Mentan Temui 1.000 Petani Indramayu, Selesaikan Masalah Petani Sebelum Demo

Indonesian Govt Support the Farmers to Increase National Food Production

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Mentan Temui 1.000 Petani Indramayu, Selesaikan Masalah Petani Sebelum Demo
BPPSDMP KEMENTAN: Mentan Amran Sulaiman memilih berdialog langsung, untuk mendengar satu per satu persoalan yang dihadapi petani, sekaligus mencari solusi atas berbagai kendala yang selama ini menghambat produksi pertanian di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

 

Jakarta (B2B) - Menteri Pertanian RI (Mentan) Amran menemui sekitar 1.000 petani asal Indramayu yang datang ke Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Kamis (24/9) pagi. Pertemuan berlangsung sebelum para petani melakukan aksi demonstrasi bertepatan dengan momentum Hari Tani Nasional.

Mentan Amran langsung menemui para petani setelah mendengar kedatangan mereka seusai salat subuh. 

Dia memilih berdialog secara langsung untuk mendengar satu per satu persoalan yang dihadapi petani, sekaligus mencari solusi atas berbagai kendala yang selama ini menghambat produksi pertanian di wilayah Indramayu.

Dalam audiensi tersebut, para petani menyampaikan persoalan utama berupa keterbatasan air untuk lahan sawah tadah hujan, kurangnya infrastruktur irigasi, kebutuhan irigasi perpompaan (irpom), distribusi pupuk, hingga kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Para petani menjelaskan bahwa sebagian wilayah Indramayu masih sangat bergantung pada hujan. Akibat keterbatasan air, petani kerap hanya dapat memanen satu kali dalam setahun meski telah menanam hingga dua kali.

“Pak Amran, kami petani tadah hujan. Sudah lama. Tiap tahun nanam dua kali, tapi yang panen cuma satu kali,” ujar salah seorang petani dalam audiensi tersebut.

Jalur Irigasi

Petani juga menyampaikan bahwa bantuan irpom yang sebelumnya telah diberikan pemerintah sudah diterima dan digunakan. Namun, cakupan bantuan tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan lahan yang luas, khususnya pada 24 basis kelompok petani.

“Harapan kami, berhubung kami di 24 basis, agar diupayakan juga mendapatkan 24 irpom tersebut,” ujar perwakilan petani.

Persoalan air menjadi perhatian utama Mentan Amran. Petani menyampaikan bahwa sebenarnya terdapat sumber air dari Bendungan Cipanas yang berjarak sekitar 1 hingga 5 kilometer dari lahan mereka. 

Bahkan, sebelumnya telah dilakukan pendataan untuk pembangunan jalur irigasi sepanjang sekitar 24,75 kilometer, tetapi saluran tersebut belum tersedia.

Mentan Amran kemudian meminta pejabat terkait untuk segera menindaklanjuti persoalan tersebut. Ia bahkan langsung menghubungi Balai Wilayah Sungai (BWS) Cisanggarung untuk menanyakan progres pembangunan jaringan irigasi air tanah (JIAT) dan infrastruktur pengairan dari Bendungan Cipanas menuju wilayah pertanian yang membutuhkan.

“Ini sudah dua tahun didemo. Ini rakyat kita, ini saudara kita, ini anak kita. Apa bisa, bagaimana programnya progresnya? Karena ini sudah dicek dulu,” kata Mentan Amran saat menghubungi BWS.

Mentan menegaskan, persoalan air tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena langsung berkaitan dengan keberhasilan panen petani.

“Kalau tidak ada anggarannya, saya pindahkan dari Kementerian Pertanian. Bisa? Berapa biayanya? Bisa tidak selesai masalah ini? Inilah gunanya kita melayani rakyat,” tegasnya.

Kebutuhan Pompa

Dalam komunikasi tersebut, Mentan Amran juga meminta agar persoalan irigasi di sejumlah kecamatan yang disampaikan petani, antara lain Kroya, Gantar dan wilayah sekitarnya, segera dikawal hingga tuntas.

Mentan Amran kemudian meminta agar pengerjaan infrastruktur irigasi yang menjadi kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum segera diselesaikan. Ia meminta target penyelesaian tidak berlarut-larut.

“Kalau tidak selesai, berapa lama pengerjaan irpom? Dua bulan?” ujar Mentan Amran.

Mentan bahkan menegaskan akan meminta pertanggungjawaban pejabat terkait apabila persoalan tersebut tidak dituntaskan sesuai komitmen.

Mentan Amran juga meminta koordinasi antara Kementan dan Kementerian PU diperkuat. Kementan, kata dia, siap mendukung kebutuhan pompa, sementara pembangunan saluran irigasi menjadi bagian yang perlu ditindaklanjuti bersama kementerian terkait.

Kebutuhan Alsintan

Selain air, petani Indramayu juga menyampaikan kebutuhan alat dan mesin pertanian. Mereka mengapresiasi bantuan yang sebelumnya telah diberikan Kementan karena sebagian besar bantuan tersebut telah tiba dan bahkan sudah digunakan.

“Yang dulu saya janjikan sudah tiba traktornya?” tanya Mentan Amran.

“Sudah, sudah dipakai,” jawab petani.

