Wawasan SDM, Polbangtan Kementan Jajaki Teknologi Drone Pertanian Korsel
Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s Polbangtan Bogor
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Tangsel, Banten (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) mendorong pengembangan pertanian modern, dengan pengenalan teknologi dan penguatan kapasitas SDM pertanian melalui Pertemuan Bilateral Indonesia - Korea Selatan (Korsel) dan Drone Capacity Development Academy 2026.
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto mengatakan, kegiatan pertemuan bilateral berlangsung dua hari, 13 - 14 Oktober 2026 di Balai Riset dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Mekanisasi Pertanian (Mektan) di Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten.
Kegiatan melibatkan unsur pemerintah, lembaga teknis, institusi pendidikan dan pelatihan dan perusahaan teknologi Korsel menjadi forum pertukaran informasi mengenai perkembangan teknologi drone, pemanfaatan di sektor pertanian serta sistem regulasi dan keselamatan penerbangan drone.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya modernisasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
"Penguatan teknologi perlu berjalan seiring peningkatan kompetensi SDM agar inovasi dapat dimanfaatkan secara tepat guna mendukung swasembada pangan nasional," katanya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya menyiapkan SDM pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
"Pendidikan dan pelatihan pertanian perlu terus memperkuat kompetensi teknis agar petani, penyuluh, mahasiswa dan pelaku usaha pertanian memahami dan memanfaatkan inovasi sesuai kebutuhan di lapangan," katanya.
Polbangtan Bogor
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto mengatakan, forum membahas pengenalan produk dan teknologi drone dari Korsel, peluang penerapannya di Indonesia dan kebutuhan pengembangan kapasitas SDM pertanian.
"Diskusi juga menyinggung aspek akses pasar, pengujian produk, peluang produksi komponen di dalam negeri dan pentingnya mempertimbangkan ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri disingkat TKDN," katanya.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah drone pertanian multifungsi dari Cheonpung. Teknologi tersebut dirancang untuk mendukung sejumlah kegiatan pertanian, mulai dari penyemprotan tanaman, penebaran benih, hingga penyebaran pupuk.
"Konsep perangkat dengan modul yang dapat diganti, juga diperkenalkan untuk memberi fleksibilitas penggunaan drone sesuai kebutuhan operasional," kata Yoyon Haryanto.
Dalam materi perusahaan, beberapa model drone yang diperkenalkan memiliki kapasitas tangki cairan semprot 16 liter, 20 liter, dan 40 liter.
Informasi tersebut memberikan gambaran mengenai variasi kapasitas perangkat yang dapat dipertimbangkan dalam kajian teknologi pertanian, dengan tetap memperhatikan kesesuaian teknis, kondisi lahan, keselamatan dan kebutuhan operasional di Indonesia.
Drone Pertanian
Selain drone pertanian, materi mengenai teknologi penerbangan otonom dan sistem Vertical Take-Off and Landing (VTOL) juga menjadi bagian dari bahan pengenalan.
Teknologi tersebut memperlihatkan perkembangan solusi drone untuk berbagai kebutuhan, seperti pemantauan dan misi penerbangan tertentu.
Meskipun demikian, pengenalan teknologi tersebut masih merupakan tahap pertukaran informasi. Penerapan lebih lanjut memerlukan kajian mengenai kelayakan teknis, manfaat ekonomi, ketentuan yang berlaku dan kesesuaian dengan kebutuhan pertanian nasional.
Narasumber dari Korea Transportation Safety Authority (KOTSA/TS) memaparkan sistem pengelolaan drone di Korsel termasuk registrasi perangkat, persyaratan kualifikasi pilot, pengawasan lembaga pelatihan, pengujian kompetensi dan pengelolaan data serta keselamatan penerbangan.
Teknologi Digital
Peserta juga memperoleh informasi mengenai dukungan teknologi digital dalam verifikasi lisensi, penggunaan simulasi Virtual Reality (VR) untuk pembelajaran dan pemanfaatan fasilitas pengujian untuk mendukung asesmen keterampilan operator drone.
Salah satu fasilitas yang diperkenalkan adalah Gimcheon Drone Qualification Center. Melalui tayangan video, peserta memperoleh gambaran mengenai fasilitas pengujian, jalur ujian praktik, ruang ujian berbasis komputer dan sarana pendukung pemeliharaan dan penelitian.
Paparan tersebut memberikan referensi mengenai pentingnya membangun sistem pengoperasian drone, tidak hanya berorientasi pada penguasaan teknologi, juga mengedepankan standar kompetensi, kepatuhan terhadap regulasi, mitigasi risiko, dan prosedur keselamatan.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menekankan pentingnya peran pendidikan vokasi pertanian dalam menyiapkan generasi muda yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.
Pembelajaran berbasis praktik dan penguatan kompetensi perlu diarahkan agar lulusan memiliki kesiapan menghadapi kebutuhan sektor pertanian yang semakin modern.
Praktik Pertanian
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, menegaskan bahwa pendidikan vokasi pertanian memiliki peran strategis dalam menyiapkan SDM yang mampu mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi dalam praktik pertanian.
"Pengenalan teknologi drone dan sistem pengelolaannya dapat menjadi referensi untuk memperkaya perspektif pembelajaran dan identifikasi kompetensi yang dibutuhkan dalam pengembangan pertanian modern," katanya.
Bagi Polbangtan Bogor, perkembangan teknologi tersebut juga relevan dengan upaya menyiapkan mahasiswa agar memiliki kemampuan adaptasi terhadap inovasi mekanisasi dan digitalisasi pertanian.
Pemanfaatannya tetap perlu diarahkan berdasarkan kebutuhan lapangan, kelayakan teknologi dan penerapan prosedur keselamatan yang sesuai.
"Melalui kegiatan tersebut, berbagai informasi mengenai teknologi drone pertanian dan tata kelola operasionalnya dapat menjadi bahan referensi untuk mendukung pengembangan SDM pertanian yang kompeten dan responsif terhadap perubahan teknologi," kata Yoyon Haryanto.
Pertukaran Informasi
Pertemuan bilateral Indonesia dan Korsel pada Drone Capacity Development Academy 2026 menghasilkan pertukaran informasi mengenai teknologi drone, sistem regulasi, keselamatan operasional, serta peluang pengembangan kapasitas SDM.
Menurut Yoyon Haryanto, pihak Indonesia juga menyampaikan aspirasi mengenai kemungkinan pelatihan lanjutan yang menggabungkan pembelajaran teori dan praktik.
Kendati demikian, hingga kegiatan berakhir, belum terdapat kesepakatan formal mengenai pelatihan lanjutan, Training of Trainers (ToT), kurikulum, pendanaan, maupun jadwal tindak lanjut khusus BPPSDMP.
"Demikian pula, konsep Indonesia Drone Academy yang tercantum pada materi perusahaan masih merupakan usulan pihak industri dan belum menjadi program resmi pemerintah Indonesia," ungkap Yoyon Haryanto.
Oleh karena itu, hasil kegiatan menjadi bahan pengayaan wawasan dan dokumentasi kelembagaan yang dapat ditelaah lebih lanjut sesuai kebutuhan dan kewenangan masing-masing pihak.
Penjajakan kerja sama berikutnya perlu didukung proposal resmi, kejelasan ruang lingkup, pembagian peran, serta sumber pembiayaan yang dapat dipertanggungjawabkan. [wisda/timhumas polbangtanbogor]
Bogor of West Java [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
