UPT Kementan Perkuat SDM Pekebun Sawit Morowali melalui Pelatihan Pupuk Organik

Sulawesi`s Batangkaluku Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


UPT Kementan Perkuat SDM Pekebun Sawit Morowali melalui Pelatihan Pupuk Organik
BBPP BATANGKALUKU: Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani [kiri] membuka Program Pengembangan SDM Pekebun Kelapa Sawit asal Morowali, Sulteng [insert kiri] mengikuti pembelajaran secara teori di dalam kelas, juga praktik secara langsung di CV Pupuk Organik Lestari.

 

Palu, Sulteng (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pertanian dan perkebunan sebagai bagian dari upaya mewujudkan sektor pertanian yang produktif, efisien dan berkelanjutan. 

Langkah tersebut diwujudkan melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menggelar ´Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik bagi 99 Pekebun Kelapa Sawit´ asal Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan, kegitan pelatihan yang merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Pekebun Kelapa Sawit (SDMPKS) Tahun 2026 dibuka di Hotel Aston Palu, Selasa (11/8). 

Kegiatan pelatihan berlangsung dalam tiga angkatan, yakni Angkatan III dan IV masing-masing 34 peserta dan Angkatan V sebanyak 31 peserta. Pelatihan dijadwalkan berlangsung hingga 15 Agustus 2026.

Pelatihan sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa inovasi di sektor pertanian tidak harus selalu mahal atau berbasis teknologi tinggi, juga harus tepat guna, mampu meningkatkan hasil produksi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. 

“Inovasi di sektor pertanian tidak harus selalu mahal atau berbasis teknologi tinggi, tetapi harus tepat guna, mampu meningkatkan hasil produksi, serta tetap menjaga kelestarian lingkungan. Petani tetap menjadi garda terdepan dalam mewujudkan swasembada pangan,” ujar Amran.

Sejalan dengan arahan tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti, menekankan, penguatan kompetensi menjadi bagian penting menyiapkan SDM pertanian terampil, profesional, dan mampu menjawab kebutuhan pembangunan pertanian. 

“Kolaborasi menjadi langkah nyata untuk menyiapkan SDM pertanian yang terampil, profesional dan siap mendukung pengembangan Brigade Pangan serta percepatan pembangunan pertanian berkelanjutan,” katanya.

BBPP Batangkaluku
Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan, kegiatan pelatihan diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi pekebun memanfaatkan bahan organik sebagai sumber pupuk, sekaligus mendorong penggunaan sarana produksi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

"Pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan alternatif kepada pekebun sawit untuk menekan biaya produksi tanpa sepenuhnya meninggalkan penggunaan pupuk kimia," katanya.

Menurut Jamaluddin Al Afgani, pupuk organik tidak dimaksudkan untuk menggantikan pupuk kimia secara keseluruhan, juga mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.

“Bukan menghilangkan pupuk kimia, melainkan mengurangi ketergantungan kita,” katanya.

Pengurangan penggunaan pupuk kimia hingga 30–40 persen, bahkan 50 persen, ungkap Jamaluddin Al Afgani, berpotensi membantu meningkatkan pendapatan pekebun.

Pupuk Organik
Penanggung Jawab Pelatihan, Yuli Nurnaningsih mengatakan, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman tentang konsep dan manfaat pupuk organik, juga dilatih membuat, mengolah hingga mengaplikasikan sesuai kebutuhan tanaman kelapa sawit.

“Materi pelatihan akan dilaksanakan melalui perpaduan pembelajaran teori dan praktik, sehingga peserta memperoleh pengalaman langsung yang dapat diterapkan di kebun masing-masing,” katanya.

Pemanfaatan pupuk organik memiliki keunggulan karena bahan bakunya relatif mudah diperoleh di sekitar lingkungan pekebun. Proses pembuatannya pun dapat dilakukan dengan keterampilan yang diberikan melalui pelatihan.

“Secara ekonomi ini sangat menguntungkan. Secara ketersediaan bahan baku sangat mudah diperoleh. Proses pembuatan sangat mudah dilakukan dan secara aplikasi juga sangat mudah dilaksanakan,” katanya.

Yuli Nurnaningsih meminta peserta tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti pelatihan. Peserta diharapkan meneruskan pengetahuan tersebut kepada pekebun lain di daerah masing-masing.

“Jadi, kita melakukan proses duplikasi. Jangan pernah ragu dalam berbagi ilmu,” katanya.

Keterampilan Praktis
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, Dandy Alfita, yang mewakili Kepala Dinas mengatakan, pengembangan pupuk organik penting dilakukan karena sektor perkebunan menghadapi kebutuhan sarana produksi yang semakin efisien dan berkelanjutan.

Menurut Dandy, pelatihan tersebut diharapkan menghasilkan keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan pekebun, mulai dari pemilihan bahan, proses pengolahan, hingga aplikasi pupuk organik pada tanaman.

“Dengan demikian, para peserta dapat menjadi contoh sekaligus mengembangkan pengetahuan tersebut kepada anggota kelompok tani lainnya,” ujarnya.

Dandy juga mengatakan, pemanfaatan pupuk organik dapat membantu memperbaiki kualitas dan kesuburan tanah serta memanfaatkan limbah dan bahan organik yang tersedia di sekitar lingkungan pekebun.

Praktik Lapangan
Peserta tidak hanya mendapatkan pembelajaran secara teori di dalam kelas, tetapi juga mengikuti praktik secara langsung di CV Pupuk Organik Lestari. 

Dalam kegiatan tersebut, peserta diberi kesempatan melihat dan praktik langsung tahapan pembuatan pupuk organik, mulai dari pemilihan dan pengolahan bahan baku, proses fermentasi, hingga pengemasan dan aplikasi pupuk organik. 

Praktik lapangan ini diharapkan memberikan pengalaman nyata kepada peserta sehingga keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada pemahaman teori, juga dapat langsung diterapkan di kebun masing-masing.

Melalui pembelajaran berbasis praktik tersebut, pekebun juga dapat memahami bagaimana memanfaatkan bahan-bahan organik yang tersedia di sekitar lingkungan menjadi pupuk yang bernilai guna. 

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan, pengalaman di CV Pupuk Organik Lestari menjadi bagian penting memperkuat kompetensi peserta sekaligus mendorong mereka, untuk mampu produksi dan aplikasi pupuk organik secara mandiri di daerah masing-masing.

"Selain peningkatan kapasitas pekebun, kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan perkebunan kelapa sawit yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan di Sulawesi Tengah," katanya. 

Melalui pelatihan, para pekebun diharapkan mampu mengoptimalkan potensi bahan organik di lingkungan sekitar, menekan biaya produksi, serta meningkatkan kemandirian dalam penyediaan sarana produksi perkebunan. [ilham/timhumas bbppbatangkaluku]

 

 

 

 

 

Palu of Central Sulawesi [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.