Sulap Limbah Durian jadi `Emas Hitam` di Kampung Rancamaya Bogor


Sulap Limbah Durian jadi `Emas Hitam` di Kampung Rancamaya Bogor
BB PUSTAKA: Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan, pelatihan bukan sekadar edukasi, juga gerakan nyata menuju pertanian berkelanjutan, yang berlangsung di Kampung Durian Rancamaya, Bogor, belum lama ini.

 

MUSIM durian selalu dinanti. Aroma khasnya menggoda. Rasanya memikat. Di balik kelezatannya, muncul persoalan klasik. Tumpukan kulit durian menggunung. Di sentra produksi seperti Kampung Durian Rancamaya, Kabupaten Bogor di Provinsi Jawa Barat, limbah durian selama bertahun-tahun belum dimanfaatkan secara optimal.

Padahal, setiap musim panen yang biasanya terjadi dua kali setahun, yakni Desember - Februari dan Juni - Agustus, jumlah limbah cangkang durian meningkat drastis seiring lonjakan produksi durian. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, produksi durian nasional pada 2024 mencapai 1,96 juta ton. Tertinggi dalam lima tahun terakhir. Jawa Barat menempati posisi ketiga dengan produksi signifikan, yang otomatis berbanding lurus dengan volume limbahnya.

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, pembangunan pertanian berkelanjutan menjadi kunci utama memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Melalui penerapan budidaya organik, produktivitas padi dapat ditingkatkan tanpa merusak lingkungan. Di sisi lain, cara ini juga mampu menghasilkan pangan lebih sehat dan aman dikonsumsi masyarakat,” katanya.

Pendapat senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian - Kementerian Pertanian RI (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti bahwa padi ekologi bukan hanya metode budidaya, melainkan sebuah pendekatan untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Dalam hal ini, peran penyuluh sangat krusial mendampingi petani agar mampu menerapkan praktik ekologi dengan tepat, sehingga sektor pertanian tetap produktif, berwawasan lingkungan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

Terobosan BB Pustaka
Berangkat dari kondisi tersebut, Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) melalui layanan literasi masyarakat menghadirkan solusi inovatif melalui ´Pelatihan Pengolahan Limbah Kulit Durian Menjadi Pupuk Organik´.

Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan, pelatihan bukan sekadar edukasi, juga gerakan nyata menuju pertanian berkelanjutan, yang berlangsung di Kampung Durian Rancamaya, belum lama ini.

Dia menambahkan, kegiatan pelatihan dilatarbelakangi oleh melimpahnya limbah kulit durian di kawasan Rancamaya yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan.

“Melalui kegiatan ini, BB Pustaka berupaya meningkatkan literasi petani dan masyarakat dalam mengolah limbah tersebut menjadi pupuk organik yang bernilai guna tinggi bagi pertanian lokal,” kata Eko Nugroho.

Potensi Tersembunyi
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Entis Sutisna mengatakan karakteristik limbah kulit durian, kandungan bahan organik di dalamnya, serta potensi pemanfaatannya sebagai pupuk yang mampu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan ketersediaan unsur hara. 

Dia memaparkan tahapan teknis pengolahan kulit durian, mulai dari pencacahan, proses fermentasi hingga aplikasi pupuk pada lahan pertanian.

"Kulit durian ternyata bukan sekadar sampah. Sekitar 50% hingga 60%, bagian buah durian mengandung serat kasar, selulosa dan lignin yang tinggi." katanya lagi.

Selain itu, terdapat unsur hara penting seperti Kalium (K), Fosfor (P), Magnesium (Mg) dan senyawa bioaktif yang sangat bermanfaat bagi tanah.

Dengan komposisi tersebut, ungkap Entis Sutisna, kulit durian sangat potensial diolah menjadi kompos organik, sebagai sumber nutrisi alami bagi tanaman serta Biochar (arang hayati), hasil pembakaran tidak sempurna yang kaya karbon dan mampu memperbaiki struktur tanah.
 
Material biochar ini dikenal efektif meningkatkan porositas tanah, kapasitas tukar kation (KTK), serta kemampuan tanah menahan air (WHC). Bahkan, senyawa humik yang terbentuk dalam proses pengomposan mampu mengikat unsur hara agar lebih mudah diserap tanaman.

Tantangan Pertanian
Pelatihan hadir di tengah berbagai persoalan yang dihadapi petani seperti kenaikan dan kelangkaan pupuk anorganik, degradasi lahan dan menurunnya kesuburan tanah serta rendahnya kandungan bahan organik. 

Data Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Sumber Daya Lahan Pertanian Kementan (BBSDLP) menunjukkan sekitar 73% lahan sawah memiliki kandungan karbon organik sangat rendah (<2%). Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya produktivitas dan kesehatan tanah.

Melalui pemanfaatan limbah organik seperti kulit durian, petani didorong untuk lebih mandiri dalam menyediakan pupuk sekaligus memperbaiki kualitas lahan secara berkelanjutan.

Peran Mikroba
Dalam pelatihan, peserta juga dikenalkan pada peran mikroba dekomposer unggul seperti Coriolopsis hainanensis, Polyporus thailandensis, dan Cerrena aurantiopora. 

Mikroba tersebut berfungsi mempercepat proses penguraian bahan organik dan pembentukan senyawa humik.

Menariknya, sumber mikroba alami juga bisa diperoleh dari tanah kebun yang subur. Dengan menambahkan sedikit tanah tersebut ke dalam tumpukan kompos, proses fermentasi dapat berlangsung lebih cepat dan efektif.

Berkah dari Limbah
Proses pembuatan kompos dilakukan secara sederhana namun terstruktur. Dimulai dari pengumpulan dan pencacahan bahan, pencampuran bahan organik, kotoran hewan, dan biochar, pengomposan dengan sistem windrow, pengaturan rasio C/N dan pH serta Inkubasi hingga panen kompos 

Komposisi yang digunakan terdiri atas 60% limbah organik (termasuk kulit durian), 30% kotoran hewan, 5% kasgot, 5% biochar atau zeolit (opsional) 

Literasi Menggerakkan
Kegiatan pelatihan menjadi bukti bahwa literasi tidak hanya soal membaca buku, tetapi juga bagaimana pengetahuan diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Dari limbah yang sebelumnya terbuang, kini lahir peluang ekonomi sekaligus solusi ekologis.

Di Kampung Durian Rancamaya, kulit durian tak lagi sekadar sisa. Ia telah bertransformasi menjadi “emas hitam” yang menyuburkan tanah, menguatkan petani, dan menjaga lingkungan. [dhira/shinta/timhumas bbpustakakementan]

 

 

Disclaimer : B2B adalah bilingual News, dan opini tanpa terjemahan inggris karena bukan tergolong berita melainkan pendapat mewakili individu dan/atau institusi. Setiap opini menjadi tanggung jawab Penulis