Tangkal El Nino, Wamentan di Jambi Pimpin Tanam Padi Serentak 16 Provinsi
Indonesian Govt Increase of Rice Production across the Country
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Batanghari, Jambi (B2B) - Wakil Menteri Pertanian RI (Wamentan) Sudaryono memimpin Gerakan Tanam (Gertam) Padi Serentak pada 16 provinsi secara daring, sebagai langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan produksi pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim.
Kegiatan Gertam Padi dipusatkan pada lokasi Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari, Jambi, Selasa (21/4) yang berlangsung secara serentak pada sejumlah wilayah melalui daring.
Dalam kesempatan tersebut, Wamentan Sudaryono mendorong percepatan pemanfaatan lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Provinsi Jambi agar segera produktif, dengan target 5.000 hektare lahan dapat langsung masuk siklus tanam.
Wamentan Sudaryono atau yang akrab disapa Mas Dar mengatakan percepatan tanam menjadi langkah strategis pemerintah untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim, terutama ancaman El Nino yang berpotensi mengganggu produksi pangan.
Dia pun mengajak seluruh pemerintah daerah untuk bergerak cepat untuk meningkatkan produksi pangan pada sisa musim hujan.
“Sekarang momen yang tepat. Mumpung masih ada hujan. Kita percepat tanam. Kalau tanam lebih cepat, panen juga lebih cepat. Semakin banyak yang ditanam, semakin besar hasil panen kita,” kata Wamentan Sudaryono.
Program CSR
Percepatan tanam juga dilakukan untuk memastikan lahan yang telah dicetak melalui program CSR dapat langsung produktif dan memberikan hasil nyata bagi peningkatan produksi.
Menurutnya, kunci keberhasilan CSR bukan hanya pada pencetakan lahan, tetapi memastikan lahan tersebut langsung dimanfaatkan.
Karena itu, Kementerian Pertanian RI (Kementan) mengerahkanpenyuluh, Brigade Pangan dan dukungan alat dan mesin pertanian (Alsintan) agar proses tanam berjalan cepat dan efisien.
Di lapangan, tanam dilakukan secara serempak dengan memanfaatkan mekanisasi seperti rice transplanter dan drone.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari modernisasi pertanian sekaligus menjawab tantangan keterbatasan tenaga kerja.
“Pemanfaatan alat dan mesin pertanian harus dimaksimalkan agar proses tanam lebih cepat dan efisien," ungkap Wamentan yang juga Ketua Umum DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Dengan dukungan penyuluh serta keterlibatan petani dan Brigade Pangan, kita pastikan lahan yang sudah dicetak bisa segera ditanami dan memberikan hasil nyata.
Sumber Daya Air
Selain itu, pemerintah juga memaksimalkan dukungan sumber daya air guna menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino.
Seluruh sumber air diidentifikasi dan dimanfaatkan untuk memastikan keberlanjutan pertanaman di lahan CSR.
“Kita identifikasi sumber air, siapkan pompa, sumur bor, dan manfaatkan air sungai agar lahan yang sudah dicetak tetap bisa ditanami,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemanfaatan waktu tanam menjadi faktor penting dalam menjaga produksi.
“Benih bisa kita bantu, pupuk bisa kita sediakan. Tapi air dan hujan tidak bisa kita datangkan. Jadi manfaatkan waktu yang ada untuk segera tanam,” tegasnya.
Secara nasional, Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) dilaksanakan di 19 provinsi dan ditargetkan seluruh lahan yang telah dicetak segera masuk siklus tanam guna memperkuat produksi padi secara berkelanjutan.
Pengawalan di lapangan menjadi faktor penentu dalam pelaksanaan program ini. Pemerintah memastikan pemanfaatan lahan, termasuk yang bersumber dari skema CSR, dapat langsung ditanami tanpa penundaan, sementara berbagai kendala teknis diselesaikan secara paralel agar tidak menghambat percepatan tanam.
Program CSR di Jambi menjadi bagian dari strategi percepatan perluasan lahan produktif nasional.
Wamentan Sudaryono juga membuka ruang bagi petani dan pemerintah daerah untuk menyampaikan kebutuhan di lapangan, mulai dari benih hingga alat dan mesin pertanian, guna memastikan proses tanam berjalan optimal.
Brigade Pangan
Dalam kegiatan tersebut, Wamentan Sudaryono bersama para petani dan generasi muda yang tergabung dalam ‘Brigade Pangan’ melakukan penanaman massal menggunakan teknologi pertanian modern, seperti alat rice transplanter hingga drone penabur benih/pupuk.
Menurutnya, penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) penting untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat proses tanam.
“Pemanfaatan alat dan mesin pertanian harus dimaksimalkan agar proses tanam lebih cepat dan efisien. Dengan dukungan penyuluh serta keterlibatan petani dan Brigade Pangan, kita pastikan lahan yang sudah dicetak bisa segera ditanami dan memberikan hasil nyata,” ujar Wamentan Sudaryono yang juga merupakan Ketua Umum DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Sementara itu, Gubernur Jambi Al Haris memaparkan kondisi pertanian di daerahnya. Saat ini, luas lahan baku sawah di Jambi mencapai 69.000 hektare, dengan lahan eksisting sekitar 54.000 hektare. Pada tahun 2025, program CSR telah menanam sekitar 1.200 hektare, dan pada 2026 ditargetkan meningkat menjadi 4.100 hektare.
Namun demikian, produksi padi di Jambi saat ini baru mampu memenuhi sekitar 71 persen kebutuhan konsumsi daerah, sehingga masih terdapat kekurangan sekitar 29 persen untuk mencapai swasembada.
“Kami terus mendorong peningkatan luas tanam dan produksi. Salah satunya dengan mengubah pola pikir petani agar tidak hanya tanam sekali setahun, tetapi bisa dua hingga tiga kali,” ujar Al Haris.
Ia optimistis, dengan dukungan pemerintah pusat melalui pembangunan irigasi dan bantuan sarana pertanian, Jambi mampu mencapai swasembada padi pada tahun 2026.
Tak hanya itu, Al Haris juga mengusulkan tambahan infrastruktur penunjang, seperti pembangunan irigasi, jalan usaha tani, hingga mesin pengering padi, khususnya di wilayah Tanjung Jabung Timur.
“Kami siap mendukung ketahanan pangan nasional menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Badan SDM Pertanian, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), pemerintah daerah, hingga penyuluh pertanian dan petani di lokasi pelaksanaan. [esap/timhumas bppsdmpkementan]
Batanghari of Jambi [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
