Literasi Pertanian Kunci Kinerja Penyuluh, Gubernur Sulbar Apresiasi Mentan Amran
The Agricultural Library Support Indonesian Farmers in Achieving Food Self-sufficiency
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Jakarta (B2B) - Keberhasilan mewujudkan swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sarana produksi, tetapi juga oleh kuatnya literasi pertanian yang membekali penyuluh dengan informasi, inovasi, dan teknologi terkini.
Berbekal pengetahuan yang terus diperbarui, penyuluh menjadi garda terdepan dalam meningkatkan indeks pertanaman (IP), mengawal implementasi Pertanian Modern melalui Advanced Agriculture System (PM-AAS), serta mendampingi petani meningkatkan produktivitas. Komitmen tersebut terus diperkuat Kementerian Pertanian, yang mendapat apresiasi dari Gubernur Sulawesi Barat atas berbagai dukungan nyata bagi pembangunan sektor pertanian.
Dukungan tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Pendayagunaan Penyuluh Pertanian Provinsi Sulawesi Barat yang dihadiri pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan 525 penyuluh pertanian se-Sulawesi Barat di Gedung Auditorium Poltekkes Kemenkes Mamuju, Senin (13/7).
Rapat koordinasi yang mengusung tema “Penguatan Peran Penyuluh Pertanian dalam Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan melalui Pendampingan dan Modernisasi Pertanian” ini diselenggarakan oleh BPPSDMP melalui Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa bekerja sama dengan Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP). Kegiatan diikuti 525 penyuluh pertanian, 10 Brigade Pangan, serta perwakilan Pemerintah Provinsi dan pemerintah kabupaten se-Sulawesi Barat.
Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka menegaskan bahwa peningkatan produktivitas pertanian dapat dilakukan melalui optimalisasi lahan yang telah ada. Saat ini, Indeks Pertanaman (IP) Sulawesi Barat masih berada pada angka 1,4, sehingga pemerintah daerah menargetkan peningkatan menjadi IP 2 agar frekuensi tanam dan produksi pangan meningkat tanpa harus membuka lahan sawah baru.
Suhardi juga mengapresiasi berbagai kebijakan pemerintah pusat yang dinilai telah memberikan dampak positif bagi sektor pertanian, khususnya dalam menjamin ketersediaan pupuk bagi petani. “Pertanian saat ini sudah semakin baik.
Ketersediaan pupuk juga semakin terjamin berkat kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo bersama Menteri Pertanian yang meningkatkan anggaran pupuk secara signifikan serta mempermudah tata kelola penyalurannya di daerah,” ujar Suhardi.
Menurutnya, dukungan tersebut akan semakin diperkuat melalui implementasi Pertanian Modern melalui Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang mulai diterapkan di Sulawesi Barat, dengan sasaran peningkatan produktivitas padi dari sekitar 7 ton per hektare menjadi 10–12 ton per hektare. Ia menilai keberhasilan program tersebut memerlukan dukungan penuh penyuluh pertanian dalam mendampingi petani agar inovasi dan teknologi dapat diterapkan secara optimal di lapangan.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti yang mengikuti kegiatan secara daring, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat atas komitmennya dalam mendukung pembangunan pertanian nasional. Menurutnya, penyuluh pertanian merupakan ujung tombak pembangunan pertanian yang memiliki peran strategis dalam menjembatani kebijakan pemerintah dengan kebutuhan petani di lapangan.
Ia menegaskan bahwa penguatan kompetensi penyuluh harus terus dilakukan melalui peningkatan koordinasi, komunikasi, dan sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan agar mampu mengawal berbagai program strategis Kementerian Pertanian serta mendukung terwujudnya swasembada pangan berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian yang juga sebagai Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian Eko Nugroho Dharmo Putro menegaskan bahwa penyuluh pertanian merupakan penggerak utama implementasi program strategis Kementerian Pertanian. Keberhasilan peningkatan indeks pertanaman, penguatan implementasi PM-AAS, optimalisasi lahan, hingga peningkatan produksi pangan sangat bergantung pada kualitas pendampingan dan kemampuan literasi penyuluh kepada petani.
“Keberhasilan program tidak berhenti pada tahap perencanaan, tetapi harus dikawal hingga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi di lapangan. Penyuluh harus hadir sebagai pendamping, pemecah masalah, sekaligus penggerak perubahan bagi petani,” tegas Kapusluhtan.
Ia menjelaskan bahwa transformasi penyuluhan pertanian yang dijalankan Kementerian Pertanian tidak hanya berfokus pada penataan kelembagaan, tetapi juga peningkatan kompetensi penyuluh, penguatan digitalisasi penyuluhan, serta penyebarluasan informasi pembangunan pertanian secara lebih masif. Seluruh penyuluh diarahkan memiliki fokus kerja yang sama dalam mengawal program strategis Kementerian Pertanian, mulai dari peningkatan luas tambah tanam, peningkatan indeks pertanaman, pendampingan PM-AAS, pemanfaatan alat dan mesin pertanian, pengawalan pupuk bersubsidi, hingga penguatan kelembagaan petani.
Selain Gubernur Sulawesi Barat, kegiatan juga dihadiri Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Percepatan Produksi Pertanian Prof. Ir. Muhammad Arsyad, S.P., M.Si., Ph.D., Kepala BBRMP Dr. Sumarni Panikkai, S.P., M.Si., Plt. Direktur Polbangtan Gowa, Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian kabupaten se-Sulawesi Barat, serta Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Sulawesi Barat Ajbar, S.P.
Dalam sesi materi, Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian memaparkan strategi pendayagunaan penyuluh pertanian dalam mendukung program strategis Kementerian Pertanian. Penyuluh didorong menjalankan peran sebagai fasilitator, edukator, motivator, dan pendamping petani dalam mengawal peningkatan luas tambah tanam, implementasi PM-AAS, modernisasi pertanian, serta peningkatan produksi pangan.
Selanjutnya, Prof. Muhammad Arsyad memaparkan strategi program strategis Kementerian Pertanian dalam mendukung swasembada pangan berkelanjutan, sedangkan Kepala BBRMP Dr. Sumarni Panikkai menyampaikan evaluasi capaian Luas Tambah Tanam (LTT) Sulawesi Barat dan penguatan implementasi PM-AAS sebagai upaya meningkatkan produksi pangan di Sulawesi Barat.
Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian menyampaikan apresiasi kepada Kepala BBRMP selaku Penanggung Jawab Swasembada Pangan Provinsi Sulawesi Barat yang telah menginisiasi dan menyelenggarakan kegiatan, kepada Prof. Muhammad Arsyad selaku Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Percepatan Produksi Pertanian sekaligus Tim Pendamping Pusat, serta kepada Plt. Direktur Polbangtan Gowa selaku Penanggung Jawab Brigade Pangan Provinsi Sulawesi Barat atas sinergi dan kolaborasi dalam mendukung program strategis Kementerian Pertanian.
Plt. Kapusluhtan berharap kolaborasi dan koordinasi yang telah terbangun dapat terus diperkuat melalui kegiatan serupa secara berkelanjutan, sehingga mampu mempercepat pencapaian target produksi yang telah ditetapkan.
Rapat koordinasi ini tentunya menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan penyuluh pertanian dalam menyamakan langkah mendukung swasembada pangan berkelanjutan. Melalui pendampingan yang semakin efektif, pemanfaatan teknologi modern, dan kolaborasi yang kuat, penyuluh pertanian diharapkan mampu menjadi penggerak utama peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani di Sulawesi Barat.
Jakarta [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
