Tekan Inflasi Pangan, Polbangtan Kementan Cetak Desa Mandiri Benih Bawang Merah di Gunungkidul
Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s Polbangtan YoMa
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Gunungkidul, DIY (B2B) - Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) pada Kementerian Pertanian RI (Kementan) bersama Perwakilan Bank Indonesia DIY terus memperkuat upaya pengendalian inflasi pangan melalui pengembangan Desa Mandiri Benih di Kabupaten Gunungkidul.
Direktur Polbangtan YoMa, R Hermawan mengatakan program tersebut difokuskan pada komoditas bawang merah, yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama fluktuasi harga pangan nasional.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pengembangan komoditas hortikultura, termasuk bawang merah, terus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada pangan nasional.
"Indonesia memiliki sumber daya pertanian yang sangat besar sehingga harus dikelola secara optimal agar mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor," katanya.
Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa bawang merah merupakan komoditas strategis nasional yang memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas harga pangan.
"Peningkatan produksi dan penyediaan benih berkualitas harus terus didorong melalui pendampingan dan pemberdayaan petani," katanya.
Polbangtan YoMa
Direktur Polbangtan YoMa, R Hermawan mengatakan, memasuki tahun ketiga pelaksanaan program, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan Kementan di Yogyakarta dan Magelang tersebut kembali dipercaya mendampingi Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Makmur II di Padukuhan Klayar, Kelurahan Kedungpoh, Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul.
"Pendampingan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan petani memproduksi benih bawang merah bermutu dan bersertifikat sehingga mampu memenuhi kebutuhan benih secara mandiri," katanya.
Melalui pendampingan intensif, petani berhasil memanen benih bawang merah varietas Bima Brebes berlabel ungu atau benih pokok (Stock Seed/Registered Seed) pada Jumat pekan lalu (3/7).
"Benih tersebut memiliki kemurnian genetik yang tinggi dan dapat digunakan untuk memproduksi benih sebar (label biru) maupun langsung ditanam guna memperoleh hasil panen yang optimal" kata R Hermawan.
Keberhasilan tersebut menjadi langkah strategis memperkuat ketersediaan benih unggul di tingkat petani. Dengan demikian, petani tidak lagi bergantung pada pasokan benih dari luar daerah, sekaligus memiliki peluang meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Desa Mandiri Benih
Dosen Polbangtan Yoma yang mendampingi kegiatan, Rajiman menjelaskan, pendampingan tidak berhenti setelah panen. Tahapan berikutnya meliputi pengeringan, sortasi hingga penyimpanan calon benih di gudang milik kelompok tani.
"Sebulan setelah panen akan dilakukan pengajuan pemeriksaan umbi kepada Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Pertanian (BPSBP) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk proses verifikasi dan sertifikasi," jelasnya.
Rajiman menambahkan, program Desa Mandiri Benih memberikan manfaat besar bagi petani menyediakan benih bermutu sekaligus menjaga stabilitas pasokan.
"Kami berupaya memenuhi prinsip enam tepat, yaitu tepat varietas, jumlah, kualitas, harga, lokasi, dan waktu. Ketersediaan benih yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas sekaligus membantu mengendalikan inflasi komoditas bawang merah," ujarnya.
Selain meningkatkan kemandirian petani dalam penyediaan benih bersertifikat, program ini juga menjadi laboratorium lapangan bagi mahasiswa Program Studi Teknologi Benih Polbangtan Yoma, khususnya pada mata kuliah sertifikasi benih.
"Dengan demikian, kegiatan tidak hanya memberikan dampak bagi petani, juga mendukung penguatan kompetensi SDM pertanian melalui pembelajaran berbasis praktik di lapangan," kata Rajman. [novita/timhumas polbangtanyoma]
Gunung Kidul of Yogyakarta [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