Para petani menyampaikan bahwa bantuan tersebut sangat membantu menekan biaya produksi. Namun, karena kebutuhan mencakup 24 basis petani, mereka berharap jumlah alsintan dapat ditambah.

Mentan Amran merespons dengan meminta agar kelembagaan petani diperkuat sehingga bantuan dapat dikelola dengan baik. Ia juga menyatakan akan menambah bantuan traktor.

Untuk kebutuhan tersebut, Mentan Amran memastikan bantuan 24 unit hand tractor akan diberikan untuk 24 basis petani. Selain itu, dua unit traktor besar juga akan ditambahkan.

Sebelumnya, petani telah menerima bantuan lima unit hand tractor dan enam unit combine harvester, serta bantuan irpom. Bantuan tersebut menurut petani sudah sampai dan telah dimanfaatkan.

“Traktor kurang saya urusi. Besok kirim. Malah saya tambahkan,” tegas Mentan Amran.

Akses Bantuan

Dalam dialog tersebut, petani juga menyampaikan kendala kelembagaan dalam mengakses bantuan pemerintah. Mereka berharap bantuan dapat diberikan secara langsung kepada kelembagaan yang benar-benar dibentuk dan dijalankan petani.

Menanggapi hal itu, Mentan Amran meresmikan kelompok petani Maju Berani Berjuang yang dibentuk oleh petani Indramayu.

“Namanya Kelompok Maju Berani Berjuang, saya resmikan hari ini,” ujar Mentan Amran.

Mentan meminta agar kelompok tersebut menjadi wadah yang bertanggung jawab dalam mengelola bantuan pertanian.

“Jadi ini kelompok baru ya, Kelompok Maju Berani Berjuang. Ini menteri yang resmikan Kelompok Maju Berani Berjuang,” katanya.

Mentan Amran juga menegaskan bahwa penyaluran bantuan harus benar-benar sampai kepada petani yang membutuhkan dan tidak boleh terhambat oleh birokrasi di tingkat bawah.

Distribusi Pupuk

Petani juga menyampaikan adanya persoalan distribusi pupuk. Mereka mengeluhkan masih ada petani yang belum memperoleh pupuk sesuai kebutuhan.

Mentan Amran langsung menghubungi pihak PT Pupuk Indoensia yang bertanggung jawab atas distribusi pupuk untuk meminta persoalan tersebut diselesaikan.

“Kenapa ini ada masalah pupuk? Ini minta tambah pupuk. Selesaikan ya. Ini ada 1.000 orang di sini,” kata Mentan Amran.

Dengan langkah tersebut, Mentan Amran meminta agar persoalan pupuk yang disampaikan petani tidak berhenti sebagai aspirasi, tetapi segera ditindaklanjuti di lapangan.

Kebutuhan Benih

Kebutuhan benih juga menjadi bagian dari aspirasi petani. Menanggapi kebutuhan tersebut, Mentan Amran memberikan bantuan benih padi untuk lahan seluas 1.000 hektare.

“Jadi gini, butuh benih padi? Aku kasih 1.000 hektare. Aku kasih ketua kelompok. Dua hari tiba,” ujar Mentan Amran.

Ia meminta petani segera melaporkan apabila bantuan yang diberikan belum mencukupi kebutuhan.

Dalam audiensi tersebut, petani juga menyampaikan apresiasi kepada Mentan Amran karena sejumlah bantuan yang sebelumnya dijanjikan telah diterima.

“Terima kasih Pak Amran yang sudah memberikan traktor dan combine bagi petani Indramayu,” ujar perwakilan petani.

Petani juga mengakui bantuan tersebut telah digunakan dan memberikan manfaat bagi kegiatan produksi.

Bagi petani, bantuan alsintan dapat menjadi salah satu cara menekan biaya produksi sekaligus mempercepat kegiatan budidaya dan panen.

Mentan Amran menegaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah untuk mendengarkan dan menyelesaikan persoalan petani secara langsung.

Kekuatan Pangan

Mentan mengatakan petani merupakan bagian penting dari kekuatan pangan nasional sehingga persoalan yang mereka hadapi harus diselesaikan bersama.

“Tahu tidak, petani anak saya? Petani padi 115 juta. Itu harus dimudahkan,” ujar Mentan Amran.

Mentan menegaskan bahwa dirinya tidak membedakan petani berdasarkan jumlah yang datang menyampaikan aspirasi.

“Ini baru seribu datang sudah pening kita. Bagaimana kalau 115 juta datang? Tapi saya sebagai bapaknya, saya wajib melayani. Apa pun, siapa pun ada,” katanya.

Mentan Amran juga meminta agar petani tidak perlu menempuh jalur birokrasi yang panjang ketika terdapat persoalan di sektor pertanian. Untuk bantuan yang menjadi kewenangan Kementan, ia meminta agar koordinasi dilakukan langsung dengan kelompok petani yang telah dibentuk.

“Kalau di bawah saya, langsung. Kalau pertanian di bawah sini, saya urusi. Pertanian, kelembagaan saya urusi,” tegasnya. [esap/timhumas bppsdmpkementan]

 

 

 

 

 

 

Jakarta [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.