Pupuk Bersubsidi Diusulkan Mentan untuk Dihapus
Indonesian Govt Proposes Abolition of Fertilizer Subsidy
Reporter : Gusmiati Waris
Editor : Ismail Gani
Translator : Novita Cahyadi
Jakarta (B2B) - Menteri Pertanian Suswono mengakui berbagai kendala masih ditemukan dalam penyaluran pupuk ke konsumen. Mulai dari penjualan pupuk per paket, harga pupuk bersubsidi yang tinggi, hingga bupati yang enggan menerbitkan izin penyaluran pupuk.
Akibat kendala tersebut, petani kerap tertunda melakukan penanaman. Padahal pupuk menjadi faktor penting dan strategis dalam meningkatkan produktivitas tanaman. Pemerintah pun tak segan menggelontorkan anggaran sebesar Rp 15,8 Triliun untuk pelaksanaan dan subsidi pupuk tahun lalu.
"Kalau terus ada moral hazard, saya usul agar pupuk tidak perlu disibsidi, serahkan saja pada harga pasar," ujar Menteri Pertanian (Mentan) Suswono.
Berdasarkan pantauan Kementan, masih ditemukan alokasi pupuk ke distributor dan kios yang tidak sesuai dengan kebutuhan petani. Lalu, stok pupuk subsidi, terutama pupuk urea sering habis. Dampaknya, harga pupuk ketika sampai ke konsumen jauh melampai Harga Eceran Tertinggi (HTE).
Suswono menambahkan, biaya pupuk mencapai 14% hingga 25% dari biaya usaha petani. Namun petani masih pula dibebani dengan keharusan membeli paket pupuk yang tidak seluruhnya dibutuhkan.
Mentan memastikan bahwa sistem paket tidak dibenarkan dalam penyaluran pupuk. "Tidak dibenarkan melakukan paketan. Kalau petani hanya butuh urea ya urea saja. Jangan kasih yang lain, katanya.
Jakarta (B2B) - Minister of Agriculture, Suswono proposed that fertilizer did not need to be subsidized. The reason, many obstacles are still found in fertilizer distribution to consumers, started from the sale per package, also the high price of subsidized fertilizer.
The result, farmers often delayed their planting activities. Fertilizer becomes an important and strategic factor in increasing crop productivity. Government has poured 15.8 trillion IDR budget for subsidized fertilizer last year.
"If such moral hazard continues like this, I think fertilizer does not need to be subsidized, leave it to market price," Suswono said recently.
Ministry of Agriculture found some obstacles. First, between allocation and fertilizer requirements for farmers is not appropriate. Stock of urea is often depleted. The impact, fertilizer price to consumers is far over the highest retail price.
Suswono said that cost of fertilizer reached 14 to 25 percent of total farming costs. However, farmers still have to buy fertilizer in package system. This system is not justified in fertilizer distribution. If farmers need only urea, so they must buy urea only.
