21 Hari Penyuluh Kalimantan & Jatim Tingkatkan Kompetensi di BBPP Binuang

Indonesia Binuang`s Agricultural Training Center Support Borneo Farmers

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


21 Hari Penyuluh Kalimantan & Jatim Tingkatkan Kompetensi di BBPP Binuang
BBPP BINUANG: Peningkatan kapasitas dan kompetensi penyuluh menjadi perhatian utama Mentan Syahrul Yasin Limpo dan Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi dalam pendampingan dan pengawalan petani untuk mendukung peningkatan produktivitas dan pengolahan pasca panen.

Tapin, Kalsel [B2B] - Hari-hari ini sekitar 28 penyuluh dari sejumlah kabupaten/kota di Kalimantan dan Provinsi Jawa Timur mengikuti Pelatihan Dasar Fungsional Penyuluh Pertanian tingkat Ahli dan Terampil untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi penyuluh, yang mampu beradaptasi terhadap perubahan sistem penyuluhan di Era Industri 4.0.

Pelatihan digelar Kementerian Pertanian RI di Balai Besar Pelatihan Pertanian [BBPP] Binuang di Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan [Kalsel] selama 21 hari, hingga 9 Agustus setelah dibuka Kepala BBPP Binuang, Yulia Asni Kurniawati pada Rabu [20/7].

Pelatihan selama 21 hari di BBPP Binuang tersebut diikuti oleh 28 penyuluh dari Kota Probolinggo [Jatim], Kabupaten Kutai Timur [Kaltim], Murung Raya dan Kotawaringin Barat [Kalteng] dan Tana Tidung (Kaltara].

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mengharapkan para penyuluh untuk aktif mengawal dan mendampingi petani. Peran penyuluh, menurutnya, sangat penting dalam meningkatkan produktivitas petani. 

“Sesuai dengan arahan Presiden RI Joko Widodo, kita harus menjamin ketersediaan pangan seluruh rakyat Indonesia. Ini berarti kebutuhan makanan 270 juta rakyat Indonesia wajib kita kawal, tidak boleh terganggu sama sekali,” kata Mentan.

Menurutnya, pendampingan yang dilakukan penyuluh tidak hanya dalam hal produksi, juga menyangkut pasca panen. Peran penyuluh memang vital dalam pembinaan kepada petani guna memastikan penerapan teknologi pertanian yang direkomendasikan, memfasilitasi penumbuhan dan pengembangan kelembagaan petani dan kelembagaan ekonomi petani. 

“Pengawalan kita tidak hanya saat on farm, tapi membantu setelahnya. Bagaimana kita memperbaiki pasca panen sehingga losses (kehilangan hasil produksi.red) lebih sedikit. Kita juga harus masuk ke hilirisasi sehingga produk yang dihasilkan bisa memiliki nilai tambah dan bisa dijual dengan harga yang baik,” kata Mentan Syahrul.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BBPSDMP] Dedi Nursyamsi mengatakan pelatihan bagi penyuluh bertujuan meningkatkan kapasitas dan kompetensi penyuluh pertanian, guna mengoptimalkan kegiatan pembinaan, pengawalan, dan pendampingan kepada petani. 

“Melalui kegiatan pelatihan, diharapkan penyuluh mampu menjadi penyuluh profesional, mandiri, dan berdaya saing serta responsif dalam pelaksanaan tugasnya agar mampu memecahkan permasalahan petani di lapangan sesuai disiplin ilmu pengetahuan yang dimiliki, metodologi dan teknis analisis yang tepat sesuai potensi wilayah masing-masing,” katanya. 

Kabadan Dedi Nursyamsi mengharapkan penyuluh pertanian dapat secara cepat, cermat, akurat, memiliki target yang jelas, mampu bekerja sama, taat aturan, dan siap serta memiliki kemampuan dalam menghadapi perkembangan teknologi di Era Revolusi Industri 4.0 yang menuntut perubahan yang dinamis. 

Kepala BBPP Binuang, Yulia Asni Kurniawati saat membuka pelatihan mengingatkan agar penyuluh memanfaatkan teknologi, baik dalam mendampingi petani maupun menjaga kepresisian data pertanian. Kementan pun telah menyediakan aplikasi Simluhtan yang memudahkan pendataan yang dilakukan penyuluh. 

“Pertanian tidak boleh salah hitung. Tidak boleh salah kalkulasi. Kalau pertanian salah kalkulasi, bisa terancam kehidupan 270 juta masyarakat Indonesia. Senjata bagus, peluru bagus, tapi kalau tidak ada juru tembaknya maka akan sulit,” kata Yulia mengutip arahan Mentan Syahrul. [Agus]

Tapin of South Borneo [B2B] - The role of agricultural training in Indonesia such as the Agricultural Training Center of Indonesia Agriculture Ministry across the country so the ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.

Indonesian Agriculture Minister Syahrul Indonesia Yasin Limpo stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Limpo said.

He reminded about the important role of agricultural training, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through agricultural training, we connect farmers with technology and innovation so that BBPP meet their needs and are ready for new things," Limpo said.