UPT Pelatihan Kementan Latih Penyuluh Sultra Kelola Brigade Pangan

Sulawesi`s Batangkaluku Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


UPT Pelatihan Kementan Latih Penyuluh Sultra Kelola Brigade Pangan
BBPP BATANGKALUKU: Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani menekankan pentingnya peran penyuluh mendukung keberhasilan Brigade Pangan sebagai penggerak peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan nasional.

 

Gowa, Sulsel (B2B) - Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku menggelar ´Pelatihan Manajerial Brigade Pangan bagi Penyuluh Pertanian´ secara daring selama tiga hari, 9 - 11 Juni 2026.

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan kegiatan pelatihan diikuti oleh 673 penyuluh dari kabupaten lokasi Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) meliputi Bombana, Kolaka Timur, Konawe, Konawe Selatan dan Konawe Utara.

Pelatihan bertujuan meningkatkan kapasitas penyuluh sebagai pendamping Brigade Pangan agar mampu mendorong pengelolaan usaha pertanian yang profesional, berkelanjutan, dan berorientasi bisnis.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Brigade Pangan merupakan salah satu strategi Kementerian Pertanian dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dan mewujudkan swasembada pangan melalui penerapan teknologi modern serta keterlibatan generasi muda di sektor pertanian.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa Brigade Pangan menjadi motor transformasi pertanian dari sistem tradisional menuju pertanian modern. 

"Setelah memperoleh dukungan awal dari pemerintah, Brigade Pangan harus mampu berkembang secara mandiri melalui perencanaan usaha yang profesional dan berkelanjutan," katanya.

BBPP Batangkaluku

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani pada sambutan pembukaan kegiatan mengatakan, pelatihan bertujuan meningkatkan kapasitas penyuluh sebagai pendamping Brigade Pangan.

"Tujuannya, agar penyuluh mampu mendorong pengelolaan usaha pertanian yang profesional, berkelanjutan, dan berorientasi bisnis," katanya.

Materi yang diberikan dalam pelatihan mencakup Kelembagaan Brigade Pangan, Kewirausahaan, Manajemen Pengelolaan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan), serta Manajemen Keuangan.

Jamaluddin Al Afgani menekankan pentingnya peran penyuluh mendukung keberhasilan Brigade Pangan sebagai penggerak peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan nasional.

“Pelatihan ini menjadi momentum bagi kita untuk terus berkontribusi menjaga ketahanan pangan," katanya lagi.

Skala Bisnis

Jamaluddin Al Afgani mengingatkan, sebagai penyuluh pendamping, harus mampu memotivasi pengelola Brigade Pangan dapat mengembangkan usahanya dalam skala bisnis sehingga mampu memberikan pendapatan yang layak bagi anggotanya.

"Brigade Pangan tidak hanya berfungsi sebagai kelembagaan pendukung produksi pertanian, juga harus berkembang menjadi unit usaha yang memberikan manfaat ekonomi bagi para anggotanya," ungkapnya.

Target yang dicanangkan Kementan, agar setiap anggota Brigade Pangan mampu memperoleh penghasilan hingga Rp10 juta per bulan menjadi tantangan sekaligus motivasi yang harus diwujudkan bersama.

“Peran penyuluh sangat penting memberikan pendampingan, motivasi, dan pembinaan secara berkelanjutan," kata Jamaluddin Al Afgani.

Selain itu, penyuluh juga perlu mendorong penerapan pencatatan usaha yang baik sebagai dasar evaluasi perkembangan usaha dan pencapaian target pendapatan.

Dia berharap, BBPP Batangkaluku berharap para penyuluh pertanian semakin optimal dalam mendampingi Brigade Pangan sehingga mampu menjadi motor penggerak modernisasi pertanian, peningkatan produktivitas, serta penguatan ekonomi masyarakat di kawasan Program CSR Sultra. [ilham/timhumas bbppbatangkaluku]

 

 

 

 

 

Gowa of South Sulawesi [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.