Kementan `Upgrade` Tingkat Kemampuan Poktan melalui Wisatani Sesi 88
Indonesian Govt Recognizes Support of Extensionists for Agricultural Development
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Tapin, Kalsel [B2B] - Kementerian Pertanian RI terus berupaya meningkatkan kemampuan kelompok tani [Poktan] berstatus pemula, lanjut, madya dan utama oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian [BPPSDMP] terkait kapasitas dan kompetisi dalam mendukung peningkatan produktivitas pertanian.
Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo kerapkali mengingatkan tentang tujuan pembangunan pertanian adalah meningkatkan produksi, kualitas, intensitas pertanaman dan budidaya yang ramah lingkungan dengan tujuan akhir kesejahteraan petani dan rakyat.
"Petani Indonesia tidak boleh tertinggal karena banyak inovasi teknologi dan mekanisasi yang dibuat untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” kata Mentan Syahrul.
Menurutnya, sektor pertanian akan makin kuat apabila didukung riset dan inovasi berkelanjutan serta update perkembangan teknologi informasi di Era 4.0 termasuk pendekatan melalui tayangan audio visual berbasis online sehingga terjalin komunikasi interaktif.
Harapan serupa dikemukakan Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi bahwa coaching dan peran penyuluh selaku pendamping dan pengawal petani harus dilaksanakan, untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi, dengan mengoptimalkan kegiatan pembinaan, pengawalan, dan pendampingan kepada petani sampai wilayah pelosok.
"Kegiatan coaching dan optimalisasi peran Penyuluh dan Pendamping perlu dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi guna mengoptimalkan kegiatan pembinaan, pengawalan, dan pendampingan kepada petani sampai wilayah pelosok," kata Dedi Nursyamsi.
Seruan tersebut dilaksanakan oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang di Provinsi Kalimantan Selatan yang senantiasa memberikan edukasi dan informasi kepada setiap insan pertanian Indonesia, salah satunya melalui program Widyaiswara Sapa Kostratani [Wisatani] Sesi 88 pada Rabu [19/1].
Kepala BBPP Binuang, Yulia Asni Kurniawati mengatakan Wisatani Sesi 88 mengangkat tema 'Meningkatkan Kelas Kelompok Tani' yang berupaya mengurai kondisi Poktan saat ini, "seperti apa kelas Poktan-nya. Kita juga ingin melihat peran penyuluh pertanian setempat mengawal dan mendampingi Poktan kelompok taninya di lapangan."
Menurutnya, berdasarkan pantauan tim Wisatani, peserta sangat antusias hingga 500 peserta, sehingga memenuhi kuota zoom meeting untuk mengikuti Wisatani melalui layar virtual. Peserta terdiri atas penyuluh, petani, pegawai dinas pertanian dan profesi lainnya.
Yulia Asni Kurniawati mengelaborasi data Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian [Simluhtan] untuk 2021, ternyata Poktan pada umumnya masih berada pada Status Pemula sebesar 57%, Kelas Lanjut 23%, Kelas Madya 4% dan Kelas Utama hanya 1% dari total 673.403 Poktan yang terdaftar, sehingga perlu ditingkatkan satu level ke status madya.
"BBPP Binuang senantiasa selalu siap menguatkan kapasitas Poktan dan mengembangkan ketenagaan pelatihan. Melalui webinar ini diharapkan Poktan akan semakin maju dan berinovasi teknologi melalui para penyuluh. Peningkatan kemampuan kelas Poktan bukan sesuatu yang sulit dicapai, maka penyuluh harus optimis dan senantiasa menciptakan kedekatan humanis dengan petani," kata Yulia AK.
Narasumber selama pelatihan dari widyaiswara BBPP Binuang yakni Yusuf Rijayanto dan Tota Totor Naibaho yang menekankan pembinaan dan pemberdayaan terhadap Poktan mutlak diperlukan agar memiliki kemampuan merencanakan usaha taninya dan mengakses berbagai fasilitas dalam program pembangunan pertanian.
"Upaya tersebut dapat diawali dengan pemetaan atas keberadaan dan kemampuan Poktan, utamanya tentang Panca Kemampuan Poktan yakni merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan kegiatan, melakukan pengendalian dan pelaporan serta mengembangkan kepemimpinan Poktan," kata Tota TN.
Sementara penilaian kelas kemampuan Poktan, katanya, untuk mengetahui keragaman kemampuan; menyediakan bahan perumusan kebijakan dan strategi pemberdayaan petani; mengetahui metodologi dan pemetaan kebutuhan penyuluh pada masing-masing kelas kemampuan; menyediakan database melalui Simluhtan dan meningkatkan kinerja penyuluh pertanian dalam melakukan pengawalan dan pendampingan kelompok tani. [Tota/Irfan/Agus]
Tapin of South Borneo [B2B] - Indonesian government in the next five years prioritizes the development of human resources that are ready to face globalization in the era of industrialization 4.0, carry out its role to develop millennial farmers who understand information and communication technology, according to the senior official of the agriculture ministry.
