Fase `New Normal`, Ini Strategi Kementan Dukung Ketersediaan Pangan

Indonesia Food Security is the Country`s Defense Anticipate Covid-19

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


Fase `New Normal`, Ini Strategi Kementan Dukung Ketersediaan Pangan
KUNJUNGI SUBANG: Mentan Syahrul Yasin Limpo dialog dengan petani di Kabupaten Subang, Jabar yang didorong untuk memanfaatkan alat mesin pertanian [Alsintan] untuk mendukung peningkatan produksi [Foto: Biro Humas Kementan]

Jakarta [B2B] - Tantangan utama Indonesia saat ini adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pangan masyarakat untuk menjamin ketahanan pangan, di sisi lain berperan terhadap pemulihan ekonomi. Sektor pertanian harus didorong menjadi penggerak ekonomi nasional sehingga pertumbuhan sektor pertanian harus lebih dipacu pada fase Normal Baru [New Normal].

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mengatakan pandemi Covid-19 mempengaruhi seluruh aspek kehidupan bahkan telah mengubah paradigma, sehingga kebijakan-kebijakan baru harus ditata untuk menjawab tantangan pada fase New Normal. 

"Kementerian Pertanian RI harus menyikapinya dengan menetapkan strategi dan cara bertindak mendukung peran petani dan penyuluh dalam gerakan ketahanan pangan nasional," kata Mentan Syahrul seperti dikutip oleh Kepala BPPSDMP Prof Dedi Nursyamsi di Jakarta, Jumat [12/6] pada video conference ´Mentan Sapa Petani dan Penyuluh´ [MSPP] yang melibatkan Gubernur Kalimantan Utara, H Irianto Lambrie di Tarakan.

Mentan mengingatkan pandemi Covid-19 mempengaruhi produksi dan distribusi hasil produksi pertanian, akibat pembatasan sosial hingga isolasi mandiri. Tantangan tersebut harus diantisipasi dengan strategi yang saling membangun dari sisi pelaksana, pembiayaan dan pengawasan sehingga kebijakan yang dijalankan lebih efektif dan efisien.

Dedi Nursyamsi melalui kegiatan MSPP menguraikan arahan Mentan Syahrul tentang ´strategi Kementan dan cara bertindak di era New Normal, yang disebutnya sebagai Agenda SOS/Emergency [agenda darurat].

Agenda Darurat yang dimaksud adalah menjaga stabilitas harga pangan, membangun penyanggah stok pangan utama di daerah, padat karya pertanian, jaring pengaman sosial, fasilitasi pembiayaan petani melalui Kredit Usaha Rakyat [KUR] dan asuransi pertanian, memperluas akses pasar melalui pengembangan toko tani dan usaha kemitraan.

"Sementara agenda jangka menengah antara lain padat karya lanjutan pasca Covid-19, diversifikasi pangan lokal, mendukung daerah-daerah defisit pangan, antisipasi kekeringan, menjaga semangat kerja pertanian melalui bantuan sarana produksi dan mesin pertanian," kata Mentan seperti dikutip Dedi Nursyamsi.

Tak kalah penting, katanya, adalah program pekarangan pangan lestari atau P2L, mendorong kelancaran distribusi pangan, penguatan ekspor pertanian dan penguatan Komando Strategis Pembangunan Pertanian [KostraTani] pada balai penyuluhan pertanian [BPP] di tingkat kecamatan.

Mentan Syahrul juga menguraikan tentang Agenda Permanen untuk jangka panjang meliputi peningkatan produksi pertanian 7% per tahun, penurunan kehilangan pasca panen [losses] menjadi 5%, ekstensifikasi tanaman pangan pada lahan rawa, penumbuhan pengusaha petani milenial, pengembangan korporasi petani, pengembangan B30 dan kelapa sawit, pertanian era 4.0, peningkatan ekspor tiga kali lipat dan peningkatan Nilai Tukar Petani [NTP].

"Cara bertindak pertama Kementan di era New Normal fokus pada peningkatan kapasitas produksi antara lain percepatan tanam padi di musim tanam kedua atau MT II 2020 seluas 5,6 juta hektar. Pengembangan lahan rawa di Kalimantan Tengah seluas 164.598 hektar," kata Dedi Nursyamsi mengutip instruksi Mentan.

Perluasan areal tanam baru atau PATB untuk padi, jagung, bawang merah, dan cabai di daerah defisit; dan peningkatan produksi gula, daging sapi dan bawang putih untuk menekan impor.

Cara bertindak kedua Kementan adalah diversifikasi pangan lokal berbasis kearifan lokal, pemanfaatan pangan lokal secara masif dan pemanfaatan lahan pekarangan dan marjinal melalui Program P2L untuk 3.876 kelompok. 

"Penguatan cadangan beras pemerintah di tingkat provinsi, kabupaten dan kota, pengembangan lumbung pangan masyarakat atau LPM berbasis desa dengan target 5.328 LPM di 33 provinsi termasuk cara bertindak ketiga Kementan," katanya.

Jakarta [B2B] - Indonesian Agriculture Ministry immediately formulate strategic policy of food security and nutrition, as one of the efforts to support President Joko Widodo in formulating food policy, because food security is identical to the country´s security anticipate coronavirus, according to the Minister Syahrul Yasin Limpo.