MAF Vol. 7 Edisi 39, SMK PPN Kementan Bahas Inovasi Silika, Biochar dan Amator

Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s SMKPPN Sembawa

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


MAF Vol. 7 Edisi 39, SMK PPN Kementan Bahas Inovasi Silika, Biochar dan Amator
SMKPPN SEMBAWA: Kepala SMKPPN Sembawa, Budi Santoso diwakili oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Manajemen Mutu, Estri Rahajeng menyampaikan kegiatan MAF Volume 7 Edisi 39 digelar, untuk memberikan langkah nyata dan solusi strategis meningkatkan produktivitas serta efisiensi budidaya pertanian.

 

Banyuasin, Sumsel (B2B) - SMK Pertanian Pembangunan Negeri (PPN) Sembawa terus memperkuat peran pendidikan vokasi pertanian dalam mendukung transformasi pertanian modern melalui kegiatan Millennial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 39 dengan tema “Implementasi PM-AAS: Inovasi Mandiri Silika, Biochar, dan Amator untuk Meningkatkan Produktivitas dan Efisiensi Budidaya Pertanian”, Sabtu (26/9).

Kepala SMKPPN Sembawa, Budi Santoso mengatakan, kegiatan MAF menjadi ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan inovasi antara akademisi, praktisi, petani, serta insan pertanian dalam memperkuat penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di tingkat lapangan.

Kementerian Pertanian terus mendorong penerapan PM-AAS sebagai bagian dari transformasi pertanian menuju sistem budidaya yang lebih modern, produktif, terukur, dan efisien. Hasil pengujian di berbagai lokasi menunjukkan bahwa penerapan PM-AAS dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong efisiensi penggunaan input produksi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa peningkatan produktivitas harus berjalan seiring dengan penerapan teknologi dan efisiensi biaya produksi.

“Kita harus terus meningkatkan produktivitas dengan teknologi. Input harus semakin efisien, tetapi hasil produksi meningkat. Inilah yang menjadi kekuatan pertanian modern,” ujar Mentan Amran 

Menurutnya, PM-AAS dikembangkan melalui proses riset dan pengujian lapangan dengan mengombinasikan berbagai pendekatan budidaya modern, termasuk pengaturan populasi tanaman, sistem tanam jajar legowo, serta pertanian presisi.

Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian Idha Widi Arsanti menekankan bahwa penguatan sumber daya manusia pertanian merupakan bagian penting dalam mempercepat adopsi inovasi dan teknologi.

“Penguatan kapasitas SDM pertanian harus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi. Petani, penyuluh, dan generasi muda pertanian harus mampu memahami, mengadopsi, serta mengembangkan inovasi agar pertanian semakin modern, produktif, dan berdaya saing.”jelasnya.

SMKPPN Sembawa
Kepala SMKPPN Sembawa, Budi Santoso diwakili oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Manajemen Mutu, Estri Rahajeng menyampaikan kegiatan ini digelar guna memberikan langkah nyata dan solusi strategis meningkatkan produktivitas serta efisiensi budidaya pertanian di Indonesia.

"Melalui Millennial Agricultural Forum ini, kita berkumpul untuk mendengarkan solusi strategis dan langkah nyata dari para narasumber terkait efisiensi budidaya pertanian. Harapannya, inovasi mandiri ini bisa disebarkan ke seluruh pelosok negeri dan memberi manfaat bagi pencapaian swasembada pangan Indonesia," ujarnya.

MAF Volume 7 Edisi 39 menghadirkan tiga narasumber dengan materi yang saling melengkapi. Materi pertama disampaikan oleh Kepala BRMP Sumatera Selatan, Noor Roufiq Ahmadi mengenai Kemandirian Membuat Silika dan Biochar dengan teknologi dan praktik pemanfaatannya dalam implementasi PM-AAS.

Materi tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya inovasi dan kemandirian dalam penyediaan bahan pendukung budidaya, sekaligus membuka wawasan peserta mengenai pemanfaatan silika dan biochar sebagai bagian dari pengelolaan budidaya pertanian.

Inovasi Amator
Materi kedua disampaikan oleh Inovator Amator, Raharjo dengan tema “Inovasi Amator Mendukung Implementasi PM-AAS di Tingkat Lapangan.

Materi ini mengangkat inovasi AMATOR serta pengalaman penerapannya sebagai bagian dari upaya mendukung penerapan teknologi pertanian modern yang lebih adaptif dan efisien.

Sementara itu, materi ketiga disampaikan oleh M. Suhur, Ketua Kelompok Tani Kridatama, Kecamatan Air Salek, Kabupaten Banyuasin, dengan tema “Praktik dan Pengalaman Implementasi PM-AAS di Tingkat Petani: Hasil, Tantangan, dan Pembelajaran.”

Kehadiran petani sebagai narasumber memberikan pengalaman langsung mengenai penerapan PM-AAS di lapangan, termasuk hasil yang diperoleh, tantangan yang dihadapi, serta pembelajaran yang dapat menjadi bahan evaluasi dan pengembangan penerapan teknologi bagi petani lainnya.

Produktivitas Pertanian
Closing Statement dari Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Kementerian Pertanian, Muhammad Amin menyampaikan pertanian modern merupakan salah satu pilar utama untuk meningkatkan produktivitas. 

Melalui penerapan teknologi dan inovasi, produktivitas pertanian kita diharapkan dapat meningkat hingga di atas 10 ton. Namun, keberhasilan ini sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) serta pendampingan yang intensif dari para penyuluh, dosen, dan Widyaswara di lapangan

"Ada beberapa komponen teknis utama dalam penerapan pertanian modern yang menjadi fokus pendampingan, mulai dari kesiapan sarana prasarana, penggunaan benih unggul, pemupukan yang tepat, hingga pengelolaan komoditas" ungkapnya 

Amin menambahkan selain penguatan teknis, kegiatan ini juga menekankan pentingnya sinergi dan integrasi antar lembaga, seperti kerja sama antara BPP, SDM pertanian, penyuluh, Brigade Pangan, petani dan unit-unit terkait. 

"Melalui publikasi media dan pendampingan yang berkelanjutan, diharapkan seluruh lapisan masyarakat dan kelompok tani dapat memahami serta mengimplementasikan inovasi teknologi pertanian demi mewujudkan sektor pertanian yang maju, mandiri, dan modern", pungkasnya 

Melalui MAF Volume 7 Edisi 39, SMK PPN Sembawa kembali menegaskan komitmennya sebagai institusi pendidikan vokasi pertanian yang aktif menjadi ruang pembelajaran dan diseminasi inovasi. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman peserta terhadap implementasi PM-AAS sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi budidaya pertanian.

Dengan sinergi antara pemerintah, lembaga riset, pendidikan vokasi, penyuluh, inovator, dan petani, implementasi PM-AAS diharapkan semakin kuat dan adaptif terhadap kondisi agroekosistem. Langkah tersebut sekaligus mendukung upaya Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan pertanian guna memperkuat swasembada pangan nasional. [wulan/titin/timhumas smkppnsembawa]

 

 

 

 

Banyuasin of South Sumatera [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.