Monev Swasembada Pangan di Sultra, Kementan Tekankan Indeks Pertanaman 3
Sulawesi`s Batangkaluku Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Kendari, Sultra (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) pada Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku mengikuti ´Monitoring dan Evaluasi´ (Monev) Arah dan Kebijakan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman terkait pelaksanaan Program Swasembada Pangan di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan kegiatan Monev tersebut berlangsung di Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sultra pada Kamis (21/5).
Kegiatan yang dipandu Jamaluddin Al Afgani dihadiri jajaran BRMP Sultra bersama para penyuluh pertanian, sebagai bagian penguatan koordinasi dalam percepatan swasembada pangan di daerah.
Mentan Amran Sulaiman menegaskan, pencapaian target swasembada pangan dilakukan melalui dua strategi utama, yakni intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian yang diperkuat dengan penerapan pertanian modern, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kolaborasi lintas sektor.
Sejalan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya peran penyuluh pertanian mendukung percepatan swasembada pangan nasional.
“Peran penyuluh sangat vital. Kita harus bergerak dalam satu irama dan satu komando sesuai arahan Kementerian Pertanian untuk mempercepat tercapainya swasembada pangan,” katanya.
BBPP Batangkaluku
Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian dan petani dinilai menjadi faktor penting.
"Tujuannya, memastikan program swasembada pangan dapat berjalan efektif, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi pangan nasional," katanya.
Swasembada pangan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, ungkap Jamaluddin Al Afgani, juga harus memperhatikan aspek keberlanjutan, efisiensi, dan kesejahteraan petani.
"Indeks Pertanaman adalah angka rata-rata frekuensi penanaman pada suatu lahan dalam satu tahun," ungkapnya.
Pembagiannya adalah sebagai berikut: IP 100 (IP 1) maksudnya lahan hanya ditanami 1 kali setahun; IP 200 (IP 2) lahan ditanami 2 kali dalam setahun; IP 300 (IP 3): lahan ditanami 3 kali dalam setahun.
Untuk menerapkan pola tanam IP 3 atau panen 3 kali setahun, ada beberapa faktor krusial yang harus dipenuhi petani yakni irigasi teknis, varietas padi genjah, mekanisasi alat pertanian dan manajemen pola tanam.
Oplah Tunjang IP
Arahan teknis disampaikan oleh Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Yusran Yusuf, yang menekankan pentingnya percepatan peningkatan produksi pangan melalui optimalisasi lahan dan peningkatan Indeks Pertanaman (IP).
Menurutnya, peningkatan IP menjadi IP3 merupakan langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian sekaligus memperkuat pencapaian target swasembada pangan nasional.
“Selain itu, penanaman pada lokasi-lokasi Cetak Sawah Rakyat (CSR) yang telah selesai dikonstruksi perlu segera dilakukan agar pemanfaatan lahan berjalan optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, peserta juga melakukan diskusi terkait berbagai tantangan di lapangan, termasuk keterbatasan ketersediaan benih di sejumlah wilayah yang dinilai masih menjadi kendala bagi petani.
Menanggapi hal itu, Yusran Yusuf menekankan pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan sekaligus mendorong kemandirian daerah menyelesaikan berbagai persoalan pertanian. [ilham/timhumas bbppbatangkaluku]
Kendari of Southeast Sulawesi [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
