Gas Rumah Kaca, Kementan Ingatkan Inovasi Teknologi Vital Turunkan Emisi

Technological Innovation is Important to Reduce Greenhouse Gas Emissions

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


Gas Rumah Kaca, Kementan Ingatkan Inovasi Teknologi Vital Turunkan Emisi
GEDUNG BARU: Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi (ke-2 kanan) menggunting pita yang menandai peresmian kantor baru BPP Parigi di Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat [Foto: BPPSDMP]

Pangandaran, Jabar [B2B] - Selain meningkatkan produktivitas, Kementerian Pertanian RI juga turut memperhatikan lingkungan, yang disampaikan pada kegiatan Mentan Sapa Penyuluh dan Petani [SPP] di gedung baru BPP Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jumat [3/12] dengan bahasan utama 'Bumi yang semakin panas'.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan menjaga lingkungan juga sangat penting dilakukan dalam aktivitas pertanian.

"Di balik produktivitas pertanian yang akan kita genjot, lingkungan harus diperhatikan, yang bisa kita lakukan adalah menurunkan emisi gas rumah kaca atau GRK," katanya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian [BPPSDMP] Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi sebesar 29% dengan upaya sendiri di bawah business as usual [BAU] pada 2030, sementara dengan dukungan internasional hingga 41%.

"Kita butuh aksi adaptasi. Setiap aksi yang dilakukan, untuk mengantisipasi dampak buruk perubahan iklim serta menjaga kedaulatan pangan. Hal ini menjadi prioritas utama pembangunan pertanian," katanya. 

Dedi Nursyamsi mengatakan, dibutuhkan juga aksi mitigasi, dimana setiap aksi harus bertujuan pada penurunan emisi GRK, tetapi harus mendukung upaya peningkatan produksi dan produktivitas pertanian.

"Sudah ada inovasi teknologi mitigasi GRK yang diterapkan petani seperti menerapkan pengairan berselang, penggunaan bahan organik matang, varietas padi rendah emisi metana paket teknologi Climate Smart Agriculture [CSA/Pertanian cerdas iklim]. 

Ada pula sistem integrasi tanaman dan ternak, Paket CSA, penggunaan kalender tanam, olah tanah bajak dalam, pemberian bahan organik, penggunaan PUTS dan BWD, pemanfaatan bibit unggul bermutu, bibit usia muda, jarak tanam legowo dan pengairan intermittent.

Dedi menjelaskan, inovasi teknologi pertanian dapat diandalkan dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman dan ternak serta melestarikan kesuburan tanah. Dampaknya meningkatkan pendapatan dan nilai tambah petani, ramah lingkungan dan tangguh perubahan iklim. [Cha]

Pangandaran of West Java [B2B] - Indonesian government to increase number of agricultural extension workers to support the farmers to increase agricultural production, develop farmer organizations, utilize technological innovations, access banking capital, and other resources to support food self-sufficiency and improve farmers´ welfare, according senior official of the Agriculture Ministry.