Wamentan Apresiasi Kinerja Penyuluh Sukseskan Swasembada Pangan

Indonesian Agricultural Extension Workers Support Agricultural Development

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Wamentan Apresiasi Kinerja Penyuluh Sukseskan Swasembada Pangan
BPPSDMP KEMENTAN: Wamentan Sudaryono memgatakan, sejak 1 Januari 2026, Penyuluh Pertanian telah ditarik dari pemerintah daerah ke Kementerian Pertanian, sesuai dengan Inpres No 3 Tahun 2025.

 

Grobogan, Jateng (B2B) - Wakil Menteri Pertanian RI (Wamentan) Sudaryono menyebut penyuluh berperan secara signifikan dalam capaian swasembada pangan Indonesia.

Hal ini disampaikan pada Pembinaan Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dan Brigade Pangan di Kantor Camat Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah pada Selasa (3/3).

Di depan 750 peserta yang hadir, Ia mengatakan Indonesia telah mencapai swasembada beras pada akhir 2025.

“Berkat kerjasama semua pihak, Indonesia telah swasembada pangan dan tidak lagi impor beras!” sebutnya.

Karena inilah, Ia menyebut harga beras dunia turun hingga setengahnya. Pasalnya, sebelumnya Indonesia menjadi pelanggan beras terbesar dunia. Dan, kini tidak lagi mengimpor beras.

“Penyuluh berpengaruh besar dalam membawa kesejahteraan petani Indonesia. Sekaligus mempunyai andil dalam memotong harga beras dunia.” jelas Wamentan Sudaryono.

Untuk itu, Ia mengajak penyuluh untuk terus meningkatkan kinerjanya. Karena keberhasilan pangan Indonesia bergantung pada performa penyuluh di lapangan.

Inpres No 3/2025

Seperti diketahui, sejak 1 Januari 2026, Penyuluh Pertanian telah ditarik dari pemerintah daerah ke Kementerian Pertanian, sesuai dengan Inpres No 3 Tahun 2025.

Dijelaskan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan upaya ini untuk mempercepat swasembada pangan.

“Jumlah penyuluh yang dipindahkan ke Kementerian Pertanian sejumlah 38.318 orang. Penyuluh di Jawa Tengah mencapai 3.302 orang di 35 kabupaten/kota.” ucapnya.

Ia menyebut Penyuluh Pertanian harus menjadi agen perubahan dan percepatan program-program utama Kementerian Pertanian.

“Penyuluh pertanian menjadi ujung tombak pelaksanaan luas tambah tanam, optimasi lahan rawa dan non rawa, padi lahan kering, akses petani ke Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta pendampingan dalam penggunaan benih unggul, maupun pupuk yang efisien serta penumbuhan brigade pangan dalam regenerasi pertanian yang adaptif terhadap teknologi.” papar Idha.

Penyuluh Grobogan

Hadir dalam acara, Wakil Bupati Grobogan, Sugeng Prasetyo mengatakan dengan PPL dalam satu komando Kementerian Pertanian dapat mendukung percepatan adopsi teknologi pertanian di tingkat petani, sehingga hal ini menjadi lebih efektif. 

“Kami berharap PPL memiliki arah kerja yang lebih jelas, terfokus, dan selaras dengan kebijakan nasional seperti swasembada pangan, modernisasi pertanian, serta ketahanan pangan dan kemandirian pangan.”ucapnya.

Sehingga, Ia melanjutkan, pembinaan karier, pelatihan, dan pengembangan kompetensi dapat dilakukan secara terstruktur dan seragam secara nasional. 

“Dengan hal ini akan dapat meningkatkan kualitas PPL sebagai tenaga profesional di bidang penyuluhan.” pungkasnya.

Pj. Brigade Pangan Kabupaten Grobogan, Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma), R. Hermawan menyebut acara ini ditujukan untuk memberikan pembinaan kepada PPL agar memahami tugasnya di lapangan dalam menyukseskan program-program strategis Kementerian pertanian, khususnya program Brigade Pangan. [esap/timhumas bppsdmpkementan]

 

 

 

 

Grobogan of Central Java [B2B] - The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.

Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.