Perhepi Dukung Kementan Tumbuhkan Minat Anak Muda jadi Wirausahawan Pertanian
Indonesian Govt Supports Developing of Agricultural Entrepreneurship
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Jakarta (B2B) - Pemerintah RI khususnya Kementerian Pertanian RI (Kementan) berkomitmen menumbuhkan dan mendukung minat anak muda mengembangkan kewirausahaan pertanian, yang dikelola anak muda mulai menggerakkan sektor pertanian dengan aneka inovasi.
Komitmen Kementan mengemuka pada ´Seminar Nasional Kewirausahaan bertajuk ´Membangun Ekosistem Kewirausahaan Berkelanjutan untuk Mendorong Produktivitas, Inovasi, dan Transformasi´ di Jakarta pada Kamis (16/7).
Seminar digelar oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) kolaborasi dengan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) guna mendorong dan mendukung kewirausahaan pertanian yang dikelola generasi muda menjadi ekosistem yang utuh.
Upaya tersebut sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran strategis mewujudkan ketahanan pangan nasional.
"Keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh teknologi, juga oleh kualitas SDM yang memiliki karakter jujur, disiplin dan pekerja keras," katanya.
Mimpi besar kita, ungkap Mentan Amran, adalah mewujudkan swasembada pangan dan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.
Kewirausahaan Nasional
Kepala BPPSDMP Kementan, Idha Widi Arsanti mengatakan ´Seminar Nasional Kewirausahaan´ digelar atas kolaborasi Kementan dan Perhepi, yang merupakan salah satu upaya agar akademisi dan juga birokrasi serta pelaku usaha dapat bersinergi dengan baik.
"Ketika semua bersama maka ekosistem kewirausahaan terutama pada sektor pertanian dapat dimunculkan," kata Kabadan didampingi Ketua Umum Pengurus Pusat Perhepi, Nunung Nuryantono kepada awak media usai pembukaan seminar.
Menurutnya, para pelaku usaha membutuhkan dukungan baik dari pemerintah berupa kebijakan maupun dari akademisi, sehingga mereka dapat menentukan arah dalam berwirausaha sektor pertanian.
"Rekan-rekan dari akademisi dan juga Perhepi bisa memberikan masukan sebagai bahan ´policy brief´ (risalah kebijakan) berupa umpan balik yang berkaitan dengan penelitian untuk mendukung kebijakan kewirausahaan pertanian," kata Kabadan SDM Kementan, yang akrab disapa Santi.
Kerjasama yang baik antara pemerintah, akademisi, maupun pelaku usaha pertanian, ungkap Santi, diharapkan dapat terus menumbuhkan semangat anak muda dalam berwirausaha sektor pertanian.
"Regenerasi pelaku usaha tani perlu terus ditumbuhkan, agar semakin banyak lagi anak-anak muda yang dapat bekerja di sektor pertanian," katanya lagi.
Paradigma Berubah
Ketua Umum Perhepi, Nunung Nuryantono menegaskan komitmen pihaknya siap mendukung berbagai program pemerintah melalui jaringan organisasi yang tersebar pada 33 komisariat daerah.
Terlebih, paradigma bahwa sektor pertanian tidak menjanjikan sudah mulai berubah. Kini semakin banyak anak muda yang melihat pertanian sebagai sektor yang mampu memberikan kesejahteraan sekaligus ruang berinovasi.
"Jaringan akademisi, peneliti, dan praktisi ekonomi pertanian yang berhimpun di Perhepi, dapat menjadi mitra strategis pemerintah menyusun rekomendasi kebijakan maupun pengembangan program pertanian di daerah," katanya.
Perhepi menilai, ungkap Nunung Nuryantono, program regenerasi pertanian seperti Program Youth Enterpreneurship And Employment Support Services (YESS) atas kolaborasi BPPSDMP Kementan dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD).
"Program YESS menjadi salah satu upaya Kementan, untuk menumbuhkembangkan wirausaha muda dan tenaga kerja andal di sektor pertanian," katanya.
Nunung Nuryantono mengakui, pemanfaatan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), big data, hingga teknologi pemasaran digital akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian.
“Anak-anak muda memiliki kreativitas dan kemampuan menguasai teknologi. Ini menjadi modal besar untuk mentransformasi sektor pertanian agar lebih modern, produktif, dan kompetitif,” katanya lagi.
Program YESS
Saat ini, dunia pertanian mulai menarik minat generasi muda, yang menjadikannya sebagai ladang usaha. Ketertarikan tersebut, kata Nunung Nuryantono, sejalan dengan Program YESS maka Perhepi dapat menjadi salah satu mitra strategis untuk mengembangkan kewirausahaan anak-anak muda.
"Kkewirausahaan pertanian yang dikelola generasi muda kelak bisa menjadi ekosistem yang utuh. Dengan melihat antusias anak muda bisa menjadi pilar strategis meningkatkan daya saing pertanian," katanya.
Sebab, ungkap Nunung Nuryantono, keterlibatan anak muda dengan inovasinya, keberlanjutan usaha pertanian tetap terjaga dan meningkatkan banyak hal, termasuk daya saing.
Menurutnya, peran pemerintah sangat penting untuk menggerakan kewirausahaan pertanian yang dikelola anak-anak muda. Bahkan pemerintah bisa menempatkan ekosistem kewirausahaan menjadi strategi nasional.
”Di luar negeri, antusias anak muda juga meningkat dalam kewirausahaan, terlebih dengan invoasi mereka,” ujarnya.
Hal itu diamini oleh Kabadan SDM Kementan, Santi bahwa Kementan saat ini terus mendorong anak muda bisa meneruskan dan terjun ke sektor pertanian sebagai pemegang tongkat estafet pembangunan.
"Indonesia perlu banyak entrepreneur muda yang memanfaatkan teknologi dalam membangun pertanian. Salah satunya program Young Ambassador Agriculture dan melalui Program YESS," kata Santi.
Dengan program tersebut, Kementan mengharapkan anak-anak muda melakukan kewirausahaan pertanian. Pemerintah akan terus kolabrosasi dan memotivasi generasi muda agar ekosistem kewirausahaan berkembang.
"Dengan pertanian yang makin modern diharapkan pertanian menjadi piliha utama generasi muda untuk mengembangkan usaha," tutupnya. [Mac]
Jakarta [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
