Mahasiswa Keswan Polbangtan Kementan Berbagi Cerita di YouTube: Banyak Tantangan Siapa Takut?
Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s Polbangtan Bogor
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Kota Bogor, Jabar (B2B) - Empat mahasiswa tingkat dua Program Studi (Prodi) Kesehatan Hewan (Keswan) pada Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor (Polbangtan Bogor) membagikan pengalaman inspiratif mereka melalui video bertajuk ´Ceria: Banyak Tantangan, Siapa Takut?´ yang diunggah pada kanal YouTube official kampus pada Senin pekan lalu (23/2).
Keempat mahasiswa/i tersebut adalah Ghina Tilawaty Diennur, Halwa Nur Insan Elhikmah, Alessandro Nesta Kurniawan, dan Muhammad Shidai Faiz Hidayat.
Dalam sesi berbagi tersebut, mereka mengulas perjalanan belajar selama menempuh pendidikan Diploma 3 (D3) Keswan yang penuh tantangan sekaligus pengalaman berharga.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan pendidikan vokasi pertanian, termasuk kesehatan hewan, merupakan kunci memperkuat sistem pertanian nasional.
“Polbangtan harus menjadi motor penggerak pertanian modern. Kita butuh SDM yang adaptif teknologi, disiplin, dan siap menjaga kesehatan hewan sebagai bagian penting dari keamanan pangan nasional. Kesehatan hewan adalah fondasi ketahanan dan swasembada pangan,” katanya.
Senada hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa Polbangtan berperan strategis mencetak tenaga profesional yang tidak hanya terampil, juga berkarakter.
“Kami mendorong mahasiswa untuk tidak hanya unggul secara akademik, juga memiliki kepedulian sosial dan integritas. Integrasi kesehatan hewan dalam sistem pertanian modern menjadi bagian penting mewujudkan pertanian maju, mandiri, dan modern,” katanya.
Polbangtan Bogor
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto mengakui bahwa capaian akreditasi unggul Prodi Keswan merupakan bukti komitmen institusi dalam menjaga mutu pendidikan.
“Status akreditasi Unggul ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis praktik dan kebutuhan industri," katanya.
Mahasiswa Polbangtan Bogor, ungkap Yoyon Haryanto, tidak hanya belajar teori, juga ditempa langsung di lapangan sehingga siap kerja dan siap berwirausaha.
Muhammad Shidai Faiz Hidayat mengaku awalnya mengira perkuliahan hanya berfokus pada biologi hewan secara umum, mamun kenyataannya, materi yang dipelajari jauh lebih luas.
“Kami belajar mulai dari teknik restrain, handling hewan sakit, pengobatan, hingga bagaimana memastikan hewan bisa sembuh dengan baik. Ternyata ilmunya sangat komprehensif,” katanya.
Sementara Alessandro Nesta Kurniawan mengaku terkesan dengan praktikum laboratorium, khususnya saat memeriksa mikroorganisme seperti bakteri dan virus.
“Sering kali kami harus bekerja hingga malam untuk memastikan hasil pengujian akurat. Di situ kami belajar ketelitian dan tanggung jawab,” tuturnya.
Teaching Factory
Pembelajaran di Prodi Kesehatan Hewan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Melalui konsep Teaching Factory (TeFa) mahasiswa terlibat aktif di Klinik Hewan Pendidikan dan Kandang Cinagara.
Di klinik, mereka melakukan physical examination seperti pemeriksaan suhu, turgor kulit, dan capillary refill time (CRT), sekaligus menjaga sanitasi dan sterilisasi ruangan sesuai standar biosecurity dan biosafety.
Mahasiswa juga belajar kewirausahaan melalui pengelolaan pet shop, serta mengasah kemampuan komunikasi dengan klien dan pengelolaan data pasien.
Di kandang, mahasiswa menangani hewan ternak seperti sapi yang mengalami gangguan kesehatan. Praktikum lapangan juga dilakukan di peternakan babi, kebun binatang, hingga praktik pendalaman obat-obatan hewan bersama mitra akademik.
Pengalaman mengambil sampel darah dari sapi melalui vena kokalis maupun ayam melalui vena brakialis menjadi tantangan tersendiri. Risiko tertendang sapi atau hematom pada ayam menjadi bagian dari proses belajar yang melatih keberanian dan ketelitian.
“Menangani kuda bagi kami justru menjadi momen healing. Capeknya hilang ketika melihat hewan itu kembali sehat,” ujar salah satu mahasiswa.
Manajemen Klinik
Selain kompetensi teknis, mahasiswa juga dibekali kemampuan komunikasi, manajemen klinik, serta jiwa kewirausahaan. Bahkan, ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan untuk merawat hewan peliharaan di rumah.
Prodi Kesehatan Hewan juga aktif dalam kegiatan sosial seperti pemberian pakan gratis untuk kucing liar dan vaksinasi rabies gratis setiap tahun.
Edukasi kepada masyarakat tentang bahaya rabies dan pentingnya berhati-hati berinteraksi dengan hewan liar turut menjadi bagian dari pembelajaran.
Di akhir video, para mahasiswa mengajak calon mahasiswa untuk tidak ragu bergabung di Prodi Kesehatan Hewan Polbangtan Bogor. Mereka menegaskan bahwa rasa takut terhadap hewan dapat diatasi melalui pembelajaran yang terarah dan pendampingan dosen yang profesional.
Dengan kurikulum komprehensif yang memadukan teori, praktik lapangan, dan pengembangan soft skill, Prodi Kesehatan Hewan Polbangtan Bogor menjadi pilihan tepat bagi generasi muda yang ingin berkontribusi dalam dunia kesehatan hewan dan ketahanan pangan nasional.
Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) saat ini telah dibuka dan informasi lengkap dapat diakses melalui media sosial resmi Polbangtan Bogor. [wisda/timhumas polbangtanbogor]
Bogor of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
