Sosialisasi Program PM-AAS, Polbangtan Kementan gandeng Penyuluh Swadaya Kabupaten Bekasi
Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s Polbangtan Bogor
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Bekasi, Jabar (B2B) - Tim dosen Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor menjadi narasumber pada kegiatan 'Temu Tugas Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) Tingkat Kabupaten Bekasi' yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi. Kegiatan berlangsung di Kebun Jagung Yoyo, Desa Pusaka Rakyat, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, pada Rabu, (22/7).
Sebanyak 45 Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) dan 23 Koordinator Penyuluh Pertanian mengikuti kegiatan yang bertujuan memperkuat koordinasi, meningkatkan kapasitas penyuluh, serta mempererat sinergi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan para pelaku utama pembangunan pertanian.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Abdillah, didampingi Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian, Ade Arief Rachman, beserta jajaran. Dalam sambutannya, Abdillah menyampaikan apresiasi kepada seluruh Penyuluh Pertanian Swadaya atas dedikasi dan kontribusinya dalam mendampingi petani di Kabupaten Bekasi.
"Temu tugas ini kami selenggarakan secara rutin sebagai forum komunikasi antara Dinas Pertanian dengan Penyuluh Pertanian Swadaya. Selain menjadi wadah koordinasi, kegiatan ini juga merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi PPS yang selama ini telah mendampingi petani dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka," ujar Abdillah.
Sesi materi diawali oleh Reni Suryanti, yang memaparkan Peran Strategis Penyuluh Pertanian Swadaya Pasca Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2026 tentang Urusan Pemerintahan Konkuren Tambahan di Bidang Pertanian.
Dalam paparannya dijelaskan bahwa keberadaan PPS semakin penting sebagai mitra pemerintah dalam memperkuat penyelenggaraan penyuluhan pertanian dan mendukung percepatan pencapaian swasembada pangan nasional.
"Perasn strategis PPS dalam mendukung Program Kementan antara lain sebagai Disseminator Inovasi, Pendamping Program Prioritas, Penguat Kelembagaan Petani, Mentor Petani Muda, Mitra Penyuluh ASN, Penghubung Antar Pemangku Kepentingan, dan Penggerak Kemandirian Petani" jelas Reni.
Materi kedua disampaikan oleh Cheppy Wati, mengenai Konsep Dasar Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PM-AAS). Materi ini memperkenalkan pendekatan pertanian modern berbasis teknologi, efisiensi, dan keberlanjutan sebagai strategi transformasi sektor pertanian Indonesia.
“Apabila PM-AAS dilaksanakan dengan baik, akan dapat melipatgandakan pendapatan petani hingga melonjak sekitar 3 kali lipat, meningkatkan hasil panen menjadi 10–12 ton per hektar, serta memberikan rasio keuntungan (rasio B/C) mencapai hingga 4,31,” kata Cheppy.
Selanjutnya, Arif Prastiyanto, memaparkan materi bertajuk Pola Sinergi antara Dinas Pertanian, Penyuluh Pertanian, Penyuluh Pertanian Swadaya, dan Kelompok Tani.
Materi tersebut menekankan pentingnya kolaborasi, pembagian peran yang jelas, komunikasi yang efektif, serta penguatan jejaring kelembagaan dalam mendukung keberhasilan pembangunan pertanian di daerah.
“Sinergi yang kuat tidak dibangun melalui instruksi, melainkan melalui kepercayaan, koordinasi, dan kerja sama yang konsisten,” ungkap Arif.
Kehadiran tim dosen Polbangtan Bogor dalam kegiatan ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Selain berbagi pengetahuan dan pengalaman, kegiatan ini juga menjadi sarana sosialisasi konsep Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PM-AAS) sebagai salah satu pendekatan inovatif dalam pengembangan pertanian Indonesia.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Selain penyampaian materi, peserta diajak mengikuti berbagai permainan edukatif, menyaksikan video inspiratif, serta berdiskusi mengenai berbagai tantangan penyuluhan pertanian di lapangan.
Beragam pertanyaan dan pengalaman yang disampaikan peserta menunjukkan tingginya semangat para Penyuluh Pertanian Swadaya untuk terus meningkatkan kompetensi dan memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan.
Melalui kegiatan ini diharapkan terjalin kerja sama yang semakin erat antara Polbangtan Bogor, Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Penyuluh Pertanian, Penyuluh Pertanian Swadaya, dan kelompok tani dalam mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, modern, dan berkelanjutan. [arifprast/wisda/timhumas polbangtanbogor]
Bekasi of West Java [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
