Tingkatkan Produksi, Kementan Dorong Penyuluh Manfaatkan Sumber Hara Lokal

The Agricultural Library Support Indonesian Farmers in Achieving Food Self-sufficiency

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


Tingkatkan Produksi, Kementan Dorong Penyuluh Manfaatkan Sumber Hara Lokal
BB PUSTAKA: Diskusi Buku dibuka oleh Kabag Umum Revo Agri Muis mewakili Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho DP, yang diharapkan mengedukasi penyuluh dan petani memanfaatkan potensi sumber hara tanaman. [Foto: Dani]

 

Bogor, Jabar (B2B) - Demi meningkatkan produksi, pasca lebaran, penyuluh pertanian Kabupaten dan Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat menghadiri Diskusi Buku Pertanian bertajuk ´Sumber Hara Tanaman Berbahan Baku Lokal´ di IPB International Convention Center - Botani Square pada Rabu (25/3).

Diskusi yang digelar oleh Pertanian Press pada Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa pemerintah terus berupaya mengoptimalkan potensi pertanian masyarakat dengan mengedepankan kearifan lokal sebagai kekuatan utama.

“Inovasi di sektor pertanian tidak harus selalu mahal atau berbasis teknologi tinggi, tetapi harus tepat guna, mampu meningkatkan hasil produksi, serta tetap menjaga kelestarian lingkungan. Petani tetap menjadi garda terdepan dalam mewujudkan swasembada pangan,” katanya.

Sementara, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menyoroti pentingnya peran penyuluh mendampingi petani di lapangan. 

Menurutnya, kehadiran penyuluh sangat krusial untuk memastikan petani menerapkan praktik budidaya yang sesuai dengan kondisi lahan dan prinsip keberlanjutan. 

“Pendampingan ini menjadi fondasi dalam memperkuat ketahanan pangan, baik di tingkat daerah maupun nasional,” katanya.

BB Pustaka

Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro diwakili Kepala Bagian (Kabag) Umum Revo Agri Muis mengatakan bahwa kegiatan diskusi buku, diharapkan dapat mengedukasi masyarakat, penyuluh dan petani untuk memanfaatkan potensi sumber hara tanaman yang ada di sekitar.

“Dengan termanfaatkannya sumber hara lokal, swasembada beras yang telah kita capai dapat diwujudkan secara berkelanjutan sehingga swasembada untuk komoditas lain juga dapat kita capai," katanya.

Sumber hara lokal, ungkap Revo Agri Muis, juga diharapkan dapat meningkatkan produksi.

Diskusi tersebut menghadirkan narasumber, Surono, Peneliti Mikologi Tanah dan Lingkungan dari Pusat Riset Mikrobiologi Terapan - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Sulistyowati, Praktisi Kampung Ramah Lingkungan (KRL) dari Mutiara Bogor Raya, Kota Bogor.

Pada kesempatan tersebut, Surono menjelaskan bahwa tanah dengan bahan organik yang cukup biasanya memiliki kapasitas yang lebih besar untuk menahan air dan menekan penyakit tanaman.

“Tanah subur membutuhkan lebih sedikit pupuk dan memiliki hasil yang lebih tinggi daripada tanah yang kehilangan bahan organik,” jelasnya.

Bahan Organik

Bahan organik tanah merupakan dasar atau foundation untuk tanah produktif serta mendukung tanaman tumbuh sehat, meningkatkan kelimpahan sumber daya mikroba dan organisme tanah lainnya, mendukung ketersediaan air, udara (aerasi), dan nutrisi untuk tanaman sehingga sangat relevan jika para penyuluh ingin meningkatkan produksi pertaniannya.

Sementara Sulistyowati mengungkapkan bahwa sampah di sekitar kita bisa dikelola dan dimanfaatkan menjadi pupuk organik dan berbagai produk ramah lingkungan.

Sisa makanan dapat diolah menjadi pupuk organik seperti pupuk organik cair (POC), kompos cair, bibit tanaman dan media tanam.

Sulistyowati juga menjelaskan dampak dari penggunaan unsur hara lokal yaitu lingkungan lebih bersih, ekonomi semakin kreatif serta masyarakat hidup lebih sehat mulai dari rumah dan mengajak seluruh peserta untuk menjadi agen perubahan untuk menyelematkan bumi bersama. [ibrahim/shinta/timhumas bbpustakakementan]

 

 

 

 

Bogor City of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.