Perkuat Produksi Nasional, Kementan Dorong Peningkatan IP Lahan Oplah CSR

Indonesian Govt Support the Farmers to Increase National Food Production

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Perkuat Produksi Nasional, Kementan Dorong Peningkatan IP Lahan Oplah CSR
BPPSDMP KEMENTAN: Kepala BPPSDMP Kementan, Idha Widi Arsanti mengatakan Gertam Serempak di Langkat, Sumut merupakan Gertam ke-13 dan memiliki target tertinggi, yaitu mencapai 70.000 hektare. Sebelumnya target tanam pada kisaran 50.000 hektare.

 

Langkat, Sumut (B2B) - Kementerian Pertanian terus mempercepat peningkatan indeks pertanaman (IP) melalui Gerakan Tanam Serempak yang dipusatkan di Desa Suka Pulung, Kecamatan Sirapit, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, Senin (31/8/2026).

Kegiatan ini dilaksanakan serentak di 25 provinsi pada lokasi Optimalisasi Lahan (Oplah) Tahun 2024 dan 2025 serta lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) Tahun 2025 sebagai bagian dari upaya memperkuat produksi pangan nasional dan menjaga keberlanjutan swasembada pangan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, didampingi Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan, Nurliana Harahap, perwakilan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, perwakilan Pemerintah Kabupaten Langkat, serta kepala daerah dan jajaran pertanian di lokasi pelaksanaan Gerakan Tanam Serempak.

Gerakan Tanam Serempak menjadi salah satu strategi Kementerian Pertanian untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian yang telah dibangun melalui program Oplah dan CSR. Melalui peningkatan frekuensi tanam, lahan yang tersedia diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap peningkatan produksi pangan nasional.

Selain memperluas areal tanam, kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan indeks pertanaman sehingga lahan dapat dimanfaatkan lebih intensif dan produktivitas pertanian terus meningkat dari waktu ke waktu.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa percepatan tanam merupakan langkah penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan nasional sekaligus memperkuat fondasi swasembada pangan berkelanjutan.

Menurutnya, setiap lahan yang telah mendapatkan dukungan program pemerintah harus segera dimanfaatkan secara optimal agar mampu menghasilkan produksi yang berdampak langsung terhadap ketersediaan pangan nasional.

Percepatan Tanam
Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti mengatakan Gerakan Tanam Serempak bukan sekadar kegiatan tanam bersama, melainkan gerakan nasional untuk meningkatkan indeks pertanaman, memperluas areal tanam, dan mempercepat produksi pangan melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri, penyuluh pertanian, Brigade Pangan, dan petani.

“Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan yang kuat. Penyuluh pertanian bersama petani menjadi ujung tombak untuk memastikan lahan yang sudah siap dapat segera ditanami dan menghasilkan produksi yang optimal,” ujarnya.

Menurut Arsanti, tujuan utama Gerakan Tanam Serempak adalah meningkatkan indeks pertanaman pada lahan Oplah dan CSR agar mampu menghasilkan dua hingga tiga kali musim tanam dalam setahun. Upaya tersebut menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional sekaligus memperkuat swasembada pangan.

“Target kita adalah mendorong peningkatan indeks pertanaman hingga IP 250 bahkan IP 300 pada lahan yang telah mendapatkan dukungan program pemerintah. Dengan peningkatan frekuensi tanam, produktivitas lahan akan semakin optimal dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi petani maupun ketahanan pangan nasional,” katanya.

Gertam ke-13
Arsanti menjelaskan, Gerakan Tanam Serempak yang dilaksanakan hari ini merupakan pelaksanaan ke-13 sepanjang tahun 2026 dan menjadi kegiatan dengan target tanam terbesar dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.

“Gerakan tanam hari ini merupakan yang ke-13 dan memiliki target tertinggi, yaitu mencapai 70.000 hektare. Sebelumnya target tanam berada pada kisaran 50.000 hektare. Kami berharap dalam satu hingga dua hari ke depan target tersebut dapat tercapai,” ujarnya.

Arsanti menegaskan bahwa keberhasilan swasembada pangan yang telah dicapai merupakan hasil kerja bersama petani, penyuluh pertanian, Brigade Pangan, pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam pembangunan pertanian.

