Alsintan Impor Dominasi Pasar, Balitbang Kementan Gandeng Bukaka
Indonesian Agriculture Ministry Cooperate with Bukaka Teknik Utama
Reporter : Gusmiati Waris
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Jakarta (B2B) - Daya saing suatu negara lebih ditentukan oleh keberhasilan negara dalam mengelola aset intelektualnya, termasuk teknologi alat dan mesin pertanian. Dalam era pembangunan pertanian yang makin kompetitif, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan) dituntut menjadi leading institution dalam penciptaan dan pengembangan teknologi pertanian di Indonesia yang memberikan manfaat nyata pada pembangunan pertanian.
Kepala Balitbangtan Kementan, Haryono mengatakan untuk mendukung pencapaian swasembada pangan khususnya padi, jagung dan kedelai disingkat Pajale melalui upaya khusus untuk menyediakan prasarana dan sarana pertanian berupa ketersediaan air, irigasi, benih, pupuk dan alat mesin pertanian (alsintan).
"Kebutuhan alsintan, khususnya mesin tanam dan mesin pemanen padi salah satunya dengan memanfaatkan teknologi hasil karya anak bangsa yang unggul dan siap mensubstitusi produk alsintan impor yang hingga saat ini masih mendominasi pasar dalam negeri," kata Haryono dalam sambutan tertulisnya terkait penandatanganan kerja sama lisensi Balitbangtan Kementan dengan PT Bukaka Teknik Utama di Jakarta, Selasa.
Balitbangtan melalui Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian telah menghasilkan invensi ´Rice Transplanter Jajar Legowo´ yang dapat digunakan di lahan sawah dengan kedalaman lumpur lebih 60 cm dan ´Mini Combine Harvester´ yang memiliki nilai ground pressure rendah sehingga mesin ini dapat beroperasi di lahan sawah. Mesin panen mini bekerja dengan sistem pemotongan, perontokan dan pembersihan.
Haryono menambahkan, kebutuhan kedua alsintan tersebut mendukung upaya khusus mencapai swasembada pangan mencapai ribuan unit, sehingga pihaknya menggandeng dunia usaha agar kedua alsintan dapat diproduksi secara massal, salah satunya dengan PT Bukaka Teknik Utama, sebagai perusahaan yang berpengalaman puluhan tahun dalam industri manufaktur dan konstruksi.
"Sebanyak 108 invensi Balitbangtan telah dilisensikan kepada berbagai perusahaan dan koperasi di Indonesia dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. Lebih dari separuh teknologi yang dilisensi tersebut telah dikembangkan secara luas di masyarakat oleh perusahaan yang melisensinya, dan telah menghasilkan royalti Rp1 miliar selama 2014. Sementara beberapa lainnya ," kata Haryono.
Dia berharap, ke depan dengan disetujuinya pemanfaatan hasil royalti sebagai insentif bagi peneliti, melalui penerbitan peraturan menteri keuangan, diharapkan semakin merangsang peneliti untuk melakukan penelitian yang berbasis HKI dan bernilai komersial, serta siap dikerjasamakan dalam bentuk lisensi dengan berbagai perusahaan dan koperasi.
Jakarta (B2B) - The competitiveness of a nation is determined by the success of managing intellectual assets, including agricultural technology. In the era of increasingly competitive agricultural development, Indonesian Agency for Agricultural Research and Development of Indonesian Agriculture Ministry (IAARD) required to become a leading institution in the creation and development of agricultural technologies that are beneficial for agricultural development in Indonesia.
Head of IAARD, Haryono stated to support the achievement of food self-sufficiency specialty rice, corn and soybeans through special measures to provide infrastructure and agriculture for water supply, irrigation, seeds, fertilizers and agricultural machinery.
"Needs machine rice planting and harvesting machine made in Indonesia by utilizing superior technology and ready to substitute imported products still dominate the domestic market," said Haryono in a written statement related to the signing of a licensing agreement with Bukaka Teknik Utama Corp. here on Tuesday.
Center for Agricultural Engineering Research and Development has produced inventions ´Rice Transplanter Jajar Legowo´ to rice field with more mud depth of 60 cm and ´Mini Combine Harvester´ the low ground pressure in the paddy field. Multipurpose mini harvesters working for cutting, threshing and cleaning.
Haryono added, both machines must be made thousands of units to support the achievement of food self-sufficiency, by cooperating with businesses that can be mass produced, such as the PT Bukaka Teknik Utama, as the company experienced decades in the manufacturing and construction industries.
"A total of 108 inventions have been licensed to various companies and cooperatives in Indonesia within the last seven years. More than half of the licensed technology developed extensively by companies that got the license, and royalties earned IDR 1 billion during 2014," Haryono added.
He hoped, in the future with the use of royalties as an incentive for researchers, through the issuance of regulations finance minister, is expected to further stimulate researchers to examine based on intellectual property rights and commercial, as well as ready to cooperate with companies and cooperatives.
