Program CSR, Kementan Perkuat Validasi Data Bantuan Benih bagi Petani Sultra
Sulawesi`s Batangkaluku Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Kendari, Sultra (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) terus memperkuat langkah strategis dalam mendukung percepatan swasembada pangan nasional melalui program Cetak Sawah Rakyat (CSR). Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyusunan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) sebagai dasar penyaluran bantuan benih padi secara tepat sasaran.
Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan dalam upaya percepatan tersebut, Kementan menggelar ´Workshop Penyusunan CPCL Bantuan Benih Padi CSR Tahun 2025 (Tahun Anggaran 2026) selama dua hari, 7 - 8 April 2026 di Swiss - Belhotel Kendari.
Kegiatan workshop sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa keberhasilan program bantuan pemerintah sangat bergantung pada koordinasi yang baik serta data yang akurat dan valid.
“Program CSR harus didukung data yang akurat. Bantuan benih padi harus benar-benar sampai kepada petani yang membutuhkan agar mampu meningkatkan produksi secara signifikan,” katanya.
Mentan Amra menambahkan bahwa Program CSR menjadi salah satu pilar penting meningkatkan Luas Tambah Tanam (LTT) dan produktivitas pertanian nasional, guna mencapai swasembada pangan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan tentang pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.
“Kolaborasi yang kuat menjadi kunci dalam memastikan bantuan benih tepat sasaran. Penyuluh memiliki peran strategis dalam melakukan verifikasi dan validasi data di lapangan,” katanya.
BBPP Batangkaluku
Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan ´Workshop Penyusunan CPCL Bantuan Benih Padi CSR Tahun 2025 (Tahun Anggaran 2026) di Kendari, diikuti pemangku kepentingan yakni perwakilan dinas pertanian dari seluruh Sultra, penyuluh pertanian dan tim teknis pelaksana CSR.
Kegiatan workshop bertujuan memastikan proses identifikasi CPCL berjalan akurat, transparan dan sesuai dengan kondisi di lapangan," katanya.
Jamaluddin Al Afgani mengingatkan bahwa kegiatan workshop menjadi langkah penting untuk menyatukan persepsi sekaligus meningkatkan kualitas data CPCL.
“Workshop ini menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas seluruh pihak dalam menyusun data yang valid dan akuntabel. Dengan data yang tepat, bantuan benih yang disalurkan akan berdampak nyata pada peningkatan produksi padi,” katanya.
Jamaluddin Al Afgani memastikan kesiapan BBPP Batangkaluku mendukung pendampingan serta pengawalan di lapangan melalui peran penyuluh pertanian. Diharapkan seluruh peserta memiliki pemahaman yang sama terkait mekanisme penyusunan CPCL.
"Mulai dari tahap identifikasi hingga pelaporan, sehingga pelaksanaan program dapat berjalan tanpa kendala," katanya lagi.
Program bantuan benih padi melalui CSR merupakan bagian dari strategi besar Kementan dalam meningkatkan produksi padi nasional. Dengan dukungan benih unggul dan pengelolaan lahan yang optimal, produktivitas petani diharapkan meningkat secara signifikan.
Selain itu, ungkap Jamaluddin Al Afgani, workshop juga memperkuat komitmen bersama dalam mendorong pertanian berkelanjutan. Optimalisasi lahan melalui program CSR tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, juga menjaga keseimbangan lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam.
Dengan pelaksanaan workshop, Kementan optimistis penyaluran bantuan benih padi CSR dapat berjalan lebih efektif, tepat sasaran dan memberikan kontribusi nyata mewujudkan swasembada pangan nasional. [ilham/timhumas bbppbatangkaluku]
Kendari of Southeast Sulawesi [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