“Keberhasilan swasembada pangan adalah keberhasilan kita bersama. Karena itu, semangat kolaborasi harus terus dijaga agar produksi pangan nasional tetap meningkat dan berkelanjutan,” katanya.

Tangkal El Nino
Dalam menghadapi potensi El Nino, Kementerian Pertanian terus memperkuat langkah mitigasi melalui program pompanisasi dan irigasi perpompaan (Irpom) untuk memastikan ketersediaan air bagi pertanaman. 

Program tersebut menjadi strategi cepat pemerintah dalam mengalirkan air dari berbagai sumber ke lahan pertanian sehingga indeks pertanaman tetap dapat ditingkatkan meski menghadapi ancaman kekeringan.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan langkah penyelamatan lahan yang berpotensi terdampak kekeringan melalui pemulihan fungsi lahan, bantuan benih, dan optimalisasi pengairan. 

Upaya tersebut sejalan dengan target Kementerian Pertanian untuk menyelamatkan hingga 95 persen lahan pertanian yang terancam kekeringan dan meminimalkan risiko puso di sentra-sentra produksi pangan.

Menurut Arsanti, penyuluh pertanian memiliki peran penting dalam memastikan petani memperoleh informasi secara cepat terkait teknologi budidaya, kondisi iklim, pengelolaan air, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman sehingga proses produksi dapat berjalan optimal.

Realisasi Tanam
Berdasarkan data realisasi tanam periode Oktober 2025 hingga 30 Agustus 2026, luas tanam pada lokasi Oplah 2024 telah mencapai 700.288,73 hektare dengan IP 2,01. Sementara Oplah 2025 mencapai 877.595,51 hektare dengan IP 2,00, sedangkan CSR 2025 telah tertanami seluas 71.400,08 hektare dengan IP 1,16.

Dalam sesi dialog, Wakil Wali Kota Pagar Alam, Bertha, menyampaikan bahwa indeks pertanaman di wilayahnya telah mencapai IP 200 dan ditargetkan meningkat menjadi IP 300. Untuk mendukung target tersebut, pemerintah daerah berharap adanya tambahan alat dan mesin pertanian bagi Brigade Pangan.

Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Akselerasi Standardisasi dan Program Strategis, Abdul Haris Bahrun, yang mengikuti kegiatan dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, melaporkan bahwa potensi pemanfaatan sumber air pada lahan Oplah di wilayahnya masih dapat terus dioptimalkan untuk mendukung peningkatan luas tanam.

Pemerintah Daerah
Wakil Bupati Siak, Syamsurizal, menyampaikan kebutuhan benih untuk mendukung percepatan tanam pada areal sekitar 2.600 hektare serta melaporkan adanya potensi penambahan luas lahan program Cetak Sawah Rakyat di daerahnya.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Arsanti menegaskan bahwa seluruh laporan dan usulan dari pemerintah daerah akan segera ditindaklanjuti bersama unit teknis terkait. Khusus usulan penambahan luas Cetak Sawah Rakyat di Kabupaten Siak, koordinasi akan dilakukan dengan Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian guna mendukung percepatan pengembangan areal tanam baru.

Arsanti juga menekankan pentingnya konsolidasi lahan oleh Brigade Pangan agar pengelolaan usaha tani menjadi lebih efisien. Dengan hamparan yang lebih luas, pemanfaatan alat dan mesin pertanian dapat dioptimalkan sehingga biaya produksi dapat ditekan, waktu tanam dipersingkat, dan produktivitas meningkat.

Ia mengingatkan pentingnya pelaporan yang cepat dan akurat terkait realisasi tanam, peningkatan indeks pertanaman, serta berbagai kendala di lapangan sebagai dasar penyusunan kebijakan yang tepat sasaran.

Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), pemerintah daerah, penyuluh pertanian, Brigade Pangan, hingga petani di lokasi pelaksanaan.

Gerakan Tanam Serempak juga menjadi bagian dari upaya mendorong modernisasi pertanian dan memperkuat regenerasi petani melalui pelibatan generasi muda dalam pembangunan sektor pertanian nasional. [esap/timhumas bppsdmpkementan]

 

 

 

 

 

 

Langkat of North Sumatera [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.