Perkuat `Link and Match`, SMKPPN Kementan Terjunkan Siswa XII PKL ke DuDi
Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s SMKPPN Banjarbaru
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Banjarbaru, Kalsel (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) pertanian melalui pendidikan vokasi, selaras kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) di antaranya melalui pendidikan vokasi pada Sekolah Menengah Kejuruan - Pembangunan Pertanian Negeri (SMKPPN) Banjarbaru di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Kepala SMKPPN Banjarbaru, Angga Tri Aditia Permana mengatakan, upaya tersebut diwujudkan oleh Kementan pada pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi 59 siswa SMKPPN Banjarbaru Tahun Ajaran 2026/2027.
Upaya SMKPPN Banjarbaru sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa generasi muda memegang peran strategis dalam pembangunan pertanian nasional.
"Peningkatan kualitas SDM menjadi kunci dalam mewujudkan pertanian modern dan mempercepat swasembada pangan," katanya.
Mentan Amran mengatakan, masa depan pertanian di tangan generasi muda. Mereka akan menentukan arah pembangunan pertanian. Generasi muda harus terus memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang pertanian.
Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menegaskan, pendidikan vokasi harus terus memperkuat link and match dengan dunia industri agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai kebutuhan pasar kerja.
Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, menyampaikan bahwa PKL menjadi salah satu instrumen penting dalam membentuk lulusan vokasi yang kompeten, adaptif, dan berjiwa wirausaha.
SMKPPN Banjarbaru
Kepala SMKPPN Banjarbaru, Angga Tri Aditia Permana mengatakan, sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) pendidikan vokasi lingkup Kementan, SMK-PP Negeri Banjarbaru secara bertahap memberangkatkan 59 peserta PKL pada 2 hingga 10 Juli 2026.
"Sebanyak 59 siswa kelas XII mengikuti Program PKL, terdiri atas 30 siswa Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH), 20 siswa Agribisnis Tanaman Perkebunan (ATP), dan sembilan siswa Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP)," katanya.
Angga Tri A.P. menambahkan, siswa ditempatkan pada berbagai mitra DUDI sesuai kompetensi keahlian antara lain Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI), hotel, kafe, PT Japfa Comfeed, perusahaan perkebunan kelapa sawit PT GMK dan PT SAP, sentra usaha hortikultura dan hidroponik di Kota Banjarbaru, Pelaihari, Mantewe, Kabupaten Tanah Laut dan Kabupaten Tanah Bumbu.
Dia berharap seluruh peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan kompetensi teknis maupun karakter profesional.
"PKL merupakan bagian dari proses pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik di dunia kerja sesuai kurikulum dan kebutuhan industri," ungkap Angga Tri A.P.
Diharapkan para siswa mampu menunjukkan disiplin, tanggung jawab, serta etos kerja yang baik selama menjalani praktik.
Soft Skills
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Airin Nurmarita, menambahkan bahwa PKL tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan teknis (hard skills), juga mengembangkan soft skills seperti komunikasi, kerja sama, kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, hingga kemampuan menganalisis peluang usaha secara mandiri.
"Melalui pelaksanaan PKL, SMK-PP Negeri Banjarbaru menegaskan komitmennya mencetak lulusan vokasi pertanian yang kompeten, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta siap memasuki dunia kerja maupun menjadi wirausahawan muda di sektor pertanian," katanya.
Sinergi yang terus diperkuat, ungkap Airin Nurmarita, antara satuan pendidikan vokasi dan dunia usaha diharapkan mampu menghasilkan SDM pertanian profesional dan berdaya saing untuk mendukung pembangunan pertanian Indonesia yang maju, mandiri, dan modern.
"PKL merupakan wahana strategis untuk menyelaraskan kompetensi peserta didik dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri, sekaligus membangun karakter profesional serta jiwa kewirausahaan," katanya. [Tim Ekpos SMKPPN Banjarbaru]
Banjarbaru of South Borneo [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
