian pangan.
Dalam berbagai kesempatan Amran menekankan bahwa pertanian tidak berhenti di komoditas saja, namun juga diolah agar nilai tambahnya dapat dirasakan oleh pelaku budidaya.
"Hilirisasi adalah keniscayaan. Kita tidak boleh lagi mengekspor bahan mentah. Komoditas pertanian harus diolah di dalam negeri agar nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia, terutama petani," katanya.
Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti bahwa hilirisasi produk pertanian akan mempercepat pertumbuhan ekonomi.
"Menteri mendorong hilirisasi dari produksi pertanian yang sudah ada. Ini akan lebih efisien dan mempercepat pertumbuhan ekonomi, dibanding dengan menciptakan produk yang baru," katanya.
BBPP Lembang
Kepala BBPP Lembang, Ahmad Dedy Syathori mengatakan, peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi dapat dilakukan pada berbagai komoditas termasuk buah naga.
Guna mewujudkan hal tersebut, BBPP Lembang menyambut semua elemen masyarakat yang hendak turut serta dalam hilirisasi.
"Peningkatan nilai tambah melalui proses ini dapat dilakukan pada berbagai komoditas termasuk buah naga," katanya.
Menurut Ahmad Dedy Syathori, hal itu menarik para Lansia tetap aktif di usia lanjut dengan partisipasi pada Sekolah Lansia di antaranya Sekolah Lansia Lentera Arcamanik, yang melihat hilirisasi sebagai kesempatan tetap beraktivitas dengan produktif.
Sekolah Lansia
Sejumlah 21 peserta Sekolah Lansia Arcamanik mengunjungi BBPP Lembang, Rabu (7/10/2026) untuk mempelajari topik-topik seputar pengolahan produk pertanian.
Menyambut hal tersebut, Kepala BBPP Lembang Ahmad Dedy Syathori mengatakan bahwa hilirisasi adalah salah satu fokus selanjutnya Kementan setelah swasembada pangan.
“Presiden Prabowo Subianto menambah fokus perhatian terhadap peningkatan nilai tambah, peningkatan ekspor, pengurangan impor dan peningkatan penyerapan tenaga kerja melalui program hilirisasi komoditas pertanian,” terangnya.
Kesempatan kali ini Sekolah Lansia Lentera Arcamanik disambut di Agriculture Operation Room (AOR) BBPP Lembang sebelum ke Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian.
Dari berbagai topik yang dikenalkan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian BBPP Lembang, resep yang diangkat pada kesempatan ini adalah pembuatan Sorbet dari komoditas buah.
Buah yang dijadikan bahan praktik adalah buah naga. Tasya Fitri Yunada, widyaiswara BBPP Lembang yang menjadi pembimbing pada kesempatan itu, menerangkan buah naga adalah salah satu komoditas yang terkenal manis, menyegarkan, dan harganya cukup terjangkau.
Dengan melalui proses pengolahan buah tersebut dapat mendapatkan nilai tambah sehingga satu buah dapat menjadi beberapa cup sorbet.
Setelah praktik, peserta kunjungan dari Sekolah Lansia Lentera Arcamanik berkesempatan untuk melihat koleksi tanaman hias BBPP Lembang. Beberapa yang masih ingin berkeliling dipandu oleh petugas lapangan untuk melihat kawasan Rumah Pangan Lestari (RPL).
Siti Umayah, Kepala Sekolah Lansia Lentera Arcamanik memberikan kesannya menutup kunjungan. “Terima kasih telah menerima kami untuk kunjungan praktik." [afriski/chetty/dary/timhumas bbpplembang]
West Bandung of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
