Koordinasi CSR Bengkulu, Kementan Sinergi Percepatan Swasembada Pangan

West Java`s Cinagara Animal Health Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Koordinasi CSR Bengkulu, Kementan Sinergi Percepatan Swasembada Pangan
BBPKH CINAGARA: Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty [kemeja putih] pada kegiatan koordinasi dengan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu, H. R. A. Denni serta jajaran Korem 041/Garuda Emas di Kota Bengkulu.

 

Bengkulu (B2B) - Upaya percepatan Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) sebagai bagian dari agenda nasional menuju Swasembada Pangan terus diperkuat oleh Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui sinergi lintas sektor.

Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Inneke Kusumawaty melaksanakan koordinasi dengan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu, H. R. A. Denni serta jajaran Korem 041/Garuda Emas di Bengkulu, Selasa (14/7) terkait langkah strategis Program CSR. 

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Program CSR merupakan salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan luas baku sawah sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. 

"Keberhasilan Program CSR membutuhkan dukungan dan kolaborasi seluruh pihak agar target swasembada pangan dapat diwujudkan secara berkelanjutan," katanya.

Senada hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan bahwa pembangunan pertanian memerlukan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, serta seluruh pemangku kepentingan. 

"Kolaborasi yang baik akan mempercepat implementasi berbagai program prioritas Kementerian Pertanian, termasuk pengembangan lahan sawah baru untuk meningkatkan produksi pangan nasional," katanya.

BBPKH Cinagara
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan melalui koordinasi diharapkan pelaksanaan Program CSR di Provinsi Bengkulu dapat berlangsung lebih optimal, sehingga mampu mendukung peningkatan produksi padi.

"Target utama memperkuat ketahanan pangan daerah, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian target swasembada pangan nasional," katanya.

Menurut Inneke Kusumawaty, pertemuan tersebut membahas langkah-langkah strategis mendukung percepatan pelaksanaan Program CSR di Provinsi Bengkulu. 

"Koordinasi dilakukan untuk menyelaraskan peran pemerintah pusat, pemerintah daerah dan TNI dalam memastikan pelaksanaan program berjalan efektif, tepat sasaran, serta memberikan manfaat nyata bagi peningkatan produksi pangan," katanya.

Sinergi Lintas Sektor
Inneke Kusumawaty mengungkapkan bahwa keberhasilan Program CSR memerlukan kolaborasi yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan. 

"Sinergi lintas sektor menjadi faktor penting mengatasi berbagai tantangan di lapangan, mulai dari aspek perencanaan, pendampingan hingga percepatan pelaksanaan," katanya.

Program CSR merupakan salah satu langkah strategis pemerintah, untuk memperluas areal tanam dan meningkatkan kapasitas produksi padi nasional. 

"Koordinasi yang solid antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan unsur TNI menjadi kunci agar setiap tahapan pelaksanaan dapat berjalan sesuai target," kata Inneke Kusumawaty.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Bengkulu, H. R. A. Denni menyambut baik koordinasi tersebut seraya menegaskan komitmen Pemprov Bengkulu untuk terus mendukung implementasi program strategis nasional melalui penguatan koordinasi lintas instansi serta percepatan penyelesaian berbagai kebutuhan di lapangan.

Sementara itu, jajaran Korem 041/Garuda Emas menyatakan kesiapan untuk terus memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program, khususnya penguatan koordinasi dan pendampingan di wilayah yang menjadi lokasi pengembangan Program CSR. [yudi/timhumas bppkhcinagara]

 

 

 

 

 

Bengkulu [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.

Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.