BBPKH Cinagara dan BB Veteriner Maros Tingkatkan Kompetensi Petugas Puskeswan Sulawesi
West Java`s Cinagara Animal Health Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Maros, Sulsel (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) terus memperkuat kualitas pelayanan kesehatan hewan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat lapangan. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Tematik Pelayanan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara bekerja sama dengan Balai Besar Veteriner (BB Veteriner) Maros.
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan, pelatihan berlangsung selama tiga hari (21-23/07/2026) diikuti oleh 26 petugas Puskeswan yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari sinergi antar Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Pertanian dalam memperkuat kompetensi aparatur kesehatan hewan sebagai garda terdepan pelayanan veteriner di daerah.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pembangunan subsektor peternakan memerlukan dukungan sumber daya manusia yang profesional dan adaptif terhadap berbagai tantangan kesehatan hewan.
"Pelayanan kesehatan hewan yang berkualitas merupakan fondasi dalam menjaga produktivitas ternak, melindungi masyarakat dari ancaman penyakit hewan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Karena itu, peningkatan kompetensi petugas di lapangan harus terus dilakukan secara berkelanjutan," ujar Amran.
Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan penguatan kapasitas petugas Puskeswan merupakan investasi strategis dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik di bidang kesehatan hewan.
"Petugas Puskeswan adalah ujung tombak pelayanan veteriner di daerah. Mereka harus memiliki kompetensi teknis, kemampuan komunikasi, serta kepemimpinan agar mampu memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan sesuai standar kepada masyarakat," kata Arsanti.
BBPKH Cinagara
Kepala BBPKH Cinagara Inneke Kusumawaty menjelaskan bahwa tantangan kesehatan hewan saat ini semakin kompleks, mulai dari ancaman penyakit menular, tuntutan keamanan pangan asal hewan, hingga kebutuhan pelayanan reproduksi ternak. Kondisi tersebut menuntut petugas Puskeswan memiliki kompetensi yang semakin komprehensif.
"Kolaborasi antara BBPKH Cinagara dan BB Veteriner Maros merupakan langkah strategis dalam memperkuat kapasitas petugas Puskeswan sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan hewan. Kami berharap 26 peserta dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dapat menjadi motor penggerak peningkatan mutu pelayanan veteriner di daerahnya masing-masing melalui pelayanan yang profesional, cepat, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat," ujarnya.
Menurut Inneke, Puskeswan memiliki fungsi yang tidak hanya terbatas pada pelayanan pengobatan hewan, juga mencakup kegiatan surveilans penyakit, kesehatan reproduksi ternak, kesehatan masyarakat veteriner, komunikasi risiko, hingga respons cepat terhadap kejadian penyakit hewan. Oleh sebab itu, peningkatan kompetensi petugas menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung pembangunan peternakan nasional.
Ristaqul Husna Belgania, Widyaiswara BBPKH Cinagara, mengatakan bahwa pelatihan dirancang untuk membekali petugas Puskeswan dengan kompetensi yang komprehensif agar mampu menjawab tantangan pelayanan kesehatan hewan yang semakin dinamis.
"Selama pelatihan, peserta mendapatkan penguatan materi mulai dari kebijakan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan, manajemen Puskeswan, pemanfaatan Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS), komunikasi risiko, Veterinary Leadership, manajemen wabah, deteksi dini dan respons cepat penyakit hewan, biosekuriti, kesehatan masyarakat veteriner, kesehatan reproduksi, teknik pengambilan sampel, hingga pengenalan jejaring laboratorium veteriner," ujar Belga.
Dengan demikian Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan secara nyata dalam meningkatkan kualitas pelayanan di Puskeswan masing-masing.
"Keberhasilan pelatihan bukan hanya diukur dari sertifikat yang diperoleh, tetapi dari kemampuan peserta dalam menerapkan ilmu yang didapat untuk meningkatkan mutu pelayanan Puskeswan, memperkuat koordinasi dengan laboratorium veteriner, serta memberikan pelayanan yang semakin cepat, tepat, dan terpercaya kepada masyarakat," katanya.
Melalui kolaborasi antara BBPKH Cinagara dan BB Veteriner Maros, Kementerian Pertanian terus memperkuat kompetensi petugas kesehatan hewan di daerah sebagai bagian dari upaya membangun sistem pelayanan veteriner yang semakin profesional, responsif, dan adaptif.
Langkah ini diharapkan mampu mendukung pengendalian penyakit hewan, menjaga kesehatan ternak, menjamin keamanan pangan asal hewan, serta memperkuat ketahanan pangan menuju peternakan Indonesia yang maju, sehat, dan berkelanjutan. [yudi/timhumas bbpkhcinagara]
Maros of South Sulawesi [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
