Pertanian Berkelanjutan Ramah Lingkungan, Pustaka Kementan Panen Eco Enzyme
The Agricultural Library Support Indonesian Farmers in Achieving Food Self-sufficiency
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Kota Bogor, Jabar (B2B) - Dari limbah dapur menjadi solusi pertanian ramah lingkungan. Kementerian Pertanian RI (Kementan) khususnya Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) sekitar menggelar ´Panen Eco Enzyme´ di Taman Baca Dramaga, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat (Jabar) pada Kamis (25/6).
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan, pemanfaatan eco enzyme sebagai wujud nyata pemanfaatan limbah organik rumah tangga menjadi produk bernilai guna.
Kegiatan tersebut sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa praktik pertanian dengan biaya efisien sekaligus ramah lingkungan menjadi salah satu pondasi penting dalam mewujudkan keberlanjutan sektor pertanian nasional.
Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti bahwa penggunaan pupuk organik memiliki peran penting, untuk meningkatkan hasil produksi tanaman,
"Tak kalah penting, menjaga kesuburan tanah dan mendukung praktik pertanian berkelanjutan," katanya.
BB Pustaka
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan, kegiatan ´Panen Eco Enzyme´ tidak hanya menunjukkan hasil pengolahan sampah organik yang bermanfaat bagi pertanian.
"Juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk menerapkan gaya hidup lebih peduli lingkungan dan mendukung praktik pertanian berkelanjutan," katanya.
Kegiatan diawali oleh tim BB Pustaka, Ira Dwi Rahmani yang menjelaskan terkait berbagai cara pengendalian ramah lingkungan.
Dalam kesempatan tersebut Ira memberikan informasi berupa berbagai literatur yang bisa diakses yang ada di BB Pustaka
"Eco enzyme yang dipanen merupakan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran yang telah diproses selama kurang lebih tiga bulan," katanya.
Cairan hasil fermentasi tersebut memiliki beragam manfaat, antara lain sebagai pupuk organik cair, aktivator kompos, pengendali hama alami, serta pembersih lingkungan yang ramah terhadap ekosistem, jelas Ira.
Peran KWT
Sementara Ketua KWT Betamaca, Neneng menyampaikan bahwa kegiatan bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengelola sampah organik, sekaligus memberikan alternatif solusi bagi kebutuhan pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.
"Panen eco enzyme yang berlangsung di lingkungan Taman Baca Dramaga juga menjadi sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman bagi anggota kelompok maupun masyarakat sekitar," katanya.
Selain memanfaatkan hasil panen eco enzyme, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai proses pembuatan serta cara aplikasinya pada berbagai jenis tanaman.
Mewakili Kepala BB Pustaka, Ketua Tim Kerja Layanan Perpustakaan, Sutarsyah mengungkapkan bahwa pihaknya terus menjalin koordinasi dengan KWT Betamaca untuk mendukung pengembangan kebun edukasi di Taman Baca Dramaga.
Menurut Sutarsyah, koordinasi tersebut dilakukan sebagai respons terhadap adanya serangan hama yang menyerang tanaman hidroponik, khususnya pakcoy dan caisim, yang dibudidayakan oleh kelompok.
"Kami terus berkoordinasi dengan Ketua KWT Betamaca untuk mencari solusi terhadap persoalan hama yang menyerang tanaman hidroponik pakcoy dan caisim.
Salah satu alternatif yang kami dorong adalah pemanfaatan eco enzyme sebagai bagian dari pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan.
"Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat dapat memperoleh pengetahuan sekaligus keterampilan dalam menerapkan praktik pertanian yang sehat dan berkelanjutan," ujar Sutarsyah.
Taman Baca Dramaga
Taman Baca Dramaga tidak hanya berfungsi sebagai pusat literasi dan sumber informasi, juga menjadi ruang belajar bersama yang integrasikan literasi, pertanian dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui kegiatan panen eco enzyme ini, KWT Betamaca bersama BB Pustaka berharap semakin banyak masyarakat terinspirasi untuk mengolah limbah organik menjadi produk bermanfaat, sekaligus menerapkan teknologi sederhana yang dapat mendukung pertanian ramah lingkungan dan ketahanan pangan keluarga.
Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara komunitas, kelompok tani, dan lembaga pemerintah dapat menghasilkan inovasi sederhana yang berdampak nyata bagi lingkungan, pertanian, dan peningkatan literasi masyarakat. [shinta/timhumas bbpustaka]
Bogor City of West Java [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
