Brigade Pangan: Gernas Bangkitkan Lahan Tidur menuju Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Indonesian Govt Support Farmers to Increase Food Production across the Country

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Brigade Pangan: Gernas Bangkitkan Lahan Tidur menuju Ketahanan Pangan Berkelanjutan
BPPSDMP KEMENTAN: Brigade Pangan dibentuk di bawah koordinasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan. Gerakan ini melibatkan petani muda, penyuluh, Babinsa dan unsur TNI AD yang bersama-sama mengelola lahan tidur menjadi produktif.

Jakarta (B2B) - Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat fondasi kedaulatan pangan nasional melalui berbagai terobosan di lapangan. Salah satu program unggulan yang kini menjadi simbol kebangkitan pertanian Indonesia adalah Brigade Pangan sebuah gerakan kolaboratif yang menghidupkan kembali lahan-lahan tidur dan menumbuhkan semangat gotong royong sebagai pilar ketahanan nasional.
 
Gerakan ini menjadi wujud nyata implementasi visi pemerintah untuk mewujudkan kemandirian pangan dan menggerakkan ekonomi rakyat melalui sektor pertanian yang produktif, modern, dan berkeadilan.
 
Ketahanan pangan bukan sekadar soal beras di meja makan. Ia menyangkut masa depan bangsa, kesejahteraan rakyat, dan keberlanjutan tanah air. 

Indonesia dengan hampir 280 juta jiwa menghadapi tantangan besar: lahan produktif yang menyusut, konversi sawah menjadi kawasan industri, serta bencana alam yang kerap merusak areal pertanian.

Pada masa Orde Baru, Indonesia pernah mencapai swasembada pangan melalui intensifikasi pertanian, memperbaiki irigasi, mengembangkan bibit unggul, dan mengoptimalkan lahan tidur. 

Kini, di tengah perubahan iklim dan tekanan ekonomi global, dibutuhkan strategi baru yang adaptif dan melibatkan semua elemen bangsa.
 
Brigade Pangan dibentuk di bawah koordinasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan. Gerakan ini melibatkan petani muda, penyuluh pertanian, serta Babinsa dan unsur TNI AD yang bersama-sama mengelola lahan tidur menjadi produktif.
 
Hingga Februari 2025, tercatat 1.771 Brigade Pangan telah terbentuk di 12 provinsi, bekerja sama dengan pemerintah daerah, pemilik lahan, dan dunia usaha. Setiap unit beranggotakan sekitar 15 orang yang mengelola rata-rata 200 hektare lahan.
 
Brigade Pangan bukan sekadar proyek peningkatan produksi, tetapi gerakan pemberdayaan yang memperkenalkan mekanisasi, teknologi digital pertanian, dan pola usaha tani berbasis pasar. Kehadiran petani muda menjadikan pertanian semakin dinamis dan menjanjikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi daerah.
 
Keterlibatan TNI AD dalam program ini menegaskan bahwa pangan adalah urusan strategis negara. Melalui dukungan Babinsa dan Brigade Teritorial, kegiatan pertanian di lapangan mendapat pembinaan, pengawalan, serta pengamanan distribusi sarana produksi.

Sinergi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan dan ketahanan nasional saling terkait erat. Pangan bukan hanya urusan ekonomi, tetapi juga menyangkut stabilitas sosial, kedaulatan, dan kekuatan bangsa.
 
Gerakan ini dihadapkan pada tantangan seperti penataan lahan, perlindungan hak masyarakat lokal, serta keseimbangan antara produksi dan kelestarian lingkungan. Namun, dengan pendekatan kolaboratif lintas sektor dan pemberdayaan masyarakat, semua tantangan tersebut dapat dihadapi secara konstruktif.
 
Kementan menegaskan bahwa kemandirian pangan hanya dapat dicapai melalui kerja bersama seluruh elemen bangsa. 

Pemerintah terus memperluas jangkauan Brigade Pangan di berbagai wilayah, mempercepat pemanfaatan lahan-lahan tidak produktif, serta memperkuat sistem penyuluhan dan pendampingan lapangan.
 
Gerakan Brigade Pangan menjadi simbol kebangkitan baru Indonesia: lahan tidur dihidupkan, generasi muda kembali turun ke tanah, dan semangat gotong royong menjadi energi bersama.

Jakarta [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.

Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.