Naik Level! Teknologi Presisi & Mekanisasi jadi Senjata Baru Capai Swasembada

Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s Polbangtan Bogor

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Naik Level! Teknologi Presisi & Mekanisasi jadi Senjata Baru Capai Swasembada
POLBANGTAN BOGOR: Diskusi berlangsung interaktif dengan Aminudin Alfat, Wakil Direktur II Polbangtan Bogor selaku moderator didampingi Cahaya dan Facri sebagai host yang memandu jalannya diskusi sekaligus menjembatani interaksi antara narasumber dan peserta.

 

Bogor, Jabar (B2B) - Pertanian Indonesia tengah memasuki era baru. Pemanfaatan teknologi presisi dan mekanisasi modern menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing sektor pertanian. Hal tersebut mengemuka pada Millennial Agriculture Forum (MAF) Vol. 7 Edisi 31 yang digelar oleh Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, belum lama ini.

Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto mengatakan webinar MAF bertema ´Precision Agriculture: Transformasi Mekanisasi Pertanian Menuju Swasembada Pangan´ menjadi ruang diskusi bagi generasi muda pertanian, untuk membahas pentingnya penguasaan teknologi presisi dan mekanisasi menghadapi tantangan pertanian masa depan. 

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengapresiasi penyelenggaraan MAF sebagai bagian dari upaya mempercepat transformasi pertanian melalui inovasi dan teknologi. 

"Generasi muda memiliki peran penting mendorong terwujudnya pertanian modern dan memperkuat ketahanan pangan nasional," katanya.

Mentan Amran menambahkan, teknologi terapan adalah kunci kebangkitan pertanian Indonesia. Brigade Pangan menjadi ujung tombak di lapangan, dan generasi milenial harus berada di depan dalam menguasai inovasi. 

"Pemerintah terus mendukung pengembangan alat, mekanisasi dan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” katanya.

Dia menambahkan, forum diskusi seperti MAF perlu terus dikembangkan dan diperluas karena dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus berbagi pengalaman mengenai berbagai solusi yang dibutuhkan petani. 

"Dengan demikian, adopsi teknologi di sektor pertanian diharapkan berlangsung lebih cepat dan tepat sasaran," kata Mentan Amran Sulaiman.

Kualitas SDM
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas SDM pertanian.

“Ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi pada manusia yang mengoperasikan dan memanfaatkannya. SDM pertanian harus adaptif, kreatif dan mampu menerapkan teknologi secara efektif," katanya.

Melalui forum seperti MAF, ungkap Kabadan SDM, Polbangtan membuktikan komitmennya melahirkan SDM unggul yang siap menghadapi tantangan sektor pangan.

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, mengajak generasi muda pertanian untuk tidak berhenti belajar dan terus memperbarui pengetahuan. 

Perkembangan teknologi yang begitu cepat, menuntut insan pertanian untuk senantiasa meningkatkan kompetensi agar mampu memberikan solusi nyata bagi petani.

“Mari kita manfaatkan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan. Kita harus terus belajar tanpa batas. Terus mencari dan menggali berbagai informasi yang dapat menjadi referensi bagi petani, kelompok tani, maupun Brigade Pangan,” katanya.

Polbangtan Bogor
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto dalam sambutannya menegaskan melalui MAF, peserta diajak memahami bahwa transformasi pertanian tidak hanya membutuhkan kecanggihan teknologi, juga SDM yang kompeten, adaptif dan mampu mengoptimalkan pemanfaatannya di lapangan.

"Penguatan kapasitas SDM merupakan fondasi utama menghadapi transformasi pertanian berbasis teknologi," katanya.

Yoyon Haryanto menambahkan bahwa melalui MAF, Polbangtan Bogor tidak hanya menghadirkan ruang diskusi, juga mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara akademisi, dunia industri dan praktisi pertanian. 

"Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat lahirnya generasi muda pertanian yang inovatif, adaptif, dan siap mengakselerasi penerapan mekanisasi serta pertanian presisi di Indonesia," katanya lagi.

Narasumber Kompeten
Menariknya, forum tersebut menghadirkan tiga narasumber dari berbagai latar belakang yang memberikan perspektif berbeda mengenai masa depan pertanian berbasis teknologi.

Bayu Taruna Widjaja Putra, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember, memaparkan perkembangan precision agriculture sebagai pendekatan berbasis teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani.

Sementara itu, Agung Pratikto, SEA Area Manager FJ Dynamics, memperkenalkan berbagai inovasi mekanisasi pertanian modern yang mendukung penerapan pertanian presisi. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu petani melakukan pekerjaan secara lebih akurat, efisien, dan produktif.

Dari sisi praktik di lapangan, Didik Purwadi Nugroho, Direktur UPJA Taju Jawa, Klaten, Jawa Tengah, membagikan pengalaman penerapan mekanisasi pertanian melalui kelembagaan Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA). 

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan alat dan mesin pertanian secara kelembagaan dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha tani.

Diskusi Interaktif
Diskusi berlangsung interaktif dengan Aminudin, Wakil Direktur II Polbangtan Bogor, sebagai moderator. Suasana forum semakin dinamis dengan kehadiran Cahaya dan Facri sebagai host yang memandu jalannya diskusi sekaligus menjembatani interaksi antara narasumber dan peserta.

Kegiatan diikuti peserta secara daring melalui Zoom Meeting dan siaran langsung YouTube Polbangtan Bogor Official. 

Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat generasi muda dan insan pertanian terhadap perkembangan teknologi yang dapat diterapkan untuk menjawab tantangan sektor pertanian masa depan.

Rangkaian MAF Vol. 7 Edisi 31 ditutup dengan closing statement Kepala Pusat Pendidikan Pertanian. Penyelenggaraan forum secara berkelanjutan menjadi bukti komitmen Polbangtan Bogor memperkuat kapasitas SDM pertanian sekaligus membangun ruang kolaborasi antara dunia pendidikan, akademisi, industri, dan praktisi.

Di tengah tuntutan peningkatan produktivitas dan percepatan swasembada pangan, precision agriculture bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bagian penting dari masa depan pertanian Indonesia. 

Dengan SDM yang unggul dan penguasaan teknologi yang semakin kuat, transformasi pertanian diharapkan mampu membawa Indonesia menuju pertanian yang maju, mandiri, modern, dan berdaya saing. [and/wisda/timhumas polbangtanbogor]

 

 

 

 

 

 

Jakarta [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.